Strict Standards: Non-static method FeedWordPress::needs_upgrade() should not be called statically in /home/hsufehmi/islam.sufehmi.com/wp-content/plugins/feedwordpress/feedwordpress.php on line 113

Strict Standards: Non-static method FeedWordPress::stale() should not be called statically in /home/hsufehmi/islam.sufehmi.com/wp-content/plugins/feedwordpress/feedwordpress.php on line 179

Strict Standards: Non-static method FeedWordPress::update_requested() should not be called statically in /home/hsufehmi/islam.sufehmi.com/wp-content/plugins/feedwordpress/feedwordpress.php on line 184
Islam @ Sufehmi.com » 2006 » May

Archive for May, 2006

JIL tertangkap basah

Sunday, May 28th, 2006

Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/hsufehmi/islam.sufehmi.com/wp-includes/functions-formatting.php on line 83

JIL (Jaringan Islam Liberal) kembali tertangkap basah melakukan penipuan terhadap umat Islam.

Ceritanya dimulai ketika saya me-reply komentar Fina di sebuah artikel disini. Kemudian saya baru menyadari, bahwa kutipan tersebut sudah dilenyapkan dari artikel aslinya di situs JIL !

Padahal, Gus Dur telah menuntut koran Duta Masyarakat sebesar 100 milyar rupiah, karena mengutip ucapan tersebut, dan dianggap ini cuma fitnah - dan sebagai bukti adalah artikel di situs islamlib.com tersebut yang sudah di edit (yang sebetulnya Gus Dur memang betul mengatakan demikian).

Saya kemudian meluangkan waktu untuk menyelidiki hal ini lebih lanjut.

Saya teliti di archive.org, ternyata mereka belum sempat mengarsip artikel JIL tersebut. Saya coba juga di Google, ternyata mereka telah meng-update artikel tersebut, sehingga copy mereka juga sudah tidak mengandung ucapan dari Gus Dur lagi.

Namun ketika saya search di Yahoo, ternyata arsip artikel IslamLib.com disitu masih menampilkan kutipan Gus Dur yang meledek Al-Quran sebagai kitab paling porno di dunia.

Karena ini akan berubah lagi jika Yahoo telah meng-update database mereka dengan artikel JIL yang terbaru, maka saya segera menyimpan screenshot-nya sebagai bukti.
Bisa dilihat disini.
(kalau gambar di atas hilang, silahkan klik disini)

Kini jelas bahwa modus operandi GD & JIL dalam kasus ini sangat mirip seperti yang dilakukan oleh Tomy Winata versus Bambang Harymurti, yaitu menteror kebebasan pers di Indonesia.

Saya sekarang sedang berusaha mengkontak koran Duta Masyarakat untuk menginformasikan mereka mengenai hal ini. Monggo jika ada yang bisa membantu.

OK JIL, setelah berbagai kelicikan yang Anda lakukan ( [ 1 ] - [ 2 ]), sekarang ini — what’s next ?
Slogan Anda (mencerahkan, membebaskan) sepertinya sudah perlu diganti, karena sudah tidak cocok lagi.

Mengubah artikel sendiri, lalu menuntut orang lain yang mengutipnya - wow, that’s REALLY low.

Playboy dan Kaca pecah

Wednesday, May 24th, 2006

Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/hsufehmi/islam.sufehmi.com/wp-includes/functions-formatting.php on line 83

Di tengah kontroversi Playboy kemarin, kalau ada yang bertanya kenapa Playboy dilarang padahal ‘kan tidak ada gambar wanita telanjang, saya biasanya jawab bahwa Playboy itu adalah simbol. Simbol awal dari kerusakan moral yang lebih parah lagi.

Kalau simbol ini dibiarkan, maka akan jadi bisa terjadi demoralisasi besar-besaran dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya di Indonesia. Karena Playboy adalah simbol besar, dan “terang”/jelas - tidak sembunyi-sembunyi seperti berbagai media pornografi lainnya.
Kalau tidak percaya, kita bisa coba lihat bagaimana Amerika di zaman dahulu sebelum dan sesudah Playboy. Lha baju renang saja masih hampir menutupi seluruh badan :-)
Setelah Playboy muncul, maka barulah revolusi seks, dalam skala yang besar, terjadi di Amerika. Berbagai hal-hal yang sebelumnya tabu di Amerika, kemudian menjadi boleh dan wajar saja.

Analogi lainnya; seperti maling kelas kakap, biasanya tidak langsung jadi sebesar itu. Tentu biasanya telah menjadi maling kelas teri dulu sebelumnya.

Ternyata kemudian saya menemukan sebuah artikel yang membahas mengenai sudut pandang ini dengan lebih elegan lagi, yang berjudul Playboy dan Teori Jendela Pecah

Selamat membaca.

note:

  • Lebih lanjut mengenai teori jendela pecah : [ Broken Windows Theory ]
  • Broken Windows Theory ditantang kebenarannya, karena dianggap bukan pemecah masalah kejahatan di New York, dengan berbagai data-data yang dimunculkan kemudian. Namun yang tidak dibahas di Wikipedia, tidak ada bukti yang membantah bahwa aplikasi Broken Windows Theory adalah penyelesai masalah kejahatan kronis di subway New York.
    Dimana pembuktian pembenaran suatu teori dalam skala besar memang sulit, namun dalam skala yang lebih kecil ini (subway New York), setahu saya kebenaran teori tersebut berhasil dibuktikan dengan cukup sukses.
  • Dan kembali ke analogi maling kelas kakap/teri, saya kira kita semua setuju bahwa jika bibit dimatikan sebelum sempat membesar, maka ya…. tentu saja tidak akan sempat menjadi besar tho ?

Preman berjubah, kampanye FUD ?

Wednesday, May 24th, 2006

Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/hsufehmi/islam.sufehmi.com/wp-includes/functions-formatting.php on line 83

Hari ini saya menerima sebuah email berjudul “Waspadalah !” dari sebuah milis komunitas. Disitu dibahas mengenai kelakuan beberapa preman berjubah, yang menteror wanita-wanita di bus.

Seperti halnya dengan berbagai email berantai lainnya, ada beberapa masalah dengan posting tersebut :

[ 1 ] Tidak ketahuan sanad-nya; urutan periwayatannya tidak tercantum. Sehingga, salah satunya, tidak bisa dirunut sumber berita tersebut

[ 2 ] Karena masalah di poin 1, maka kebenaran berita tersebut juga menjadi sulit untuk dikonfirmasikan

[ 3 ] Kalaupun, misalnya, ternyata kemudian berhasil diverifikasi bahwa berita tersebut benar terjadi; masih tetap perlu diperiksa, siapa para pelaku tersebut.
Apakah memang dari komunitas mesjid kebun jeruk tersebut, atau oknum yang ingin merusak nama Islam / komunitas ybs.

Kemudian saya mendapatkan informasi dari kenalan yang kebetulan tahu betul daerah tersebut. Dari informasinya, sepertinya memang berita tersebut adalah usaha untuk memfitnah komunitas mesjid kebun jeruk dan/atau memfitnah umat islam; terutama yang pro RUU APP.
Berikut adalah kutipan email ybs:

From: global sistem
Subject: Re: [xxx] Waspadalah!

Heheehe

Memangnya pada ga tahu ya ,yang ikut jamaah di Mesjid Kebun jeruk itu memang biasa jadi sasaran untuk di Salahkan….

Karena kenapa ?…. lho itu Mesjid kan kanan kirinya Tempat Maksiat !!!!!belakang dan Depannya juga tempat Maksiat…..

Itu perempuan 2 Perek dan Prostitusi Memang berada di sekitar mereka mulai dari jam 4. 00 sore samapai malam….dan Pagi lagi….

Nah biasanya kalau malam Jum at merka selalu mengadakan Pengajian Bersama dan yang Datang banyak Sekali….

Itu menyebabkan Macet biasanya sampai jam 10 malam , begitu banyaknya yang datang menyebabkan perek 2 yg disana pada RISI dan Sedikit malu ( kebanyakan sudah Kebal ga ada rasa Malu lagi )…. Heheheheh

Nah itu kan membuat perek perek jadi kaga laku…. karena Hidung belang pada Malu mau samperin mereka……dan buat OmSEt Turun Boo…..

Paling yang nulis berita itu…..hehehehehe………
Yang jelas yang BENCI mereka ya GERMONYA, PEREKNYA , HIDUNG BELANGNYA…..DAN PREMAN 2 SITU DEH………

iTU mesjid syukur sudah masuk Cagar Budaya jadi sampai kapanpun tidak bisa di gusur….. dan di teror sama mereka……

pissss

Bagi yang mempunyai informasi lebih lanjut, silahkan bisa memposting komentarnya.

Berikut ini adalah posting asli mengenai preman berjubah tersebut:

Pengen sharing pengalaman saya aja kemaren di atas bus
Kemaren, 27 Maret 2006, seperti biasa saya pulang dari
kerja di RSCM naik bus patas pulang ke kota.
Kebetulan duduk agak depan kanan.
Kira2 di dekat Kwitang, saya yang lagi ngantuk2 kaget
mendengar kegaduhan di baris belakang. Semua penumpang
menengok ke belakang.

Ternyata ada 2 orang bapak2 yang sedang marah2 dan
ngamuk terhadap 3 orang wanita yang duduk bersama di
belakang.
Ketiga wanita ini masih muda, sekitar 25 tahun, duduk
bertiga dengan dandanan mahasiswi, berkaus lengan
pendek dengan celana jeans. Kedua orang yang ngamuk
ini berusia sekitar 40 dan 50 tahun, berbaju jubah
putih panjang bercelana kain longgar, berkumis dan
berjenggot lebat dan menggunakan pici dan surban.
Mereka marah besar dan menuduh ketiga wanita yang
duduk ini melakukan pornoaksi dan membuka aurat mereka,
menyebabkan banyak pria melakukan dosa, dll. Sambil
memarahi mereka dengan campuran bahasa Indonesia, Arab
dll dengan amat kasar dan tak pantas. Terus menerus
mengatakan murtad muted dan pujian pada Yang Di Atas.

Mereka akhirnya mengusir ketiga wanita ini di sekitar
tugu tani ke luar bus. Sampai mereka turun di gang
Petasan ke arah Mesjid Kebun Jeruk , mereka terus
marah2 berdua, saling berdiskusi dengan suara garang
dan keras sehingga terdengar ke seluruh bis, betapa
sudah murtad dan tak bermoralnya Indonesia, betapa
bangssa ini harus dicuci bersih, betapa semua orang
sudah tak bermoral dan harus dikembalikan pada
hakikatnya, dll.

Saya dan penumpang lain terus terang ketakutan juga
melihat kegarangan dua pendekar moral ini. Sesudah
mereka turun, ramai kita bicara, rupanya kata
penumpang ibu2 di sekitarnya, 3 wanita tadi tak
melakukan apa2, hanya masuk di Salemba dari depan ,
melewati kedua bapak itu dan duduk ngobrol bersama,
seperti biasa yang dilakukan orang2 di bus bersama
rekan2nya. Tiba2 kedua bapak ini dari duduk di depan
bergegas ke belakang marah2. Ibu2 di bis hampir semua
merasa aneh, mereka semua rata2 berdandan sama, kaos
lengan pendek, rok atau celana jeans namun mungkin
karena sudah tua dan tak menggugah lagi, shingga
dilepaskan oleh kedua bapak ini.

Ini hanya kesaksian saya yang kebetulan menyaksikan
saja Bayangkan seperti biasa di Patas ke kota ini,
yang naik bisa ber 5-15 orang yang akan ke mesjid kebun
jeruk itu, bagaimana bila mereka terus melakukan hal
ini terhadap setiap perempuan yang menggugah mereka
dan dianggap mereka membuka aurat dan tak bermoral.
Tak lama pasti akan terjadi tindakan main hakim sendiri
Kemarin itu ke 3 wanita itu diusir dari bis, kalau para
penegak moral itu, katakanlah ber 5-10, yang
dimarahi itu sendiri atau berdua, dianggap sengaja
merangsang , siapa yang dapat menjamin tak terjadi
tindakan kekerasan atau malah pelecehan seksual
misalnya Toh logika saya, para wanita itu sudah
dianggap/dipersepsikan sebagai perempuan bukan baik2,
pasti tak ada salahnya dong di”apa apa kan”

Ini Cuma menghimbau aja hati2 pada teman2 wanita yang
naik kendaraan umum. Walau RUU ini masi begitu
kontroversial namun saya menyaksikan tindakan
sewenang2 ini sendiri.
Terima kasih

Losing your faith, the story of a nothing

Thursday, May 4th, 2006

Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/hsufehmi/islam.sufehmi.com/wp-includes/functions-formatting.php on line 83

I’m not much into posting sentimental writings nowadays due to lack of time, however I can’t help it today.
I just managed to stumble upon a blog, that turned out to belong to an old friend of mine in high school. What’s written there is breaking my heart. It’s a story of someone lost (although, thankfully, it seems to be better now). Nothing to believe in. Lack of purpose. The feeling of void in your heart, a blackhole sucking up your life force. Lost of faith in humanity. Loneliness all the way.

It reminded me of a time in my life, just a few decades ago.

I was acutely aware that I’m alone. A small boy. I woke up often at the night, and staring at the wall around me. It seems like it’s going to suck me up, and make me part of it. A wall. Bland, boring, white wall.
My mantra was “I’m nothing”, whispered many times every day. It helps a bit because when you’re nothing, well, there’s nothing less than that isn’t it. I have better than average intelligence according to the psychologist, with IQ of 146. However, that doesn’t help at all.
I didn’t know why I existed. I didn’t know my purpose. I hated it when I woke up in the morning. I can laugh with a small number of people that I could call friends, but when they’re gone, the void returned. My soul is being sucked from inside by the void within.

To be alive was painful. Another mantra was “Enjoy the pain”. It helps a bit. Not much though. Every minute seems like an eternity. Every second it feels like the earth will suddenly open up and swallow you to the darkness below. I didn’t speak much. Books were my escape. It brought me to another world, saved me, albeit temporarily, from my daily torture.
I was humiliated quite often. Or I’d feel ashamed myself, even though others didn’t even realize that I was there. Nobody noticed me usually. This was the life of a nothing.

Now, my mantra is still the same. I still try to avoid attention. But the mantra is now said with an understanding, with humility. I am indeed nothing, compared to so many other great people. What I can do is to strive to follow their path.
My life is now of a struggle. A struggle to become better, to not become other people’s burden whenever possible, to be useful to others.
Clearly, this is a struggle to death. But I welcome that. Even though my bones crackled everytime I put them on the bed, tired and weak. The struggle is different everyday. Sometimes I managed to get over the challenge. Sometimes I lost it. In that case, I try not to mourn, but to learn. Not always successful. But I do try. Although I’m weak. But by God, I’ll try.

I found peace in my prayers, my meditation. When I’m successful, I’m reminded that I’m nothing. Pride is probably the biggest sin there is. And believe me it’s hard even for a nothing not to be proud when in success. When I’m in trouble, I’m comforted by the kind words and the encouragement, and it gives me the strength to get back on my feet. It gives me strength to go on for the rest of the day. It reminds me of my obligations, my responsibilities.
Most importantly, it taught me to be thankful to what I have.

I have eyes. Others are engulfed in darkness. I have arms. Others have to eat with their foot. I have family who love me as I love them. Others are alone, devoid of other human beings, in this world. I can eat clean food. Others have eat from dumpsters. I can hear. Others are drowned in silence. I can see my children grow. Others see their children killed cruelly. I can feel pain. Others destroyed their body parts because they don’t realize that they’re tearing it apart. I live under a roof. Others live under the sky. I can buy medicine when my child is sick. Others have to watch theirs die slowly.
I’m sick a lot of time. But others are sick all the time. Others sucks, are a bunch of egoistical beasts, thinking about themselves all the time. I try not to. I have index finger. Do you know how hard it is to hold things without it ? I have nails. Others have theirs pulled forcefully in tortures. I’m weak. Others can only lay in bed for the rest of their life.
Sometimes I realize how much I have. Many others doesn’t have this luxury.

These are things I tend to forget. I tend to remember things that I don’t have. But when I realize the opposite, suddenly life is not so bad. It’s a hard one, filled with extreme struggles. But it’s okay. That’s life.

I hope my friend will fare well. And others as well. Just don’t give up. Life is a struggle.