Strict Standards: Non-static method FeedWordPress::needs_upgrade() should not be called statically in /home/hsufehmi/islam.sufehmi.com/wp-content/plugins/feedwordpress/feedwordpress.php on line 113

Strict Standards: Non-static method FeedWordPress::stale() should not be called statically in /home/hsufehmi/islam.sufehmi.com/wp-content/plugins/feedwordpress/feedwordpress.php on line 179

Strict Standards: Non-static method FeedWordPress::update_requested() should not be called statically in /home/hsufehmi/islam.sufehmi.com/wp-content/plugins/feedwordpress/feedwordpress.php on line 184
Islam @ Sufehmi.com » 2006 » June

Archive for June, 2006

Daging buatan

Wednesday, June 28th, 2006

Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/hsufehmi/islam.sufehmi.com/wp-includes/functions-formatting.php on line 83

Para ilmuwan kini telah berhasil membuat daging buatan yang bisa dimakan

Komentar pertama saya : uhhhhh…. *muntah* :)

Tapi tidak diragukan lagi, dengan berjalannya waktu, maka bisa jadi daging buatan ini menjadi lebih bagus, bergizi, sehat, enak, dan murah daripada daging betulan. Tapi, saya akan tetap berusaha untuk tidak memakannya :)
Biarlah para astronot pada misi ke Pluto saja yang memakannya, he he.

btw; bagaimana kalau di dalam Islam ya mengenai daging seperti ini, apakah halal, atau haram ?
Thoughts ?

Matahari mengelilingi Bumi

Wednesday, June 21st, 2006

Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/hsufehmi/islam.sufehmi.com/wp-includes/functions-formatting.php on line 83

Salah satu kebahagiaan saya dulu adalah ketika bisa menikmati isi dari berbagai buku. Buku, bagi saya, adalah gerbang ke berbagai dunia lainnya yang, tanpa buku, tidak akan pernah bisa saya ketahui. Walaupun masih SMP, saya mau bersepeda dari Pondok Indah sampai ke daerah Mayestik, agar bisa mendatangi Perpustakaan Jakarta Selatan. Gedung yang sepi itu adalah salah satu tempat dimana saya menemukan kedamaian, dan pencerahan.

Kini saya melihat buku dengan lebih berhati-hati. Terlalu banyak materi yang tidak berkualitas yang entah kenapa berhasil berubah wujud menjadi bentuk buku. Kini, tidak setiap buku mampu memberikan pencerahan kepada Anda.
Salah satunya adalah ini, dicetak dalam edisi lux pula :

Dikutip dari hal 103:

…lalu sejak saat itulah teori ini dianut oleh hampir seluruh manusia - sampaipun kaum muslimin - tanpa berusaha meneliti ulang apakah teori itu benar ataukah tidak.

Entah bagaimana dengan penulis buku ini sendiri, sudahkah ybs sendiri telah berusaha meneliti ulang : apakah penafsiran qur’an nya memang telah tepat & sesuai dengan kenyataan ? Apakah ybs memang sudah berhasil membuktikan secara ilmiah dan konklusif, bahwa memang matahari lah yang mengelilingi bumi ?

Dari yang saya baca, kelihatannya tidak. So, just another case of “do as I say, not as I do” ?

“..sebuah kepastian al-Qur’an..” ? Mbok ya kalau menafsirkan, jangan diakui sebagai kepastian.
Apalagi penafsiran ngawur dari banyak ayat Qur’an, seperti di dalam buku ini. Nanti yang punya kitab sucinya bisa jadi marah kepada sampeyan lho.

Keterangan lengkap:
Judul buku: “Matahari mengelilingi bumi, sebuah kepastian al-Qur’an dan as-Sunnah serta Bantahan terhadap teori bumi mengelilingi matahari”
Pengarang: ahmad sabiq bin abdul lathif abu yusuf
Penerbit: pustaka al-furqon

Catatan dari ceramah Ust. Joban

Wednesday, June 14th, 2006

Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/hsufehmi/islam.sufehmi.com/wp-includes/functions-formatting.php on line 83

Alhamdulillah kemarin saya dapat hadir di acara pengajian Majelis Kajian Khatulistiwa, yang menghadirkan Ust. Muhammad Joban sebagai pengisi acaranya.
Saya datang dengan harapan mendapat wawasan baru, dan saya mendapatkannya banyak sekali alhamdulillah.

Saya datang terlambat sekitar 30 menit di acara tersebut karena jauhnya lokasi dari kediaman saya (Pondok Indah ke daerah Kampung Melayu) dan kesalahan memilih jalan (kemacetan Casablanca di dekat Karet minta ampun betul). Pada saat saya tiba Ust. Joban telah mulai berbicara. Hadirin berlimpah ruah padat sekali, syukurnya saya masih mendapatkan tempat di dalam. Saya segera duduk dan mendengarkan beliau berbagi pengalamannya berdakwah di Amerika.

Berikut ini adalah beberapa yang sempat saya rangkum :

[ 1 ] Hikmah di balik musibah

( a ) Menurut Amazon.com, buku terlaris nomor #1 pasca bencana 9/11 adalah Al-Quran !
( b ) Pasca 9/11, Ust. Joban kebanjiran permintaan sebagai pembicara (baca: berdakwah) di berbagai sekolah, kampus, dan lain-lain. Saking banyaknya, sampai tidak bisa dipenuhi semuanya.
( c ) Pengalaman dihina di depan umum: Beliau pernah diminta untuk membacakan doa di Senat Amerika. Ketika beliau mulai, 2 orang senator walk-out dari lokasi, sebagai protes dan tanda “patriotisme” menolak kehadiran “teroris” di ruang Senat tersebut.
Berita ini menjadi headline, dan Ust. Joban justru jadi mendapat kesempatan berdakwah gratis di media2 massa terbesar di Amerika - CNN, MSNBC, dll menginterview beliau dari pagi sampai malam.
Akibatnya, para senator tersebut kemudian mendapat banjiran kritik dari para pemilihnya. Mereka kemudian bertemu dengan Ust. Joban di sebuah mesjid dan meminta maaf kepada beliau disitu.

Lebih lanjut ….

[ 2 ] Kebenaran Al Quran

( a ) Surat Al-Lahab telah mengatakan bahwa Abu Jahal akan mati sebagai orang kafir, 10 tahun sebelum wafatnya.
Logikanya, cara termudah bagi Abu Jahal untuk menghancurkan Islam adalah dengan pura-pura masuk Islam, dan menyuruh kawan-kawannya mengumumkan “Al-Quran telah berbohong, ternyata Abu Jahal masuk Islam tho”.
Ternyata ini tidak terjadi, karena Al-Quran memang adalah sabda Allah swt.

( b ) Maurice Bucaille dulunya adalah peneliti mumi Fir’aun di Mesir. Pada mumi Ramses II dia menemukan keganjilan, yaitu kandungan garam yang sangat tinggi pada tubuhnya. Dia baru kemudian menemukan jawabannya di Al-Quran, ternyata Ramses II ini adalah Firaun yang dulu ditenggelamkan oleh Allah swt ketika sedang mengejar Nabi Musa as.
Injil & Taurat hanya menyebutkan bahwa Ramses II tenggelam; tetapi hanya Al-Quran yang kemudian menyatakan bahwa mayatnya diselamatkan oleh Allah swt, sehingga bisa menjadi pelajaran bagi kita semua.

Perhatikan bahwa Nabi Muhammad saw hidup 3000 tahun setelah kejadian tersebut, dan tidak ada cara informasi tersebut (selamatnya mayat Ramses II) dapat ditemukan beliau (karena di Injil & Taurat pun tidak disebut). Namun Al-Quran bisa menyebutkannya karena memang firman Allah swt (bukan buatan Nabi Muhammad saw).

Maurice Bucaille kemudian selama berbulan-bulan meneliti Al-Quran untuk mencoba mencari kesalahannya dalam berbagai ayat yang membahas ilmu pengetahuan, tetapi dia gagal. Akhirnya beliau masuk Islam, dan menulis berbagai buku seputar Islam dan Sains.

[ 3 ] Pengalaman berbagai insan menemukan Islam di Amerika

( a ) Ada seseorang yang bernama Carlos. Carlos, sebagaimana banyak orang Amerika lainnya, senang meminum minuman keras. Suatu hari dia menerima Al-Quran dari kawannya, yang kemudian ditaruhnya di atas lemari.
6 bulan kemudian, suatu malam Carlos pulang sehabis mabuk-mabukan di sebuah bar. Ketika sedang beristirahat di bangkunya, matanya tidak sengaja tertumbuk pada sebuah buku di atas lemarinya. “Eh, apa itu?”, pikirnya sambil meraih buku tersebut.

Buku tersebut ternyata adalah Al-Quran yang ditaruhnya sendiri disitu 6 bulan yang lalu.
Ketika dibukanya, yang terbaca pertama kali olehnya ternyata adalah ayat yang membahas siksaan kepada para peminum minuman keras. Tentu saja kaget Carlos jadinya, namun sekaligus juga jadi muncul perasaan ingin tahu. Kebetulan, Carlos ternyata senang membaca buku.

Semakin lama dibaca Al-Quran, makin tertariklah hatinya.
Akhirnya dia tidak tahan lagi, dan memutuskan untuk mendatangi sebuah mesjid, dengan harapan bisa mendapatkan bimbingan lebih lanjut.

Kebetulan Carlos tiba di mesjid pada hari Jumat, dan bertepatan pada sujud terakhir di acara sholat Jumat disitu. Karena ramainya, jamaah membludak bahkan sampai ke pelataran parkir mesjid. Karena itu Carlos melihat para jamaah yang dahinya penuh debu setelah sujud di tanah.
Alangkah kagetnya dia, karena dia pernah membaca sebuah ayat Injil, dimana Nabi Isa as memerintahkan pengikutnya untuk sujud sampai dahi mereka berdebu. Sedangkan ritual Kristen sehari-harinya pada saat ini jelas tidak memungkinkan itu untuk terjadi (duduk di gereja), namun ternyata malah dilakukan oleh umat Islam ini.

Setelah dibimbing, kemudian Carlos menyatakan keislamannya di hadapan Ust. Joban, dan menjadi muslim yang sangat taat.

Suatu hari Ust. Joban ditelpon oleh Carlos. “Ustadz, kalau sudah Islam, apakah berarti kita harus menjauh dari orang tua kita yang masih musyrik ?”, tanyanya melalui telpon. Ust. Joban kemudian menjelaskan bahwa seorang muslim punya kewajiban untuk bertindak dengan baik kepada kedua orang tuanya, apa pun agamanya.
Carlos menjadi sangat gembira. Ternyata, dia baru saja mendapat kabar bahwa ibunya sedang sakit, padahal beliau hidup sendirian. Maka dia pamit kepada beliau, dan langsung terbang ke rumah ibunya, yang jauhnya menyebabkan penerbangan tersebut memakan waktu 3 jam.

Setibanya disana ibunya kaget, “Hah, kenapa kamu sekarang ikut agama teroris itu??”, jelas terasa kebingungan ibunya. Carlos paham bahwa ibunya hanya korban dari propaganda di media massa Amerika. Maka dia tidak tersinggung sama sekali, dan selama 2 minggu berbakti dengan baik kepada ibunya yang sedang sakit, tanpa menyinggung soal Islam sama sekali.

Setelah 2 minggu berlalu ibunya kemudian bertanya kepada Carlos, “Kenapa kamu baik sekali kepada saya? Sedangkan 2 saudara kamu yang lain saja tidak mau datang menjenguk ibu. Alih-alih mengurus ibu sampai selama ini”. Maka Carlos kemudian menjelaskan, bahwa setelah kewajiban kepada Allah swt, berikutnya adalah berbakti kepada orang tua. Ridha Allah swt tidak akan bisa diterima jika tidak ada ridha orang tua.

Malam itu Ust. Joban menerima telpon dari Carlos yang histeris. Sempat prihatin beliau, apakah ibunda Carlos akhirnya meninggal, setelah menderita sakit selama 2 minggu ini.
Ternyata, ibu Carlos baru saja menyatakan keislamannya. Carlos tentu saja sangat bahagia karenanya, dan langsung mengabarkannya kepada Ust. Joban. Alhamdulillahi rabbil ‘alamin.

“Tapi bagaimana ini ustadz, ibu saya sedang sakit, jadi susah untuk shalat”, tanya Carlos. “Oh tidak apa, beliau sholat saja sambil duduk”, jawab Ust. Joban. Dengan gembira Carlos kemudian menyampaikan itu kepada ibunya.

Kemudian ibu Carlos mendapat kesempatan untuk naik haji, dan setelahnya beliau dipanggil kembali ke haribaan Allah swt. Carlos merasa sedih dan gembira; sedih karena ditinggal ibunda yang disayanginya, dan juga gembira karena beliau masih sempat menikmati agama Islam. Alhamdulillah.

( b ) Para mualaf yang kritis : Ada seorang anak muda yang minta diajari sholat kepada Ust. Joban.
Maka beliau kemudian menyuruhnya mengikuti beliau. “Allaahu akbar”, kata beliau sambil mengangkat tangannya.

“Allaahu akbar… eh, kenapa shalat itu musti angkat tangan dulu ?”, tanya mualaf tadi.

“Begini, kalau kamu ditodong orang, apa yang akan kamu lakukan?”, tanya Ust. Joban

“Ya, saya akan angkat tangan. Saya menyerah”, jawab si mualaf

“Nah, itu juga alasannya kenapa kita mengangkat tangan kita ketika memulai shalat”, tutur Ust. Joban. “Kita nyatakan dulu, bahwa telah menyerah kepada Rajanya para raja, penguasa alam semesta ini. Maka kita angkat tangan kita, sambil mengucapkan takbir”.

Terus terang, seumur hidup saya, belum pernah saya mempertanyakan kenapa shalat itu diawal dengan mengangkat tangan :)
Amazing & refreshing indeed, the perspective of these newcomers.

( c ) Malcolm X : Salah satu tokoh Nation of Islam (NoS), sekte yang menyimpang dari Islam karena keyakinan2nya seperti “God is Black”, orang kulit putih karenanya adalah Setan, dst. Islam dimanfaatkan menjadi kuda tunggangan Elijah Muhammad (pendiri NoS) untuk “kebangkitan” orang hitam.
Perubahan Malcolm X terjadi ketika beliau naik haji ke Saudi Arabia. Disitu beliau melihat bagaimana Islam ternyata adalah pelangi - orang dengan bermacam warna kulit sama-sama beragama Islam. Kemudian terjadi hal yang membuatnya terhenyak - ketika di Arafah dia minum dan meletakkan gelasnya, kemudian seorang kulit putih tanpa ragu minum air dari gelas bekasnya itu juga.

Perlu kita ingat bahwa Amerika ketika itu masih sangat rasis. Posisi duduk orang hitam berbeda di bis, toilet orang hitam juga dipisahkan dari toilet orang putih. Rasa persamaan yang luar biasa sampai orang kulit putih bisa tanpa ragu meminum air dari gelas bekas orang hitam adalah sesuatu yang tidak mungkin terjadi ketika itu.

Maka Malcolm X kemudian berkesimpulan bahwa Islam adalah agama untuk semua orang, bukan untuk orang hitam saja.
Beliau kemudian mendakwahkan Islam yang benar kepada kaumnya. Kemudian beliau tewas dibunuh, seperti juga nasib dari tiga orator ulung Amerika lainnya zaman tersebut - Martin Luther King, dan John. F. Kennedy. Innalillahi wa inna ilaihi roji’un.

[ 4 ] Menemukan kenikmatan beragama Islam

( a ) Jika kita tinggal di sebuah gedung yang mewah, lama-kelamaan kita akan merasa biasa saja disitu. Pada saat tersebut, kita akan bingung jika kemudian ada orang yang berkomentar mengenai keindahan gedung tersebut. (apa iya bagus seperti itu ?)

Inilah analogi dari muslim yang Islam KTP (seperti saya). Karena kita telah berada di dalam “gedung” Islam sejak kita lahir, maka kita tidak lagi menyadari bagaimana keindahannya.
Ketika kita mendengar komentar-komentar dari non-muslim / mualaf, baru kita menyadari kembali bagaimana indahnya Islam itu.

( b ) Ust. Joban dengan terus terang mengaku bahwa beliau juga dapat makin menikmati Islam setelah pindah ke Amerika. Dahulu di Mesir sudah hafal Quran dan hadits, tapi memahami dan menikmati Islam adalah setelah tiba di Amerika. Demikian pula pengalaman beberapa kawan-kawan beliau disana.

( c ) Ust. Joban memberikan tips untuk dapat mulai memahami (sehingga kemudian jadi bisa menikmati) agama ini : baca Al-Quran dengan terjemahannya.
Saya bisa turut menyarankan untuk membaca juga buku Asbabun Nuzul (sebab turunnya suatu ayat), sehingga kita makin paham mengenai ayat-ayat yang kita baca.
Asbabun Nuzul adalah salah satu buku Islam yang paling menarik yang pernah saya baca, mungkin juga karena minat saya pada bidang sejarah Islam.

( d ) Abu Dzar ra pernah bercerita pengalamannya menjadi makmum di sholatnya Nabi saw.
Rasulullah saw di rakaat pertamanya membaca surat Al-Baqarah dari awal. Terus beliau membacanya sampai ratusan ayat. “Oh mungkin beliau akan sujud pada ayat yang ke dua ratus”, demikian pikir Abu Dzar. Ketika tiba di ayat 200 dan ada jeda, Abu Dzar bersiap untuk ruku’.
Ternyata, Nabi saw meneruskan bacaannya.

Maka Abu Dzar membatalkan ruku’nya. “Oh mungkin beliau akan ruku’ setelah surat Al-Baqarah ini selesai”, demikian pikir Abu Dzar berikutnya. Maka setelah surat Al-Baqarah selesai (286 ayat), Abu Dzar kembali bersiap untuk ruku’.
Ternyata, Nabi saw meneruskan membaca surat Ali Imran…. “Alif laam miim…”

Maka Abu Dzar membatalkan ruku’nya. “Oh mungkin beliau akan ruku’ setelah selesai surat Ali Imran”, kemudian pikir Abu Dzar. Maka ketika Nabi saw selesai membaca surat Ali Imran (200 ayat), Abu Dzar kembali bersiap untuk ruku’
Ternyata, Nabi saw meneruskan membaca surat An-Nisa…. “Yaa ayyuhan naasut taquu rabbakumulladzii…”

Akhirnya setelah surat An Nisa selesai dibaca (176 ayat), Nabi saw bertakbir, “Allaahu akbar” dan ruku’. Maka Abu Dzar mengikutinya.

“Dan ruku’nya Nabi saw hampir sama lamanya dengan berdirinya”, kata Abu Dzar; dimana pada berdiri di rakaat pertama tersebut Nabi saw membaca 286 + 200 + 176 ayat = 762 ayat.

Benar-benar tidak terbayangkan… darimana datangnya kekuatan untuk beribadah seperti ini? Jawabannya adalah ketika kenikmatan beragama telah berhasil kita dapatkan dan rasakan. Ketika kita menyenangi sesuatu, maka kelelahan dan waktu tidak bisa menghalangi kita untuk melakukannya.
Demikian pula mengenai agama.


Inilah beberapa yang sempat saya catat, dari sekian banyak yang dibagi oleh beliau kepada para hadirin di saat itu.
Terimakasih banyak kepada akhi Geis Chalifah untuk undangannya.

Berikutnya, pembicara di acara bulan depan pada majelis ini adalah Ust. Abu Bakar Ba’asyir :) kesempatan untuk mendengar langsung dari ulama yang banyak difitnah ini. Mudah-mudahan saya bisa mendapat kesempatan untuk datang lagi.

Ustadz Joban @ Jakarta : Perkembangan Islam di Amerika

Monday, June 12th, 2006

Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/hsufehmi/islam.sufehmi.com/wp-includes/functions-formatting.php on line 83

Pagi ini mendapat email undangan dari milis internal Isnet :

From: Geis Chalifah
Subject: [Mus-lim] Undangan Diskusi dengan Ustadz Muhammad Joban.

Majelis Kajian Khatulistiwa Mengundang anda pada hari Rabu 14 Juni 2006 jam 19.30 s/d selesai. Jalan Pedati Raya No 8 Jakarta Timur.. Penceramah Ustadz Muhammad Joban. Thema: Perkembangan Islam di Amerika.

Berikut ini adalah sebuah artikel mengenai Ustadz Muhammad Joban :

Da’i asal Indonesia spesialis narapidana di Washington, Ustad Muhammad Awod Joban
Sumber: Majalah Suara Hidayatullah (http://www.hidayatullah.com)

Islam Bangkit Juga di Penjara-penjara Amerika Dihitung-hitung, sudah hampir 12 tahun Muhammad Awod Joban bergaul erat dengan para narapidana di berbagai penjara negara bagian Washington, Amerika Serikat. Dua belas tahun! Subhaanallaah.

Salah satunya merupakan diantara yang paling angker di seluruh negeri itu, yaitu komplek penjara di pulau McNeil, dekat kota Olympia. Namanya McNeil Island Corrections Center (MICC). Mirip dengan penjara Alcatraz di seberang San Fransisco. Segala jenis penjahat dan gangster sudah pernah dihadapi pria asal Purwakarta, Jawa Barat ini. Agaknya belasan tahun itu hampir tak terasa lamanya, karena pekerjaan da’wah kepada para narapidana begitu dia nikmati. “Sekitar 80% narapidana yang keluar dari penjara akan kembali lagi ke penjara. Kecuali yang Muslim,” kata lelaki kelahiran 2 Juni 1952 ini. Bahkan sampai ia menamatkan studi masternya di Universitas Al-Azhar, Kairo, tahun 1975, pikiran untuk berkonsentrasi di penjara-penjara Amerika belum terbetik sedikitpun di benaknya. Niat awalnya merantau ke Amerika sama dengan banyak orang Indonesia lainnya, melanjutkan sekolah.

Selepas dari universitas tertua di Mesir itu Joban mendapat pekerjaan sebagai penyiar Radio Kairo suara Indonesia selama lima tahun. “Meski disiarkan di Mesir namun siarannya didengar juga oleh masyarakat kita Indonesia,” kenang Joban. Saat asyik siaran radio Joban berjumpa dengan Amien Rais yang sedang melakukan riset untuk tesisnya tentang Al-Ikhwanul Muslimin. “Pak Amien sempat tinggal dua tahun di Kairo dan sering ikut pengajian di sana. Di situlah saya sering ketemu dia. Pak Amien menyarankan saya meneruskan kuliah ke Universitas Chicago (almamaternya Amien Rais),” kenang suami Moeti Amrina ini. Atas saran itu, pada tahun 1989 Joban kemudian hijrah ke Amerika. “Waktu itu saya berencana mengambil PhD di bidang Islamic Studies di Chicago,” kata Joban. Allah berkehendak lain. Sesampai di Amerika, Joban tidak bisa langsung kuliah, karena tersandung biaya yang tinggi. “Sampai di sini saya baru tahu, kalau kita tidak punya greencard (izin tinggal permanen) maka biaya hidupnya besar.” Meski begitu Joban tidak buru-buru pulang. “Saya fikir, daripada saya pulang, saya memutuskan untuk mencari biaya sekaligus menghabiskan visa saya selama setahun di sini.”

Dalam masa penantian itu, kawan lamanya di Al-Azhar, seorang Muslim Campa (Kamboja) menyarankan Joban pergi ke masjid An-Nur, milik jama’ah Campa di kota Olympia, negara bagian Washington. Masjid itu punya jama’ah tapi tidak punya imam. Alhasil Joban lantas diangkat sebagai imam di masjid tersebut. Kehadiran Joban disambut gembira masyarakat Campa, karena telah mengembalikan mereka kepada Islam. “Sebelumnya mereka sudah lupa mengaji dan lupa macam-macam ilmu agama. Anaknya sudah dibesarkan dengan cara Amerika,” Joban mengenang.

Dua tahun kemudian ada pengumuman di Islamic Center setempat, penjara di negara bagian itu membutuhkan tenaga chaplain, yakni imam atau pembina ruhani bagi para narapidana (napi). “Meski di Amerika ini tidak ada departemen agama-karena Amerika negara sekuler-namun berbagai instansi, pemerintah Amerika hampir selalu menyediakan tenaga chaplain. Ada Muslim Chaplain, Christian Chaplain, Catholic Chaplain, dan lain-lain,” jelas Joban. Mula-mula Joban bertugas di penjara Monroe, yang jaraknya sekitar dua jam perjalanan mobil dari Olympia. Ia kemudian mendapat tugas pula menjadi pembina ruhani di sebuah penjara di pulau Mc Neil di dekat Tacoma. Seperti dijelaskan Joban, penjara in agak mengerikan, “Karena penjara ini terletak di sebuah pulau-seperti penjara Alcatraz di California yang terkenal itu- maka penghuninya hampir tak mungkin melarikan diri. Penghuninya kelas berat semua. Diantaranya pembunuh yang dihukum tiga puluh tahun sampai empat puluh tahun.” Seperti belum cukup, ia juga mengambil tugas serupa di penjara transit bernama Shelton Correction Center. “Penjara ini tempat transit napi dari mana-mana. Ada juga yang tinggal di situ. Semuanya ada sekitar 3000 napi. Saking banyaknya sel di sana, dari satu tempat ke tempat yang lain harus lewat terowongan di bawah penjara.” Karena penjara transit itu, tempat itu justeru subur untuk berda’wah. Setelah dida’wahi di situ tiga sampai empat bulan, mereka dikirim ke tempat-tempat lain, lalu digantikan oleh napi lain. Tentu banyak pengalaman menarik berda’wah di ’sarang’ para gangster Amerika itu. Misalnya saja, Joban menemukan fenomena menarik bahwa da’wah yang paling efektif di penjara adalah da’wah yang justru dilakukan oleh para napi kepada napi lainnya. Kenapa bisa begitu? Jawabannya bisa Anda dapatkan dalam perbincangan antara Joban dengan Kasman Harun, kontributor majalah Suara Hidayatullah di Amerika. Perbincangan mereka lakukan di sela-sela Muktamar Indonesian Muslim Students Association (IMSA) belum lama ini di Hotel Holiday Inn Columbia, Missouri. Petikan perbincangan keduanya bisa Anda ikuti di bawah ini. Selamat menikmati.

Bagaimana Anda mengatur jadual da’wah antara penjara dan masyarakat biasa?

Penjara di negara bagian Washington ini semakin banyak. Kalau harus saya layani semua, takkan ada waktu lagi untuk masyarakat. Alhamdulillah saya kemudian punya sejumlah asisten chaplain. Salah seorang di antaranya bernama Amir Abdul Matin. Dia orang Amerika yang masuk Islam di penjara. Setelah keluar dari penjara, masya Allah, ia malah lebih hebat. Sekarang ia sudah jadi chaplain di sebuah penjara perempuan. Asisten lain saya bernama Thohir, orang Kenya. Jadi sebetulnya perkembangan da’wah Islam di penjara ini pesat sekali. Kita justeru sering kewalahan melayaninya. Sekarang ada beberapa penjara yang kekurangan tenaga pembimbing ruhani karena jauh dari masyarakat Muslim, seperti yang terjadi di Spokane. Kami sulit kita ke sana karena harus berkendaraan dengan jarak jauh. Padahal Correctional Center-nya sudah siap membiayai.

Apa saja kegiatan pembimbing ruhani di penjara itu, apakah harus tinggal di dalamnya, lalu ceramah setiap hari?

Karena saya punya kesibukan juga di masyarakat maka tugas ceramah di penjara saya gilir. Ada giliran untuk masjid dan ada giliran untuk penjara. Penjara Shelton Correctional Center saya datangi sebulan sekali.

Selama di penjara ada waktu khusus untuk ceramah?

Ya, kegiatan rutinnya ada jatah waktu. Misalnya di penjara Pulau Mc Neil, pertama diberi kesempatan untuk ketemu dengan orang yang dipenjara dengan hukuman maksimum. Dengan orang demikian ini sistemnya one to one (satu orang imam menghadapi satu orang napi). Penjagaan keamanannya pun maksimun, kami bicara melalui sebuah lubang saja. Penjara seperti itu biasanya dikhususkan bagi napi yang dianggap sulit dikontrol dan suka membuat kegaduhan. Orang yang demikian di dalam maupun di luar sel selalu tetap diborgol. Pertemuan berikutnya menggunakan sistem kelas. Biasanya kegiatan ini dimulai dengan shalat Maghrib berjama’ah. Sebelumnya di dapur sudah ada pengumuman: Bible Studies di ruang A, Islamic Studies di ruang B, dan seterusnya. Dan setiap orang boleh datang asal mendaftar. Yang datang bisa 20. 30, 40, ataupun 50. Banyak orang Amerika yang sudah tahu Bibel (Injil), sehingga terkadang mereka ingin tahu kajian agama lain. Jadi orang non-Muslim boleh ikut Islamic Studies asalkan mendaftar dulu. Bagi yang sudah tahu banyak tentang dasar-dasar keislaman biasanya ikut kelas ‘advance’ (lanjutan) pada jam kedua, pelajarannya antara lain studi tafsir.

Perubahan apa yang mereka alami setelah masuk Islam?

Ada seorang napi kulit hitam, dulu namanya Smith, sekarang namanya Lukman. Orangnya seperti Mike Tyson. Sebelum masuk Islam dia di penjara Walawala, penjara untuk napi kelas berat, seperti penjara Nusakambangan-lah kalau di Indonesia. Dia dipenjara seumur hidup karena pembunuhan. Dulu dia orang yang temperamental. Kalau tidak senang pada seseorang main hajar saja. Kalau tidak suka pada makanan, akan dilempar olehnya. Makanya dia harus dikawal terus. Tapi setelah masuk Islam luar biasa perubahannya. Semua orang kaget, karena dia menjadi sangat sopan. Makanya dia kemudian dipindahkan ke penjara Monroe. Lukman dulu seorang ketua geng, sehinga kemudian jadi orang yang sangat berpengaruh dalam da’wah di penjara. Sebelum saya bertugas di penjara Monroe, saya sering ketemu napi yang masuk Islam. Saya tanya, “Kenapa kamu masuk Islam?” “Karena Lukman,” kata mereka. Ceritanya, Lukman -dan juga orang Amerika pada umumnya- senang kalau diterangkan fadhilah-fadhilah, atau keutamaan-keutamaan, misalnya keutamaan shalat malam (tahajud). Pernah saya sampaikan pada Lukman tentang fadhilah shalat malam. Dia senang sekali mendapatkan fadhilah itu. Dan sejak itu dia tak pernah sekalipun meninggalkan shalat malam. Bangun jam tiga sampai subuh. Pengaruhnya luar biasa. Ada seorang napi kulit putih yang sekamar dengan dia. Setelah tiga bulan rupanya si napi ini penasaran melihat perilaku Lukman. Ditanyalah Lukman, “Exercise (latihan olahraga) apa yang kamu lakukan tiap malam?” “Ini bukan exercise, tapi praying (shalat). Jesus (Nabi Isa) juga shalatnya begini ini,” kata Lukman. “Lalu apa ini yang kamu baca?” tanyanya lagi. “Ini kitab suci Al-Qur’an,” kata Lukman. “Boleh saya baca?” “Boleh, silakan,” kata Lukman. Lukman setiap hari Senin pergi ke Monroe untuk mengikuti ceramah saya. “Kita punya guru agama dari Indonesia,” kata Lukman sambil mengajak si Napi kulit putih itu ikut kajian Islam. Ternyata dia mau. Hampir tiap Senin dia datang. Namanya John, orang Amerika. Sewaktu membawa jama’ah haji ke tanah suci, saya sempat tiga bulan tida a k datang ke Monroe. Ketika saya ke Monroe lagi, saya lihat John ada di kelas itu. Tapi sudah pakai kopiah, pertanda dia sudah masuk Islam. Saya sapa dia,”Apa kabar John?” “No, no,no. Nama saya bukan itu lagi. Nama saya sekarang adalah Salman,” katanya. Alhamdulillah dia dapat hidayah melalui shalat malamnya Lukman.

Bagaimana kondisi penjara di Amerika?

Di Amerika ini penjara seperti hotel. Semua fasilitas ada. Anda mau mengambil studi PhD dari penjara juga bisa. Mau ke perpustakaan lengkap. Mau olahraga apalagi. Jadi kalau Anda masuk ke sana seperti tidak di penjara. Seperti kampus saja. Ada nomornya, ada kamarnya. Kalau makanan tidak enak, napi bisa demonstrasi. Semua napi -di Amerika disebut inmates- diperlakukan sama tanpa diskriminasi. Itulah kenapa saya bilang, nilai-nilai Islam kok lebih banyak saya temukan di Amerika. Masyarakat di sini cenderung lebih ‘Islami’. Di penjara di Amerika semuanya enak. Makanan enak, tempat tidur enak. Saking enaknya, lebih enak jadi narapidana daripada jadi tunawisma. Seorang tunawisma, karena tak punya rumah, akan mengalami kedinginan di musim salju. Karena itu jadi wajar jika ada tunawisma sengaja mencuri supaya masuk penjara.

Selama berinteraksi dengan napi, ada pengalaman yanag mengesankan?

Banyak. Karena dekatnya hubungan kami, setelah mereka keluar penjara kami masih sering kumpul. Sekarang ini ada di antara mereka yang tinggal di Olympia dan ada yang tinggal di Seattle. Setiap Sabtu dia datang ke tempat kami. Suasananya lebih semarak lagi pada bulan Ramadhan. Di bulan puasa ini para napi biasanya buat reuni.

Kalau bekas napi sering kumpul, jangan-jangan malah kambuh lagi kejahatannya?

Ada kemungkinan begitu. Dulu ketika saya baru bertugas di sini hanya ada empat penjara besar. Kini ada 12 penjara. Artinya jumlah napi semakin banyak, sehingga penjara yang ada tak mampu menampungnya. Yang membuat parah kondisi itu, 80% napi yang sudah keluar akan masuk penjara lagi, karena berbuat kejahatan lagi. Kecuali mereka yang masuk Islam, sedikit saja napi Muslim yang masuk penjara kembali.

Apa pertanyaan yang paling banyak ditanyakan oleh napi kepada Anda?

Tergantung zamannya. Kalau sekarang-sekarang ini kebanyakan masalah Islam dan terorisme. Juga masalah Islam dan wanita. Dan isu-isu yang diangkat banyak oleh media. Tapi kalau dalam suasana tenang mereka banyak bertanya tentang nabi Isa. Pertanyaan yang sering diungkap antara lain, “Siapakah Muhammad itu? Bagaimana dia bisa menjadi seorang nabi? Bagaimana ceritanya?” Kemudian tentang Al-Qur’an, mereka bertanya “Bagaimana Qur’an diturunkan kepada Muhammad, apa isinya?” Yang menarik, para napi ini -dan juga orang Amerika pada umumnya- kalau kita kasih Qur’an, umumnya mereka melihat indeks. Mereka mencari perihal Yesus. Mereka ingin tahu, apa yang Islam katakan tentang Jesus. Tapi sebetulnya yang membuat mereka tertarik pertama-tama adalah karena ketemu dengan Muslim.

Jadi faktor pribadi sangat berpengaruh dalam kegiatan da’wah di penjara ya?

Ya, faktor pribadi-lah yang paling menarik mereka masuk Islam. Para napi yang Muslim inilah yang berperan penting menda’wahi napi lainnya. Sebab mereka kan setiap hari tinggal di situ, sedangkan saya hanya sepekan dua kali. Mereka sama-sama orang Amerika, bahasanya sama, pengalamannya serupa, sama-sama pernah terlibat perkara pidana kriminal. Sehingga kalau berlangsung da’wah di antara sesama napi jadi sangat efektif. Lewat interaksi itu mereka bisa menda’wahi napi yang belum beragama Islam. Pengaruh itu semakin mendapat momentum pada bulan Ramadhan. Di bulan ini yang masuk Islam bertambah banyak sekali karena ibadah napi Muslim nampak sekali pada bulan tersebut. Pada jam tiga pagi mereka beramai-ramai bangun kemudian mengenakan kopiah dan jalan menuju tempat sahur di penjara. Lalu mereka membaca Al-Qur’an sampai satu juz setiap hari. Ketika napi-napi lain makan pagi dan makan siang, para napi Muslim tidak makan. Mereka baru makan setelah buka puasa. Pada bulan puasa, para napi Muslim juga sangat menghindari bicara kotor. Padahal di Amerika ini kan orang sangat biasa bicara kotor. Sehingga ketika melihat seseorang itu omongannya baik, napi lain jadi tertarik. “Dia orang bersih. Saya ingin seperti dia,” komentar yang lain.

Anda pernah mengalami kekerasan secara fisik ketika berhubungan dengan napi, dipukul atau bersitegang misalnya?

Alhamdulillah di Amerika ini keamanan penjaranya relatif baik. Dan Alhamdulillah saya sendiri belum pernah mengalami kejadian serius yang mengancam saya. Kalau antar napi dengan napi sering terjadi. Sehabis peristiwa 11 September ada peristiwa menarik. Demi keselamatan, para napi Muslim diamankan dari yang lain. Sebelumnya ada satu napi Muslim yang badannya besar dikeroyok sepuluh orang. Tapi karena dia jago tinju, dia bisa lawan mereka semua.

Ada perasaan takut atau was-was ketika bertemu dengan napi, khususnya mereka yang dihukum berat?

Alhamdulillah tidak ada. Yang kasar ada, tapi biasanya cuma ya sekedar ngomong doang. Misalnya ketika ramai-ramai perang teluk, ada yang panggil saya, “Hai Saddam!”

Busana apa yang Anda pakai saat bertugas sebagai pembimbing ruhani di penjara?

Ya seperti inilah, pakai kopiah. Bila hari Jum’at kadang saya pakai baju Pakistan (gamis panjang).

Jadwal kunjungan dan acara di penjara, itu diatur oleh pengelola penjara atau oleh Anda sendiri?

Pengelola penjara yang mengatur. Misalnya saya di McNeil diberi jatah 32 jam, di Shelton 16 jam, maka tinggal kemudian saya menyesuaikan diri untuk menggilir. Saya harus tahu kapan waktu-waktu yang tepat buat ketemu napi, karena di penjara itu kan para napi bekerja. Jadi penjara di Amerika ini seperti pabrik. Mereka bekerja dan dapat gaji, hanya gajinya kecil. Tapi bagi napi itu lebih baik daripada dia menganggur. Mungkin sekarang Anda banyak menerima tawaran menggiurkan bekerja di luar penjara.

Tapi mengapa Anda tetap bertahan di posisi ini?

Memang betul, sekarang ini banyak tawaran menggiurkan untuk saya. Di berbagai masjid banyak lowongan tersedia untuk menjadi imam dengan gaji besar, apalagi kalau di kota besar seperti New York. Masalahnya di sini (di Seattle) jarang ada tenaga ahli agama Islam. Juga jarang orang Amerika yang bisa mengajarkan Islam. Padahal sekarang banyak orang yang ingin belajar Islam, terutama setelah peristiwa 11 September. Saya tidak tega untuk meninggalkan mereka yang di penjara ini.

Ada rencana untuk kembali ke Indonesia?

Ada, mungkin sepuluh tahun lagi.

Dari tiga kota: Jakarta, Kairo, Seattle, mana yang menimbulkan kesan paling dalam bagi Anda?

Ya di Amerika inilah, khususnya di Seattle. Saya menemukan Islam di sini. Di sini Saya bisa menimba ilmu dan mengamalkannya. Di sini ini kalau ada orang Amerika masuk Islam, mereka serius sekali. Baru mengenal beberapa ayat Al-Qur’an sudah langsung dijalankan. Mereka jadi seperti Al-Qur’an berjalan. Ada seorang mualaf namanya Jalaluddin. Setiap hari dia berkendara dari Olympia ke Seattle, hanya untuk belajar Islam. Suatu waktu dia bilang dia ingin menikah dengan Muslimah Indonesia. Jalaluddin ini orang bule asli keturunan Jerman. Kebetulan ada kawan perempuan istri saya, teman waktu sekolah di Bandung dulu. Saya kenalkan dia dengan Jalaludin. Setelah saling kirim data akhirnya mereka saling setuju untuk menikah. Jalaluddin ini fenomena yang mengagumkan, masya Allah. Saya tidak bisa mengantar dia ke Bandung, sehingga dia datang sendirian ke Indonesia. Sebelum menikah dia tinggal sekitar sepekan di rumah mertua saya di Bandung, untuk melakukan persiapan. Jalaluddin punya kebiasaan berdzikir ba’da shalat Maghrib hingga masuk waktu shalat Isya. Dia dzikir di mushalla. Kebetulan di rumah mertua saya ada mushalla. Mertua saya bertanya, “Kamu kok kalau dzikir nikmat sekali?” Dia bilang, “Saya ini dulu suka minum alkohol, suka mengganja, suka fly. Sekarang saya juga bisa fly, tapi dengan cara dzikir. Alaa bi-dzikrillah tathmainul qulub (Ketahuilah, bahwa dengan berdzikir/mengingat Allah, hati menjadi tenang).”

Lalu bagaimana pernikahan mereka?

Nah, saat dinikahkan di Haurgelis, Bandung, Jalaluddin menolak duduk bersanding. Padahal adat di berbagai tempat ‘kan pengantin biasa bersanding di pelaminan. Dia ingin duduknya dipisah dengan pengantin wanita. Kata dia, “Kita ini masuk Islam untuk meninggalkan jahiliyah.” Akhirnya pelaminan dipisah. Begitu juga tamu perempuan dan laki-laki terpisah. Selama tinggal sementara di rumah mertuanya, dia jadi sosok perhatian orang sekitar, karena begitu mendengar adzan dia langsung ke masjid. Untuk pergi ke masjid dia harus lewat pasar. Bagaimana tidak jadi perhatian, ada orang bule tinggi besar pakai baju batik pergi ke masjid. Padahal banyak orang di pasar dan madrasah dekat situ yang sudah puluhan tahun di tempat bila terdengar adzan tidak peduli. Akibatnya mereka merasa malu. Begitu pula ustadz-ustadz di madrasah ini juga merasa malu. Sehingga akhirnya mereka ke masjid juga. Anak-anak muda yang suka main bola juga penasaran. Ini bule bisa shalat nggak sih. Akhirnya mereka semua pergi ke masjid, sehingga masjid jadi penuh.

Waktu pulang ke Indonesia beberapa waktu lalu, di ANTeve, Anda bercerita seorang Rabbi dalam wawancara dengan CNN menyitir hadits Nabi yang mengatakan menjelang hari kiamat nanti orang Islam akan memerangi orang Yahudi?

Hadits ini shahih. Jadi pada hari mendekati kiamat orang Muslim dan orang Yahudi akan berperang dan orang Muslim akan mengalahkan orang Yahudi. Sampai orang Yahudi bersembunyi di balik batu dan batu memberitahukan keberadaannya. Saat bersembunyi di balik pohon, pohon pun akan memberitahukan. Kecuali satu saja yaitu pohon gharqat. Anehnya orang Yahudi mempercayai hadits tersebut. Kebetulan saya pernah ke Israel tiga kali. Ternyata di sana pohon gharqad banyak ditanam orang Yahudi. Di New York kalau kita pergi ke tempat orang Yahudi Orthodox, juga ada pohon itu. Apa penjelasan rabbi Yahudi itu? Dia bilang, “Ya saya percaya dengan apa yang dikatakan Muhammad. Tapi jangan takut. Ini masih lama.” Ketika orang bertanya, “Kapankah waktu itu akan datang?” Sang rabbi tersebut mengatakan, “Hal itu baru akan terjadi ketika jumlah ummat Islam yang datang ke masjid pada saat shalat Shubuh sama dengan jumlah yang datang pada shalat Jum’at.” Maksud Rabbi itu, hal tersebut baru terjadi ketika umat Islam sudah menjalankan Islam secara bersungguh-sungguh.

Selama di Amerika apakah Anda melihat ada kemajuan dalam lobi politik Islam dibandingkan dengan lobi politik Yahudi?

Setelah berdirinya CAIR (Council on American-Islamic Relation) agak lumayan. Sehabis peristiwa 11 September kedudukan ummat Islam justeru jadi lebih kuat lagi. Dulu tidak mungkin Presiden Amerika datang ke Islamic Center. Sampai berkali-kali lagi. Juga agak janggal kalau FBI atau pejabat Departemen Luar Negeri berkali-kali minta bertemu dengan organisasi-organisasi Islam, mengajak kerjasama. Berarti kan hubungannya kuat. Juga bagaimana kita bisa memaksa untuk melakukan propaganda tidak langsung tentang Islam? Coba apa kata Bush setelah 11 September? “Islam adalah agama

Mitos, Sains, dan Iman di tengah Bencana

Sunday, June 11th, 2006

Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/hsufehmi/islam.sufehmi.com/wp-includes/functions-formatting.php on line 83

Mitos, Sains dan Iman di tengah Bencana

Dr.-Ing. Fahmi Amhar
Peneliti Utama Bakosurtanal

Meletusnya Merapi sering dikaitkan dengan suatu mitos. Kiai Dandang Wesi ­ danyange gunung Merapi ­ ini nama menurut almarhum SH Mintardja ­ barangkali sedang hajatan. Dan menurut Mbah Maridjan, orang hajatan tidak akan buang sampah di pekarangan rumah. Makanya dia tenang-tenang saja tinggal di dusunnya. Dia bahkan tidak tertarik untuk diajak Walikota Berlin ke Jerman ikut “ngeruwat” Piala Dunia.

Demikian juga, gempa besar yang meluluhlantakkan Yogya dan Klaten tempo hari, konon karena Nyi Loro Kidul ­ ratu laut selatan ­ marah karena RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi mau disahkan. Karena nanti kembenannya yang seksi bisa jadi delik. Ini minimal menurut Permadi, anggota DPR dari PDIP yang tetap berprofesi atau berhobby sebagai paranormal. Versi lainnya mengatakan bahwa Nyi Loro Kidul yang sekarang sudah teremansipasi, jadi tidak mau lagi dimadu oleh Kanjeng Sultan Yogya. Wah-wah, yang namanya mitos bisa liar begini.

Tapi yang lebih liar lagi, beberapa hari yang lalu ada sms dan email yang beredar di seluruh jagad. Bahwa lempeng Indo-Australia sedang bergerak menuju lempeng Eurasia, dan dalam 11 hari setelah 27/5/2006, atau tanggal 6/6 kemarin, akan menumbuknya dan melecut gempa yang lebih besar lagi. Akibatnya beberapa kalangan ragu-ragu untuk beres-beres rumah. Sampai-sampai ada anggota tim yang ditugaskan mendata rumah yang akan dibantu lalu menunda pendataan, sekalian saja kalau gempa besar itu sudah terjadi, pikirnya.

Apa yang terjadi ini semua adalah mitos. Kadang-kadang mitos dibumbui dengan sains. Tentu saja dari orang yang tidak begitu mengerti sains. Karena yang namanya gerak lempeng itu tidak mudah diukur dalam ukuran hari. Kalau lempeng bergerak 10 cm per tahun, artinya per hari kurang dari 0,3 milimeter. Ini suatu dimensi yang bisa diukur untuk benda mikroskopis, tetapi tidak bisa diukur dengan ketelitian yang dibutuhkan untuk ukuran lempeng benua. Lagipula, gempa besar itu bukanlah saat “tumbukan” itu sendiri, tetapi ketika material yang ada di perut bumi sudah tidak sanggup menahan energi desakan lempeng.

Kembali ke masalah mitos. Mbah Maridjan mungkin sedang melakukan doa dan ritual tertentu sesuai keyakinannya. Waktu dulu Yogya terancam badai, ada sesaji dengan 12 atau 17 macam jenang. Ritual semacam ini tentu saja tidak ilmiah, tetapi faktanya sudah dilakukan orang berabad-abad. Pada situasi di mana sains juga tidak banyak menolong, orang biasa lari ke mitos dan klenik. Tidak cuma di Yogya. Di Jepang dan Amerika yang sudah majupun, mitos tetap ada. Hal ini terkait dengan kebutuhan spiritual yang merupakan bagian dari fitrah manusia.

Tetapi ada cerita menarik yang terjadi hampir 14 abad yang lalu. Kalau Yogya terancam gunung Merapi, maka negeri Mesir terancam banjir Sungai Nil atau di musim yang lain kekeringan. Maka Mbah Maridjan-nya negeri Mesir biasa melakukan ruwatan. Dan tak tanggung-tanggung, sesajennya ­ menurut mitos mereka ­ harus seorang perawan rupawan, yang setelah dihias akan dilarung hidup-hidup ke sungai Nil.

Ketika Islam masuk ke Mesir, dan ingin melarang orang Mesir meneruskan tradisi itu, mereka menghadapi penolakan. “Kalau tidak diruwat, kalau terjadi bencana gimana …”. Maka Khalifah Umar bin Khaththab lalu menulis sebuah surat.
Bunyi surat itu kira-kira begini, “Wahai Sungai Nil, kalau engkau mengalir karena dirimu sendiri, maka janganlah mengalir. Namun jika yang mengalirkan airmu adalah Allah, maka mintalah kepada-Nya untuk mengalirkanmu kembali”. Umar menyuruh orang Mesir untuk melarung surat itu, sebagai ganti dari perawan rupawan.
Allah Maha Mendengar. Tahun itu sungai Nil tidak membuat bencana. Dan mitos Mesir kuno pelan-pelan tergantikan dengan iman. Dan di zaman keemasan Islam, sains kemudian tumbuh pesat di sana dengan landasan iman.

Oleh sebab itu, mungkin rakyat Yogya ­ terutama yang muslim ­ perlu menggantikan segala jenis ruwatan ke Merapi, cukup dengan surat seperti surat Umar bin Khaththab tadi. “Wahai gunung Merapi, kalau engkau meletus karena kehendak Allah, taatlah kepada-Nya …. “.

Karena, bencana yang ditimbulkan Merapi atau Laut Selatan, yang tidak bisa kita cegah, boleh jadi memang kehendak Allah untuk menguji kita. Namanya anak sekolah, kalau mau naik kelas ya harus lulus ujian dulu. Begitu kan?

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? (Qs. 29-al-Ankabut : 2)

Riwayat Sabili

Friday, June 9th, 2006

Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/hsufehmi/islam.sufehmi.com/wp-includes/functions-formatting.php on line 83

Trims kepada Arif Widi, saya jadi menemukan artikel yang menarik ini.

Kutipan:

“Kita ingin membangun media yang bisa mencerdaskan bangsa, bukan media yang sekadar menyajikan hiburan yang merusak ahlak sambil dapat untung. Kita tidak. Kita betul-betul ingin menyampaikan nilai-nilai yang baik. Paling tidak, media itu sebagai media pencerdasan, pencerahan, maupun sebagai penyampai informasi,” ujar Zainal.

Saya masih ingat kesan saya ketika dahulu pertama kali membaca Sabili. Ketika itu saya masih kuliah. Amat menarik membaca majalah Sabili ketika itu, karena isinya beda ! Ketika semua media massa membahas berita sama - yang sedang hangat, Sabili justru membahas berita yang perlu & penting. Pembahasannya pun cukup kritis, kita bisa mendapatkan banyak wawasan baru dari situ.

Sabili juga berani - bedakan dengan media massa sekarang, karena zaman dahulu (zaman Bpk. HM Soeharto), media massa yang kritis dan berani maka akan beresiko kena bredel, dan penanggung jawabnya bisa diciduk dan disiksa secara fisik dan mental.
Media massa pada saat ini tidak dibayangi oleh resiko ini.

Karena itu saya merasa sangat kehilangan ketika Sabili kemudian menghilang begitu saja pada akhir 1993. Mungkin karena keberaniannya membahas tragedi Tanjung Priok. Ternyata Sabili akhirnya kena juga, dibredel oleh Benny Moerdani (may you not rest in peace, penjagal umat Islam yang sangat kejam).

Kebijakan Orde Baru ini banyak dipengaruhi oleh CSIS :

Kebijakan Orde Baru ini dianggap banyak dipengaruhi oleh Center for Strategic and International Studies, sebuah think tank di Jakarta, yang didirikan pada awal Orde Baru.

Saya pribadi pernah bertemu & berdialog dengan dua orang anggota CSIS, dan memang agenda serta cara pandang mereka terhadap Islam sangat destruktif. Entah bagaimana sekarang, tapi mungkin untuk amannya kita anggap saja masih sama seperti demikian.

Sabili sebelum dibredel cukup spektakuler oplahnya, bahkan jika dibandingkan dengan media massa umum :

Pada waktu itu dunia Islam sedang tersudut, mulai dari Palestina, Afghanistan, Bosnia, Chehnya, hingga persoalan-persoalan umat Islam di tanah air, seperti kasus Lampung dan Tanjung Priok. Sabili terbit pada saat yang tepat.

“Gaya pembelaan Sabili sangat memungkinkan umat Islam yang selama ini tidak punya media, kemudian merasa terwakili. Jadi klop. Antara umat Islam yang tertindas selama Orde Baru, dengan munculnya media yang menyuarakan mereka,” kata Mabrur.

Setelah dibredel, dan kemudian terbit kembali di sekitar tahun 1998, oplah Sabili semakin melejit saja :

APA benar oplah Sabili 100 ribu? Pertanyaan ini muncul karena selama ini suratkabar Islam tidak pernah mengungguli media umum sejenis. Apalagi hasil survei AC Nielsen itu muncul saat Indonesia mengalami krisis ekonomi. Jangankan media Islam yang lekat dengan mitos “hidup enggan mati tak mau,” suratkabar umum pun pada bertumbangan. Belum lagi kemungkinan AC Nielsen melakukan kesalahan? Pertanyaan-pertanyaan itu mendorong saya melihat sendiri seberapa besar daya serap pasar terhadap Sabili? Bagaimana distribusi dikerjakan?

Hasilnya sungguh di luar dugaan. Dari 40-an agen yang saya temui selama hampir dua bulan, di mana 25 ada di Jakarta serta sisanya di sekitar Yogyakarta dan Surabaya, semuanya mengatakan Sabili hampir selalu habis terjual. Sesekali memang tersisa, tetapi ini jarang apalagi kebijakan pengembaliannya sangat ketat. Beberapa kios tegas mengatakan tak pernah ada sisa majalah Sabili.

Bagaimana dengan Sabili sekarang ? Sebagaimana dengan semua media massa lainnya, tentu akan selalu ada hal-hal yang bisa ditingkatkan lagi. Saya pribadi sekarang tidak membaca Sabili lagi, karena terakhir kali membacanya, isinya terlalu sensasionalis / bombastis bagi saya. Tentu saja YMMV. Kritik untuk Sabili juga ada beberapa di artikel asli tentang Sabili tersebut.

Mudah-mudahan Sabili akan terus menjadi makin baik, adil dalam membahas suatu topik, mencerahkan, mencerdaskan. Amin.

Sumber : [ Jihad Lewat Tulisan : Kisah sukses majalah Sabili dengan beragam ironi ]
(perlu registrasi dulu, tapi prosesnya gratis & cepat)

Hizbut Tahrir vs Koran Tempo

Friday, June 2nd, 2006

Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/hsufehmi/islam.sufehmi.com/wp-includes/functions-formatting.php on line 83

Hari ini saya mendapat sebuah email di milis internal Isnet dari Fahmi Amhar. Isinya ternyata adalah press release dari Hizbut Tahrir, mengenai bantahan terhadap editorial Koran Tempo 29 Mei 2006.

Kutipan:

Editorial yang anda tulis dengan tajuk: Pengusiran Abdurrahman Wahid, sadar atau tidak merupakan provokasi yang sangat keji. Sejak awal, tidak ada kasus pengusiran, sebagaimana yang telah dijelaskan berkali-kali oleh Hizbut Tahrir Indonesia, dan juga ormas-ormas Islam lainnya, termasuk di dalamnya MUI dan kapolres Purwakarta. Bahkan, Gus Dur secara resmi telah menyatakan tidak ada pengusiran, sebagaimana yang dilansir oleh Detikcom (27/05/2006), dan Kompas hari ini (29/05/2006).

Karena itu, apa yang anda tulis di dalam editorial anda merupakan bentuk penyesatan, dan sekaligus provokasi yang bisa memancing emosi umat Islam. Sebagaimana yang kita ketahui, sebelum ada pemberitaan di Pikiran Rakyat (24/05/2006) dan Surya pada hari yang sama, kemudian RCTI (Seputar Indonesia, 24 Mei 2006), mengutip pernyataan Drs H. Agung Nurhalim dan Aliansi Masyarakat Anti Kekerasan (AMAK), yang menyatakan bahwa telah terjadi pengusiran terhadap Gus Dur oleh FPI, MMI, FUI (Forum Ulama Islam) dan HTI, yang dibumbui dengan sebutan-sebutan yang tidak senonoh, seperti preman berjubah yang meresahkan dan terkesan main hakim sendiri, nyaris tidak ada insiden pengerahan massa yang menjurus pada tindakan anarkis. Tetapi, setelah adanya pemberitaan tersebut, terjadilah ketegangan antara massa Garda Bangsa —yang mencoba menyeret-nyeret massa NU— dengan FPI, dan FBR di Jakarta dan beberapa daerah.

Untuk artikel selengkapnya (press release HT & Editorial Koran Tempo), silahkan klik.

Press release Hizbut Tahrir

KANTOR JURUBICARA
HIZBUT TAHRIR INDONESIA

Nomor : 97/PU/E/05/06

BANTAHAN UNTUK EDITORIAL
KORAN TEMPO

Editorial yang anda tulis dengan tajuk: Pengusiran Abdurrahman Wahid, sadar atau tidak merupakan provokasi yang sangat keji. Sejak awal, tidak ada kasus pengusiran, sebagaimana yang telah dijelaskan berkali-kali oleh Hizbut Tahrir Indonesia, dan juga ormas-ormas Islam lainnya, termasuk di dalamnya MUI dan kapolres Purwakarta. Bahkan, Gus Dur secara resmi telah menyatakan tidak ada pengusiran, sebagaimana yang dilansir oleh Detikcom (27/05/2006), dan Kompas hari ini (29/05/2006).

Karena itu, apa yang anda tulis di dalam editorial anda merupakan bentuk penyesatan, dan sekaligus provokasi yang bisa memancing emosi umat Islam. Sebagaimana yang kita ketahui, sebelum ada pemberitaan di Pikiran Rakyat (24/05/2006) dan Surya pada hari yang sama, kemudian RCTI (Seputar Indonesia, 24 Mei 2006), mengutip pernyataan Drs H. Agung Nurhalim dan Aliansi Masyarakat Anti Kekerasan (AMAK), yang menyatakan bahwa telah terjadi pengusiran terhadap Gus Dur oleh FPI, MMI, FUI (Forum Ulama Islam) dan HTI, yang dibumbui dengan sebutan-sebutan yang tidak senonoh, seperti preman berjubah yang meresahkan dan terkesan main hakim sendiri, nyaris tidak ada insiden pengerahan massa yang menjurus pada tindakan anarkis. Tetapi, setelah adanya pemberitaan tersebut, terjadilah ketegangan antara massa Garda Bangsa —yang mencoba menyeret-nyeret massa NU— dengan FPI, dan FBR di Jakarta dan beberapa daerah.

Sebagaimana klarifikasi yang dilakukan oleh HTI, MUI Purwakarta —termasuk kapolres Purwakarta— dan terakhir Gus Dur, bahwa kasus pengusiran itu tidak pernah terjadi. Bahkan, HTI dan Garda Bangsa sendiri, baik di Bandung dan Surabaya, sudah menganggap persoalan ini selesai. Karena memang tidak pernah terjadi apa-apa. Tetapi, yang mengherankan, hari ini (29/05/2006) anda masih menulis fitnah bohong itu di media anda, bahkan kemudian memprovokasi pihak lain untuk melawan MUI, dengan menuduh fatwa MUI sebagai biang kerok. Dalam konferensi pers via telpon dengan HTI dan FUI di RM Saribundo (26/05/2006), KH Ma’ruf Amien dengan tegas membantah, jika fatwa MUI dianggap sebagai sumber kekerasan. Karena fatwa adalah satu hal, dan kekerasan adalah hal lain yang berbeda. Buktinya, kerusuhan Tuban pasca Pilkada, yang terjadi jelas-jelas bukan karena fatwa MUI. Jadi, menghubungkan fatwa MUI dengan kekerasan jelas merupakan tindakan tidak senonoh, dan bahkan ngawur.

Karena itu, kami meminta anda:

1- Meralat editorial anda (29/05/2006) secara terbuka, baik yang berkaitan kasus pengusiran, maupun keterlibatan kami di dalamnya. Karena keduanya memang terbukti tidak ada.

2- Meminta koran anda meminta maaf secara terbuka, karena telah menyiarkan berita bohong tentang keduanya.

3- Meminta bantahan ini dimuat di media anda, sebagai bentuk hak jawab kami.

4- Jika tidak, kami akan memikirkan langkah-langkah hukum, karena terbukti dengan nyata media anda telah melakukan provokasi yang bisa mengancam keutuhan dan keharmonisan hubungan umat Islam.

Jakarta, 29 Mei 2006 M,

Jurubicara Hizbut Tahrir Indonesia

Muhammad Ismail Yusanto
HP: 0811-119796
Email: ismaily@telkom.net, ismaily@hizbut-tahrir.or.id

Gedung Anakida Lantai 4
Jl. Prof. Soepomo Nomer 27, Jakarta Selatan 12790
Telp / Fax : (62-21) 8353253 Fax. (62-21) 8353254
Email : info@hizbut-tahrir.or.id
Website : http://www.hizbut-tahrir.or.id

Editorial Koran Tempo

Mengusir Gus Dur, Mencederai Islam
Apa yang dilakukan massa Islam radikal saat ini sudah keterlaluan.

Apa yang dilakukan massa Islam radikal saat ini sudah keterlaluan. Majelis Mujahidin Indonesia, Front Pembela Islam, Forum Umat Islam, dan Hizbut Tahrir Indonesia, pekan lalu di Purwakarta, Jawa Barat, mengusir KH Abdurrahman Wahid dan membubarkan acara “Dialog Lintas Agama dan Etnik” yang dihadiri bekas Presiden Indonesia itu. Hizbut belakangan menyangkal keterlibatannya–sesuatu yang sudah terlambat.

Insiden Purwakarta menambah panjang kekerasan berkedok agama. Di Cirebon, Jawa Barat, lembaga swadaya masyarakat pendidikan, Fahmina Institute, juga diserbu massa yang mengaku Islam. Mereka yang baru saja unjuk rasa mendukung Rancangan Undang-Undang Anti-Pornografi dan Pornoaksi itu menyebut Fahmina sebagai agen Barat, LSM racun, dan lembaga yang “menjual ayat-ayat Al-Quran dengan harga murah”.

Di Bulukumba, Sulawesi Selatan, kantor Lembaga Advokasi dan Pendidikan Anak Rakyat disatroni puluhan pemuda Penegak Syariat Islam. Lembaga ini dituding menentang nilai-nilai Islam yang, katanya, diperjuangkan para penyerbu.

Di Purwakarta, massa mengamuk dan memprotes ide pluralisme yang dibicarakan dalam seminar yang dihadiri puluhan orang dari berbagai agama itu. Dasarnya adalah fatwa Majelis Ulama Indonesia yang melarang sekularisme, pluralisme, dan liberalisme.

Fatwa itu memang bermasalah. Ketiga konsep telah dipahami secara ngawur dan karena itu dianggap berbahaya. Sekularisme, yang secara generik bermakna pemisahan agama dari negara–sesuatu yang sudah semestinya karena Indonesia bukan negara teokrasi–ditafsirkan sebagai cara mengerdilkan Islam. Pluralisme, gagasan tentang keberagaman berpendapat, berkeimanan, dan berkepercayaan, dianggap mengacaukan yang hak dan yang batil. Liberalisme dimusuhi karena mencerminkan ideologi Barat.

Intinya, fatwa MUI itu memandang Islam sebagai “pusat” dan menempatkan yang bukan Islam di “pinggiran”. Sebagai wujud keimanan pribadi, pandangan ini oke-oke saja. Tapi, begitu masuk ke tataran masyarakat, ide ini bertentangan dengan prinsip kesamaan hak warga negara, bahkan bertentangan dengan Islam, yang mengajarkan lakum dinukum waliadin–”untukmu agamamu, untukku agamaku”.

Persoalan jadi lebih kisruh ketika keyakinan yang bermasalah itu menjadi fatwa yang dipakai sebagai landasan moral untuk bertindak. Pelaku teror bom Abdullah Sunata, dalam pengakuannya kepada polisi, membenarkan bahwa anak buahnya berniat membunuh aktivis Jaringan Islam Liberal, Ulil Abshar-Abdalla, atas dasar fatwa itu.

Mestinya perbedaan pendapat tentang sekularisme, pluralisme, dan liberalisme itu dibicarakan dalam dialog yang santun dan beradab. Membubarkan seminar, apalagi mengumpat Gus Dur dengan kata-kata kotor, adalah laku tercela yang jauh dari moral Islam–sesuatu yang hendak dibela para pengeroyok.

Tidak bisa tidak, pelaku aksi anarkistis itu harus ditindak. Polisi mesti menangkap, menyelidiki, dan membawa kasus ini ke pengadilan. Organisasi-organisasi yang mengancam, mengintimidasi, dan menakut-nakuti kelompok lain–terlebih dengan otot dan senjata–tidak boleh lolos dari hukum. Indonesia tidak boleh takluk oleh kekerasan–termasuk dari mereka yang berkedok agama.

Banyak Anak = Banyak Rezeki ?

Friday, June 2nd, 2006

Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/hsufehmi/islam.sufehmi.com/wp-includes/functions-formatting.php on line 83

Ada seorang kawan akrab saya yang cerita. Latar belakangnya, dia skeptis dengan pendapat bahwa “banyak anak = banyak rezeki”. OK kita lanjutkan ceritanya; suatu hari dia bertemu dengan seorang ustadz yang sudah lama tidak ditemuinya.
Selagi di perbincangan yang menyenangkan itu tersebut bahwa sang ustadz kini anaknya sudah 9 orang.

Kawan saya ini tahu bagaimana kondisi ekonomi sang ustadz. Anaknya ada 9, dan kehidupannya cukup pas-pasan. Maka tidak tertahankan lagi olehnya untuk mencetuskan, “Ustad, bener gak sih bahwa banyak anak itu banyak rezeki ?”, yang dijawab oleh sang ustadz tanpa keraguan, “benar”.
Seperti bensin yang tersambar api, kawan saya langsung menyambut, “tapi ustadz kok hidupnya susah ???”

Dengan tenang sang Ustadz menjawab, “Itu karena rezeki & hak milik saya sudah dirampas oleh banyak orang, terutama pejabat yang zalim. Kalau uang rakyat tidak dikorupsi, tidak dipakai untuk membayar hutang luar negeri, tidak dipakai untuk menomboki BLBI 215 trilyun, tidak dirampas oleh pak harto, dst — maka 9 anak ini akan ada banyak rezekinya”.

Kawan saya tercengang.

Saya tertawa terbahak-bahak. Bukan saja karena ternyata akhirnya terbukti sang kawan keliru, setelah diyakininya selama bertahun-tahun. Namun juga karena takjub tentang bagaimana tepatnya jawaban sang ustadz tsb, berdasarkan pada pengalaman saya sendiri.
Anak kami ada 4, dan rezeki kami jadi bertambah banyak karena anak-anak ini sewaktu di Inggris. Paling tidak, dari children benefit saja sudah lumayan. Padahal masih ada banyak lagi.

Lalu saya tercenung, karena di negeri non-muslim itu, justru janji Allah swt diwujudkan - karena memang kezaliman penguasa terhadap rakyatnya tidak terlalu parah. Sedangkan di negara mayoritas muslim ini, Indonesia, janji tersebut justru tidak terjadi — karena malah dirampas oleh para penguasa dan segelintir kelompok elitnya.

Saya pribadi kalau sudah berjanji, lalu disabot oleh orang lain sehingga janji tadi gagal ditepati; terus terang saya akan jadi sangat marah. Atasan pun akan saya lawan. Nah, kini bagaimana perasaan Tuhan, rajanya segala raja, ketika ada makhluknya yang dengan sombong mensabotase realisasi janjiNya ?
Well, see you in Hell“, mungkin kira-kira begitu jawabnya :) he he..

So, “banyak anak, banyak rezeki” itu memang benar. But, not here :)