Strict Standards: Non-static method FeedWordPress::needs_upgrade() should not be called statically in /home/hsufehmi/islam.sufehmi.com/wp-content/plugins/feedwordpress/feedwordpress.php on line 113

Strict Standards: Non-static method FeedWordPress::stale() should not be called statically in /home/hsufehmi/islam.sufehmi.com/wp-content/plugins/feedwordpress/feedwordpress.php on line 179

Strict Standards: Non-static method FeedWordPress::update_requested() should not be called statically in /home/hsufehmi/islam.sufehmi.com/wp-content/plugins/feedwordpress/feedwordpress.php on line 184
Islam @ Sufehmi.com » 2006 » December

Archive for December, 2006

Polygamy in USA

Friday, December 15th, 2006

Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/hsufehmi/islam.sufehmi.com/wp-includes/functions-formatting.php on line 83

Right, I must admit that I was pretty amazed to find a woman in a polygynous marriage and a convert and lives in USA (where polygyny / polygamy is outlawed - CMIIW) and happily blogging about it .
Was speechless for quite sometime.

Anyway, the blogger that goes by nickname Mizazeez (Miss Aziz ?) seems to be quite happy with her current situation. She was devastated when first knew about her husband’s intention to marry again, but then chose logic instead of uncontrolled emotion, and managed to get over it.
She even took time to explain the popular hadith touted as the base to abhore polygamy : the Ali - Fatima - Abu Jahl’s daughter hadith; where the hadith was usually presented as it is, she explained its context in details.

There are quite a lot of lighthearted and funny posts in her blog. For example, the one about her mother is quite funny. I do realize though that it’s a struggle to her. But she seems to handling it quite well, well done.

There are a few things we, men, can pick up from the husband. It seems that this man actually speaks Venusian; being able to act appropriately (instead of enraged/becoming a jerk) even when in awkward situations. Lots of other good examples from him throughout the blog. Recommended read.

All in all, both parties (husband and wife) seems to be putting their best efforts to make things works for them. I’m truly humbled to read how their marriage went - the humble & pious husband that’s gentle and care, the loving & (very) clever wife that’s very understanding about her husband’s situation (financial/time/marriage-wise).
That’s what marriage is all about - teamwork, co operation. It’s going both ways. If it started flowing just from one direction, then it’s the beginning of its end.

I’m very glad to find such mature and understanding Muslim/Muslimah, in the blogosphere too. To these people I put my hope that one day in my life I’ll be able to witness Islam achieving its purpose - rahmatan lil ‘alamin; a blessing to the world. Here’s one hoping.

Another similar blog : Polygynous Expressions

And no, I still don’t think I’ll marry another woman, because I’m not able to properly do the related responsibilities. But I’m happy for everyone who’s doing good and not afraid to be bad-mouthed because of it. Barokallahulakum, brothers and sisters.

Bahagia Instan

Thursday, December 14th, 2006

Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/hsufehmi/islam.sufehmi.com/wp-includes/functions-formatting.php on line 83

Lagi sedih ? Bete ? Kenapa setiap hari selalu saja ada masalah ? Bagaimana caranya bahagia, setiap saat ?

Ada banyak cara orang untuk menjadi bahagia. Ada yang menjadi bahagia dengan mampir di mall favoritnya, dan shopping sepuasnya. Apalagi kalau pas lagi ada diskon 50%, wow. Kemarin saya juga melakukan ini ketika menemukan sebuah toko sepatu di Pondok Indah Mall yang sedang promosi BOGOF (Buy One Get One Free), lha kebetulan lagi perlu sepatu karena yang lama sudah butut. Untuk sepatu wanita malah cuma Rp 100.000 dapat 3, halah langsung terlampiaskan lah hasrat soulmate saya, he he.
Sudah murah, kualitasnya juga bagus pula. Bahagia? Jelas :) Tapi kalau setiap hari, tetap saja jadi berat di ongkos ya?

Ada lagi yang menemukan kebahagiaan dengan menikmati makanan yang enak. Ada yang dengan dugem dan nongkrong semalaman. Ada yang bahagia dengan bepergian ke luar negeri. Dan banyak cara lainnya.

Tetapi, apakah ada cara untuk bahagia setiap saat, dimana saja, kapan saja, dan tanpa biaya ?
Ternyata ada !

Sewaktu sedang browsing milis kampung gajah, tidak sengaja menemukan posting dari devykoe, dan tidak sengaja (lagi) terbaca taglinenya :

.

the best way to cheer yourself up is to cheer somebody else up

.

Straight to the point. Bahagiakan orang lain, maka kita pun akan merasakan kebahagiaannya.
Salah satu variasi BOGOF juga; yang dibahagiakan satu orang (orang lain), namun hasilnya jadi dua orang yang bahagia (orang lain dan kita).
Terimakasih pada mbak Devy untuk taglinenya.

Jadi, mari kita blogwalking dan membahagiakan orang lain *lho* :)

KBH is the new buzzword : Result-oriented versus 9-to-5

Saturday, December 9th, 2006

Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/hsufehmi/islam.sufehmi.com/wp-includes/functions-formatting.php on line 83

Suatu hari di kantor saya, pukul 13:00, Andy tiba “assalamu’alaikum” sapanya, dijawab oleh rekan-rekan di ruangannya. Andy langsung memulai pekerjaannya hari itu di mejanya. Yang lainnya meneruskan kembali pekerjaan mereka masing-masing. Saya berhenti sejenak dan menutup mata, meredakan sakit kepala setelah mengerjakan riset untuk presentasi seorang client selama beberapa jam.

Apa yang aneh disini ?

Ya, di tempat lainnya, Andy bisa dipecat karena baru tiba di kantor pukul 13:00.
Tidak demikian halnya di kantor saya. Disini, jam kerja bebas. Mau datang jam 5 sore,tidak apa. Pulang jam 8 pagi keesokan harinya ? Tidak masalah, sleeping bag juga sudah disediakan. Paling ada jadwal piket telpon, sehingga selalu akan ada yang menerima telpon pada jam kantor standar (9 - 5).

Hari ini kebetulan saya menemukan artikel BusinessWeek dengan judul Smashing The Clock. Kutipan :

… workers pulling into the company’s amenity-packed headquarters at 2 p.m. aren’t considered late. Nor are those pulling out at 2 p.m. seen as leaving early. There are no schedules. No mandatory meetings. No impression-management hustles. Work is no longer a place where you go, but something you do. It’s O.K. to take conference calls while you hunt, collaborate from your lakeside cabin, or log on after dinner so you can spend the afternoon with your kid.

Saya tersenyum simpul. Ini adalah yang telah saya lakukan sejak awal, jauh sebelum saya membaca artikel tersebut. Pada awal pendirian perusahaan, saya meluangkan sedikit waktu untuk memikirkannya, dan memutuskan kondisi kerja kantor sebagai berikut :

  • Jam kerja bebas
  • Kantor bisa diakses 24 jam
  • Masa cuti : tidak terbatas.

Satu-satunya persyaratan saya adalah : deadline tidak boleh terlampaui. Target harus tercapai.

So far so good.
(fingers crossed !)

Dasar pemikirannya sederhana - saya kira, percuma saja staf bekerja 9-to-5 kalau hatinya tidak berada di yang sedang dikerjakannya. Jangan-jangan nanti malah cuma pada chatting atau browsing Internet seharian, menunggu waktu pulang kantor. Lha ya gimana, hidup seperti ini memang berat, saya tahu karena saya juga pernah menjalankannya.
Pergi ketika jalanan macet, pulang ketika jalanan macet juga. Sampai di rumah anak-anak sudah tidur semua. Ketika libur weekend, semuanya juga sedang di tempat rekreasi yang sama. Stress 24×7. Bangun pagi dengan perasaan tertekan, membayangkan 3 jam perjalanan menuju ke kantor. Setiap hari Minggu sore mulai depresi, menyadari bahwa besok adalah hari Senin. Sounds familiar ?

Dengan KBH (Kerja Berorientasi Hasil), maka staf kami bisa bebas menentukan hidup seperti apa yang mereka inginkan. Yang tipe kalong, bisa datang jam 5 sore dan pulang jam 9 pagi :)
Ada juga yang bisa menginap berhari-hari ketika di kantor, namun libur di hari Rabu dan Kamis. Ada lagi yang di kantor hanya pada hari Rabu dan Kamis. Ada juga yang belum pernah datang ke kantor sama sekali !

Keuntungan bagi perusahaan juga besar. Ruang kantor kami tidak perlu berukuran raksasa. Jumlah komputer juga tidak perlu banyak - staf kami akan bekerja menggunakan komputer mereka sendiri di rumah dengan senang hati. Staf yang bermotivasi tinggi memungkinkan kami untuk menangani proyek-proyek yang normalnya tidak akan bisa tertangani oleh perusahaan seukuran kami.
Dan ketika target kerja selalu tercapai 100%, (tentu saja!) ini sangat membantu meningkatkan daya saing perusahaan.

Selain itu mudah-mudahan kami juga jadi berkontribusi untuk mengurangi berbagai masalah nasional; staf kami tidak turut menambah kemacetan, kami lebih banyak menggunakan daya listrik ketika beban listrik sedang rendah, akses internet banyak dilakukan ketika traffic internet Indonesia sedang rendah, staf kami meramaikan angkutan umum ketika jam-jam sepi, dan seterusnya.

Masih kecil kontribusi di atas tentunya karena kami juga perusahaan kecil. Akan menjadi lebih signifikan jika Anda juga ikut serta.
Bagaimana, tertarik ?

Tambahan:
Artikel dari NetworkWorld mengenai perusahaan-perusahaan yang sudah mengimplementasi KBH - tantangan berikutnya adalah menjaga semangat teamwork agar tetap tinggi. Ini menjadi perlu diperhatikan ketika sudah pada level seperti IBM, dimana 40% staffnya bekerja dari rumah / mana saja.

Semoga bermanfaat :)

How The Jews Invented Hollywood

Friday, December 8th, 2006

Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/hsufehmi/islam.sufehmi.com/wp-includes/functions-formatting.php on line 83

Buku karangan Neal Gabler ini (New York: Crown Publishers, Inc., 1988. ISBN 0-51746808 X) membahas bagaimana Hollywood akhirnya dikuasai oleh Yahudi.
Sebetulnya pada awalnya, Hollywood dikuasai oleh non-Yahudi, namun karena banyak dari mereka yang naif, maka kalah dari berbagai pelaku bisnis Yahudi yang menghalalkan segala cara.

Kutipan :

It can safely be said that the earliest cameras, projectors, sound and lighting equipment, and raw film stock were developed primarily by gentile inventors. The same can be said of those artists who were the first to create artistic movies with true narrative content, creative lighting and special effects, panoramic scenic settings and fast-paced editing.
………..
What these Jewish producers did achieve was to move very quickly from owning a few nickelodeons to controlling complete monopolies consisting of production, distribution and exhibition facilities.
………..
These men acquired this control because of an excellent sense of what the public would buy, intense personal drive, group solidarity as Jews, a willingness for hard work-and — a lot of shady dealing.

Dan secara umum, memang seperti inilah kelakuan bangsa Yahudi sejak dahulu.
Tidak mengherankan jika sudah sejak ribuan tahun yang lalu bangsa ini seringkali dimusuhi oleh bangsa-bangsa lainnya. Malah di Inggris, pernah terjadi situasi keuangan nasional nyaris runtuh karena disabotase dan dikuasai oleh Yahudi. Raja Inggris ketika itu kemudian mengeluarkan perintah untuk membunuhi dan menangkapi para saudagar Yahudi yang berada di balik bencana nasional tersebut.

Sekarang mereka sudah menguasai tidak hanya sebuah negara, namun hampir seluruh dunia; melalui bidang ekonomi dan budaya. Di Palestina mereka malah sudah tidak segan-segan menjajah dan bertindak seperti Hitler. Namun dengan bantuan media massa, mereka selalu terlihat sebagai pihak yang baik dan teraniaya.
Kali ini, mungkin mereka jadi bisa lebih lama menikmatinya dan membohongi kita semua. Namun, kejatuhan mereka, karena kejahatan mereka sendiri, adalah sebuah kepastian.

Poligami dan Keadilan

Monday, December 4th, 2006

Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/hsufehmi/islam.sufehmi.com/wp-includes/functions-formatting.php on line 83

Sebetulnya saya segan membahas topik ini, karena kalau menilik kasus mas Puji dimana postingnya jadi dipenuhi komentar-komentar yang marah (padahal postingnya sendiri sama sekali tidak kontraversial), ada kemungkinan itu akan terjadi juga. Tapi di lain pihak, ini adalah kesempatan untuk memperkenalkan rasionalitas / objektifitas dalam melihat suatu hal; sehingga kita dapat melihat sesuatu tersebut dengan lebih adil.
Jadi, saya pakai dulu baju tahan api saya… ok, mari kita mulai.

Fakta : poligami halal dalam Islam.
Syarat: harus berusaha dengan segenap kemampuannya agar berlaku adil. Fakta : Allah swt menilai usaha kita, bukan hasil.

Fakta : Zina / selingkuh haram dalam Islam.

Nah berbagai faktanya sudah dibeberkan, sekarang kita coba lihat masalahnya dengan lebih jelas.

Inti dari keributan seputar poligami Aa Gym sebetulnya adalah karena kurangnya konteks. Padahal, seperti yang telah saya bahas sebelumnya, ketika konteks diketahui, maka persepsi kita mengenai suatu hal bisa langsung berbalik sampai 180 derajat.

Dalam kasus Aa Gym, konteksnya sama sekali tidak diketahui.
Mengapa Aa menikah lagi ? Di media massa, sejauh yang saya pantau, tidak ada di beberkan. Dan kebanyakan kita juga tidak bisa menanyakannya langsung kepada beliau.

Pada kasus seperti ini, umat Islam diperintahkan untuk berprasangka baik dengan tetap waspada.

Namun tekanan untuk berprasangka buruk tentu sangat besar, apalagi ketika didorong oleh emosi yang memuncak. Karena itu, alih-alih berprasangka baik; yang muncul seringkali adalah berbagai asumsi (anggapan, yang tentu saja belum tentu benar), yang kemudian memicu timbulnya prasangka buruk.
Beberapa contoh:

Anda tidak lebih dari seorang laki laki yang tidak sanggup menahan nafsu birahi.

Bagaimana komentator yang bersangkutan tahu bahwa alasan pernikahan tersebut adalah karena nafsu birahi ? Apakah kini sudah ada orang yang mampu membaca pikiran orang lainnya ? :)

Ketenaran dan uang ternyata membutakan mata anda. Sehingga anda rela memutar balikkan image masyarakat terhadap anda selama ini.

Asumsi: Aa Gym telah terbutakan oleh ketenaran dan uang.
Prasangka buruk: karena inilah dia menikah lagi.

Dalam berbagai kasus seperti ini, media massa juga tidak banyak membantu. Kadang karena keterbatasan ruang artikel, maka berita hanya ditulis sepotong-sepotong saja, tanpa ada penjelasan mengenai konteksnya secara utuh. Atau di lain waktu malah sengaja konteksnya memang dihilangkan, sehingga menjadi kontroversi (sehingga koran/majalahnya menjadi laku).

Disini pentingnya ajaran Tabayun di dalam Islam, istilah gaulnya, cek and ricek. Ketika ada suatu kabar, dikonfirmasi kembali langsung kepada yang bersangkutan.

Jadi kalau kita merasa sangat ingin untuk menghakimi Aa, jangan lupa untuk tabayun dulu.
Kalau tidak, sebaiknya kita berprasangka baik agar selamat.

Lantas apakah ini berarti bahwa saya pro poligami ? Apakah saya akan berencana untuk menikah lagi ?

Saya pribadi tidak ada rencana ini karena terutama berkaitan dengan soal tanggung jawab - pernikahan adalah sebuah tanggung jawab yang sangat besar. Sedikit selingan - yang saya agak kaget, ternyata justru orang Barat yang banyak paham mengenai hal ini daripada berbagai rekan saya yang Muslim; banyak mereka yang tidak mau menikah karena mengaku tidak sanggup dengan tanggung jawabnya.
Sedangkan beberapa kawan saya yang Muslim menikah dan kemudian ada beberapa yang tidak mau bertanggung jawab - suami tidak mau menjadi pengayom dan manajer yang baik, dan/atau istri tidak mau menjadi manajer rumah tangga yang baik dan mematuhi perintah atasannya.

Karena menikah adalah sunnah Nabi saw dan telah diperintahkan, maka saya pun menikah. Dan saya berusaha menjalankan kewajiban ini dengan sebaik-baiknya. Namun kalau disuruh tambah lagi, aduh kok rasanya saya tidak sanggup :)
Demikianlah lemahnya saya.

Anyway, sebetulnya kita bisa menanggapi hal-hal yang kontraversial seperti poligami sekalipun dengan tenang. Contohnya bisa dilihat salah satunya pada pacar saya.
Dulu “penentang” poligami yang gigih, terutama setelah melihat sendiri beberapa kasus dimana praktek poligami menjadi merugikan wanita. Kini alhamdulillah sudah bisa melihat soal ini dengan lebih proporsional, berimbang - adil.
Ketika kemarin saya ceritakan, “eh, Aa menikah lagi lho”, responsnya cuma berupa alis mata yang agak naik sedikit terkejut, lalu “Ooh”. Lalu saya sampaikan “iya, nikah dengan janda anak tiga”, dibalas dengan “mungkin untuk menyantuni ya, bagus deh”.
Dia sudah berhasil melihat bahwa ada kasus-kasus dimana poligami justru bisa bermanfaat bagi wanita sendiri. Dan adalah salah satu sebab mengapa poligami dibolehkan di dalam Islam (dengan batasan-batasannya).

Sepertinya baju tahan api saya juga sudah mulai kebakaran, ok saya sudahi dulu sampai disini. Komentar/koreksi yang konstruktif akan diterima dengan rasa terimakasih.

QKLK :: Mantan mata-mata Rusia masuk Islam sebelum meninggal

Monday, December 4th, 2006

Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/hsufehmi/islam.sufehmi.com/wp-includes/functions-formatting.php on line 83

Kutipan :

Litvinenko’s father, Walter, said in an interview published today that his son - who was born an Orthodox Christian but had close links to Islamist rebels in Chechnya - had requested to be buried according to Muslim tradition after converting to Islam on his deathbed.

“He said ’I want to be buried according to Muslim tradition’,” Mr Litvinenko told Moscow’s Kommersant daily.

“I said, ’Well son, as you wish. We already have one Muslim in our family - my daughter is married to a Muslim. The important thing is to believe in the Almighty. God is one.’”

Sumber : The Times Online, 4 Des 2006