Strict Standards: Non-static method FeedWordPress::needs_upgrade() should not be called statically in /home/hsufehmi/islam.sufehmi.com/wp-content/plugins/feedwordpress/feedwordpress.php on line 113

Strict Standards: Non-static method FeedWordPress::stale() should not be called statically in /home/hsufehmi/islam.sufehmi.com/wp-content/plugins/feedwordpress/feedwordpress.php on line 179

Strict Standards: Non-static method FeedWordPress::update_requested() should not be called statically in /home/hsufehmi/islam.sufehmi.com/wp-content/plugins/feedwordpress/feedwordpress.php on line 184
Islam @ Sufehmi.com » 2006 » April

Archive for April, 2006

Gokana Teppan

Sunday, April 23rd, 2006

Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/hsufehmi/islam.sufehmi.com/wp-includes/functions-formatting.php on line 83

Saya sudah lama “puasa” makanan Jepang setelah menyadari bahwa sertifikat halal Hoka-Hoka Bento adalah jadi-jadian (alias dibuat sendiri), dan mereka tidak merespons approach dari LPPOM MUI (yang saya tafsirkan sebagai ketiadaan itikad baik dari pihak HokBen).

Tinggal di negara mayoritas muslim, tapi kok mau makan halal saja susah.
Padahal kalau halal, tidak kehilangan customer lama DAN jadi bisa merangkul customer baru. Aneh, kelihatannya kebanyakan orang memang tidak punya naluri bisnis yang bagus. Beberapa perkecualian, seperti Bakmi Gajah Mada, pantas mendapat acungan jempol.

Karena itu saya senang sekali ketika mendapat brosur Gokana Teppan dari istri saya, sebuah restoran Jepang yang telah berhasil menjalani proses uji sertifikasi halal dari LPPOM MUI. Baru tadi malam kami akhirnya bisa mengunjungi cabangnya di Pondok Indah Mall.

Beberapa kesan:

  • Restoran ini terkesan mewah; desain interior bagus, tempat makan untuk setiap meja cukup luas / tidak rapat seperti di fast food.
  • Harganya (setahu saya) tidak berbeda jauh dengan fast food Hoka-Hoka Bento. Juga ada paket express yang hanya Rp 10.000 dan sudah mengenyangkan.
  • Menunya SANGAT bervariasi, lebih variatif daripada HokBen. (cmiiw)
  • Rasa masakannya lebih enak daripada HokBen secara cukup signifikan. Kecuali salad, masih lebih enak salad HokBen, tapi tidak terlalu jauh bedanya.

Bisa delivery DAN meng cover Jakarta. Telponnya 4786.1000
Tapi minimum order Rp 100.000. Jadi, kalau hanya Anda berdua istri, ya harus datang ke salah satu cabangnya. — kabar dari adik saya, terakhir dia pesan dari Gokana Teppan cabang Pondok Indah Mall, ternyata tidak ada minimum order. Well done !

Rekomendasi untuk yang baru:
Paket Gokana 5, untuk chicken teppan nya.

Berikut ini adalah berbagai lokasi cabangnya :

JAKARTA :
# Pondok Indah Mall = Lantai 2, sekumpulan dengan Cafe Betawi dan Timezone. Telp: 765-9630
# Mal Kelapa Gading 1 = Lantai dasar, telp: 452-9540
# Mal Taman Anggrek = Sebelah Timezone, telp: 563-9534
# Mal Puri Indah = Sebelah Casper, telp: 582-2378
# Supermal Karawaci = Sebelah Timezone, telp: 542-11957

BANDUNG:
# Cihampelas Walk = telp: 206-0986

Enjoy.

Diskusi tentang pornografi di Slashdot

Saturday, April 1st, 2006

Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/hsufehmi/islam.sufehmi.com/wp-includes/functions-formatting.php on line 83

Ternyata, di Slahsdot, dimana mayoritas komunitasnya pro-pornografi, justru kita bisa menemukan berbagai komentar yang mencerahkan mengenai hal ini.

Contoh; fakta bahwa manusia yang kita sebut sebagai “anak-anak”, sebetulnya telah dewasa secara fisik:

Young men are reaching sexual maturity before they’re reaching mental maturity. … Oftentimes young parents without the resources or attitude to raise a child give birth and this subsequently results (usually) in an imperfect forced marriage or a child whose parents are not married. In either case, much more stress is placed on the developing youngster than the child needs and this can often lead down the road to delinquency or misbehavior.

Walaupun kesimpulannya berbeda dengan saya - solusinya bukan dengan pornografi, tetapi:
1. Orang tua harus lebih mampu mendidik anak-anaknya. The buck stops at them.
2. Yang paling penting - bagaimana agar anak-anak kita bisa dewasa mentalnya bersamaan / sebelum fisiknya. Tidak seperti sekarang, sudah terlalu sering saya bertemu dengan orang-orang berumur 40 tahun atau lebih, namun kelakuannya masih seperti anak kecil !

Pornografi itu destruktif bagi kebanyakan orang, kesimpulan seorang poster. Dikutip:

However its alot easier to say porn or drugs are the problem, than it is to tell a person how to fill in the emptiness in their lives… thats something a person has to find for themselves.

Every person has needs, wants, and desires that will always need filling. It’s the very floorboards of economics. The question comes down to “How does one fill that hole in their soul?” Hopefully they’ll do it constructively, but the destructive ones tend to be a lot more fun at first, ergo vastly more popular. By the time the negative effects come around, the person may be too far gone to realize it.

The real trick is to learn to understand that we’re creatures of infinite desire, and to begin to think rationally about how to cope with that in a way that won’t destroy us. Many major religions try to fill an infinite hole with an infinite God (at least the ones that profess a god or gods). The ones that don’t profess (a) god(s) try to teach you how to suppress or channel your desire.

Selanjutnya juga kita bisa temukan kisah seseorang yang menjadi korban pornografi - padahal cuma sekedar “penikmat” :

This is not to say that porn itself is responsible for this behavior; as someone commented earlier, porn is just a particularly easy (if destructive) way of filling a gap that sensible folks learn to fill constructively. I alone am responsible for my behavior over the last several years, and the most frustrating thing about it is that it seems so pointless and ridiculous in retrospect. However, to a kid like I was—one to whom simple human interaction and empathy came late and only with much effort, and someone whose sexuality only began to resolve itself quite late (I’m gay)—pornography offered a welcome (though dangerous) release from the huge effort of social contact. It didn’t matter that it inevitably left me feeling dead inside.

Now, it’s a pattern I’m having a hell of a time unlearning; every time something unpleasant happens, my first response is porn, which only makes things worse. In fact, I almost dropped out of school because of it a few years ago. To me, at least, porn has been a trap, which has separated me from reality, and stunted my growth as a sexual and emotional being (I still have yet to be in a real relationship of any kind). I don’t like myself, and that’s sad, because I’m smart and talented and capable of better than this. On more than one occasion, I’ve taken out this frustration with myself on the people that I care about. I wish I hadn’t.

Banyak orang kini bisa kita lihat mengalami kesulitan dalam hubungannya dengan pasangannya. Apakah banyak dari kasus t\ersebut terkait dengan pornografi, saya tidak tahu. Tapi, ini penyebabnya pada kasus diatas, dan saya kira ini bisa menjadi topik disertasi S2 atau S3 yang menarik.

Dan kutipan terakhir ini menyimpulkan apakah pornografi itu secara cukup tepat:

Porn is a trap - it feeds the pleasure centers of the brain, devalues the humanity of the person being used for that pleasure, and damages people’s ability to relate to one another in a healthy way. Real relationships are not self-focused, but must have a significant component of other-focus or they don’t survive.

Mudah-mudahan posting ini bisa menjadi satu kontribusi rasional di tengah-tengah debat kusir emosional mengenai RUU APP.