Strict Standards: Non-static method FeedWordPress::needs_upgrade() should not be called statically in /home/hsufehmi/islam.sufehmi.com/wp-content/plugins/feedwordpress/feedwordpress.php on line 113

Strict Standards: Non-static method FeedWordPress::stale() should not be called statically in /home/hsufehmi/islam.sufehmi.com/wp-content/plugins/feedwordpress/feedwordpress.php on line 179

Strict Standards: Non-static method FeedWordPress::update_requested() should not be called statically in /home/hsufehmi/islam.sufehmi.com/wp-content/plugins/feedwordpress/feedwordpress.php on line 184
Islam @ Sufehmi.com » 2007 » December

Archive for December, 2007

JIL, Ulil, dan Intelektualitas

Thursday, December 6th, 2007

Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/hsufehmi/islam.sufehmi.com/wp-includes/functions-formatting.php on line 83

Bicara soal JIL bukanlah bicara soal intelektualitas. JIL belum sampai ke level tersebut.
Baru pada level fakta saja JIL sudah bermasalah.

Artikel berikut ini mengilustrasikannya dengan sangat gamblang.

Selamat membaca.

Yang Sembrono dari Ulil Abshar

Rabu, 05 Desember 2007

Tulisan saya di hidayatullah.com ditanggapi Ulil dengan judul “Amran
dan Beberapa Kekeliruan”. “Ayolah Ulil, tunjukkan di mana kebebasan
dan toleransi Barat?”

Oleh: Amran Nasution *

Ketika masih wartawan, saya menulis sebuah laporan utama sepulang
melakukan liputan di Filipina Selatan. Pak Amir Daud, Redaktur
Pelaksana waktu itu, 1981, memanggil saya ke mejanya. “Berapa usia
Anda?”, katanya. Tentu saya kaget. Untuk apa usia ditanya kalau
masalahnya ada pada tulisan. Tapi saya jawab melihat ia sangat serius.

“Kalau begitu Anda masih bisa berubah. Mulai sekarang, berubahlah,”
ujarnya. Lalu ia menunjuk kesalahan itu. Ternyata, saya sembarangan
meletakkan titik dan koma. Di mata Pak Amir, saya sembrono.

Ya, sembrono. Itulah yang saya lihat setelah membaca tulisan Ulil
Abshar-Abdalla dari Departmen of Near Eastern Languages and
Civilizations, Harvard University, yang dimuat di Milist ICRP juga
dimuat dalam kolomnya di situs Jaringan Islam Liberal (JIL), tanggal
30 November 2007. Ia menanggapi artikel saya, Dari Moshaddeg Sampai
Mount Carmel (www.hidayatullah.com, 23 dan 24 November 2007).

Ia mengabaikan begitu saja pendapat bahwa sanksi penistaan agama yang
terjadi di Eropa dan Amerika jauh lebih kejam dan lebih sektarian.
Tapi kesemboronon Ulil tak terbatas titik, koma. Ia malah berbuat
seenaknya dengan fakta, sesuatu yang di kalangan wartawan ditempatkan
pada posisi amat tinggi. Tentu juga mestinya di kalangan intelektual
semacam Ulil. Bagaimana mungkin dia membuat analisa yang benar, kalau
faktanya salah. Garbage in, garbage out. Yang masuk sampah, pasti
keluarnya sampah.

Berikut saya tunjukkan sampah itu.

Dia menyebut semua sekte, aliran, mazhab, dan keyakinan bisa
berkembang bebas di negeri Barat. Sebagai contoh ia tunjuk Mormon
yang salah satu pengikutnya, Mitt Romney, pernah menjadi gubernur dua
priode di negara bagian Massachusetts. Romney sekarang menjadi bakal
calon presiden dari Partai Republik.

Saya mulai dari garbage kecil ini. Adalah bohong kalau dikatakan
Romney (nama lengkapnya Willard Mitt Romney, 60 tahun) menjabat
gubernur dalam dua priode. Ia cuma satu priode Gubernur
Massachusetts, 2002 – 2006. Pada 1994, eksekutif sukses ini pernah
mencalonkan diri menjadi anggota Senat mewakili Partai Republik, tapi
dikalahkan Edward M.Kennedy (Partai Demokrat). Penyebab terpenting
kekalahannya, ya soal agama Mormonnya itu (lihat artikel Michael
Paulson, the Boston Globe, 9 November 2002).

Dalam pemilihan gubernur 2002 yang dimenangkannya, Romney menghadapi
Shannon O’Brien, seorang Katolik. Untuk diketahui Massachusetts cukup
heterogen, banyak etnik dan agama. Tapi mayoritas penduduknya Katolik
(44%), lalu Kristen 22%, sisanya Atheis, Yahudi, Buddha, Hindu,
Islam, dan Mormon.

Pada masa kampanye kali ini soal Mormonnya tak ditembaki lawan.
Masalahnya, lawan juga sedang grogi bila agama dibawa-bawa. Isu
penyelewengan seksual oknum pastor dengan anak altar sedang
menghangat waktu itu. Kemudian nama Romney lagi berkibar sebagai
penyelanggara Olimpiade Musim Dingin di Salt Lake City. Perhelatan
akbar itu nyaris gagal karena panitia dilanda berbagai skandal.
Romney muncul sebagai penyelamat.

Bagaimana peluangnya kini sebagai bakal calon Presiden Partai
Republik? Tipis sekali. Penyebabnya agamanya itu. Itulah sekarang
yang menjadi isu hangat di sekitar pencalonan Romney. Survei the Wall
Street Journal/NBC, awal November lalu, menunjukkan mayoritas
responden tak bisa menerima seorang Mormon menjadi Presiden Amerika
Serikat. Yang menyatakan bisa hanya 38% (the Washington Post, 28
November 2007). Nah, benar kan? Kalau masukan salah analisa salah
pula.

Sekarang mengancik ke soal sampah yang lebih serius. Kata Ulil,
Mormon bebas berkembang di Amerika. Dari mana cerita itu didapatnya?
Sejarah menunjukkan banyak darah berceceran di sekitar eksistensi
sekte yang resminya disebut the Church of Jesus Christ of Latter-Day
Saints.

Pencetus dan pemimpin pertama Mormon adalah Joseph Smith, lahir di
Vermont pada 1805. Smith mengaku bertemu langsung dengan Tuhan dan
Malaikat lalu mendapat petunjuk untuk menyebarkan ajarannya yang ia
peroleh dari tulisan di piring emas di pegunungan New York. Tulisan
ia terjemahkan selama berbulan-bulan dan menjadi kitab suci orang
Mormon, the Book of Mormon. Jadi Mormon agama yang lahir di Amerika.
Ajarannya mirip Kristen tapi mengharamkan arak, menghalalkan
poligami.

Tentu Joseph Smith dan pengikutnya tak bisa diterima masyarakat. Ia
dianggap menyebarkan ajaran aneh yang bid’ah. Konflik sering terjadi.
Mereka terlibat beberapa perkelahian dengan penduduk Missouri.
Akhirnya, pada 27 Oktober 1838, Gubernur Missouri, Lilburn Boggs,
mengeluarkan perintah memburu kaum Mormon yang disebut extermination
order (perintah pembasmian). Sekitar 2500 tentara menyerbu
perkampungan Mormon. Sejumlah pengikut Smith terbunuh, banyak wanita
diperkosa. Smith dan beberapa pendetanya ditangkap. Untuk diketahui,
extermination order itu berlaku 100 tahun lebih sampai dicabut oleh
Gubernur Missouri Christopher Bond di tahun 1976.

Sekian lama ditahan, akhirnya Smith dan kawan-kawan dibebaskan.
Mereka membangun perkampungan di tepi Sungai Missouri. Lama kelamaan
banyak orang baru bergabung sehingga jumlah jemaah bertambah besar.
Mereka kembali bentrok dengan masyarakat. Joseph Smith, adiknya Hyrum
Smith, dan dua pembantunya ditangkap. Pada pagi 27 Juni 1844, sekitar
200 massa mengepung penjara. Mereka bunuh Smith, adik, dan
pembantunya (lihat artikel Jay Lindsay di Associated Press, 28
Januari 2006).

Sejak itu pengikut Smith kocar-kacir sampai belakangan datang
pemimpin baru, Brigham Young, yang mengkonsolidasikan mereka. Dan itu
tak gampang. Hanya berkat kegigihan dan keuletan saja mereka bisa
bertahan. Di Massachusetts, misalnya, seperti ditulis Jay Lindsay,
baru di tahun 1960-an, Mormon bisa datang kembali.

Dengan kisah berdarah-darah ini –sudah ditulis di banyak buku–
bagaimana Ulil berani mengatakan semua sekte, aliran, mazhab, dan
keyakinan bisa berkembang bebas di negara Barat?

Apalagi, dengan gagah berani ia menulis: “Saat ini, di seluruh negeri
Eropa dan Amerika (juga Kanada dan Australia) nyaris `’mustahil”,
sekali lagi nyaris mustahil, kita jumpai kasus sebuah sekte
diberangus atau dirusak propertinya karena membawa ajaran yang
menyimpang.”

Rupanya, peristiwa 19 April 1993, ketika FBI meledakkan dan membakar
habis perkampungan Sekte Cabang David, mengakibatkan kematian David
Koresh dan 80-an pengikutnya di Mount Carmel, Waco, Texas, tak
dilihat Ulil sebagai perusakan properti sebuah sekte, aliran, atau
ajaran.

Ilmu sihir apa yang telah menutup mata Ulil sehingga tak mampu
melihat fakta itu? Guna melengkapinya di sini saya cuplikkan beberapa
peristiwa yang relevan, yang sempat saya kumpulkan:

The New York Times, 7 Maret 2004, menulis, pada hari Jumat, dua
masjid dibakar di Annecy dan Seynod (Francis). Tak ada korban jiwa.
Tapi peristiwa itu membuat marah kalangan Islam setempat karena tak
ada respons dari pemerintah. Itu sangat kontras dengan pembakaran
sebuah sekolah Yahudi, November sebelumnya. Ketika itu, hanya
beberapa jam kemudian, Menteri Dalam Negeri Nicolas Sarkozy, langsung
meninjau ke lapangan dan mengomentari peristiwa itu sebagai tindakan
rasis.

Esoknya, baru Kantor Presiden mengeluarkan siaran pers menanggapi
pembakaran masjid, mengatakan bahwa Presiden Chirac sangat terkejut
atas serangan dan dengan keras mengecam aksi yang menjijikkan itu.
The New York Times, 24 Desember 2004, memuat berita sebuah masjid
yang baru selesai dibangun di kota kecil Usingen, di barat laut
Frankfurt (Jerman), telah terbakar. Menurut polisi, pembakaran
dilakukan seseorang dengan sengaja. Pada bulan lalu, setelah terjadi
pembakaran masjid di Belanda, sebuah botol berisi minyak tanah
dilemparkan seseorang ke sebuah masjid di dekat Kota Sinsheim,
Jerman.

Fakta di atas, sekali lagi, terbatas yang sempat saya kumpulkan. Saya
tak tahu persis sudah berapa banyak Sinagog – belakangan Masjid –
yang dirusak selama ini di Eropa atau Amerika.

Di dalam buku A Brief History of Blaspemy (The Orwel Press, 1990),
Richard Webster menulis, kebencian orang Eropa kepada Yahudi yang
dikenal sebagai anti-semit, sesungguhnya punya akar yang dalam.
Sekadar contoh, tulis Webster, di dalam risalahnya, Of the Jews and
Their Lies, pelopor reformasi gereja Martin Luther menyatakan seluruh
orang Yahudi sebagai tamak dan rakus.

Tapi terutama setelah pembunuhan orang Yahudi oleh Nazi Jerman selama
Perang Dunia II, perlahan-lahan prasangka dan kebencian terhadap
orang Yahudi berpindah kepada orang Arab dan Islam. Jadi tak usah
heran kalau aksi perusakan Sinagog di Eropa kini pindah ke Masjid.

Karena itu pula orang Islam di Jerman, Inggris, Francis, Belanda, dan
sejumlah negara Eropa lainnya, bukan main sulit membangun masjid.
Saya punya segepok kliping koran yang menulis berita itu. Banyak
rencana membangun masjid sampai bertahun-tahun tak bisa terlaksana.
The New York Times, 6 Juli 2007, sampai menuliskannya di dalam
editorial soal sulitnya pembangunan masjid di Cologne, Jerman, dengan
judul, ”Celebrating, Not Hiding”.

Di Amerika juga sama. Kelompok Ahmadiyah berencana membangun masjid
dan pusat kebudayaan di atas tanah seluas 90 ha di kawasan terpencil
di Walkersville, Maryland, sampai sekarang tak kunjung berhasil.
Masyarakat setempat keberatan (The Washington Post, 23 Oktober 2007).
Ayolah Ulil, tunjukkan di mana kebebasan dan toleransi Barat yang
Anda cekokkan kepada teman-teman Anda selama ini? Mereka itu rasis
Ulil. Terlalu banyak fakta sejarah yang tak bisa dihapus: mulai
pemusnahan Indian, perbudakan orang hitam, pembunuhan dan pengusiran
orang China, sampai sekarang giliran orang Arab dan Islam.

Seolah terlihat hijau

Akhirnya, saya khawatir Ulil melihat Barat seperti melihat hutan dari
jauh: semua terlihat hijau royo-royo. Padahal bila didekati kelihatan
pohon yang sudah gundul terbakar, tebing yang longsor, pohon-pohon
tumbang ditebang penduduk untuk kayu bakar, atau sungai yang dicemari
bungkus plastik supermie dan puntung rokok.

Tapi yang paling mengagetkan saya pernyataan Ulil berikut.
Katanya, “Eropa belajar dari sejarah kelam itu hingga sekarang.
Hasilnya tentu bukan main: lahirnya negara sekuler yang melindungi
kebebasan beragama. Atau tepatnya melindungi agama dari intervensi
negara (versi Roger William), dan melindungi negara dari intervensi
agama (versi Thomas Jefferson). Kedua intervensi itu sangat buruk
akibatnya baik bagi agama atau negara sendiri.”

Padahal sudah beberapa tahun ini, setidaknya sejak peristiwa serangan
teroris terhadap menara kembar WTC di New York, 2001, tak sedikit
buku yang terbit, tak terhitung artikel ditulis, yang menyoroti
bagaimana Amerika Serikat tak lagi membatasi hubungan agama dengan
negara seperti yang digembar-gemborkan Ulil itu.

Saya tak ingin memperdebatkan baik-buruk, manfaat-mudharat, dari
terbaurnya hubungan itu. Seperti saya juga tak mau memperdebatkan di
sini konsistensi sikap Thomas Jefferson, nama yang dikutip Ulil. Ia
merancang Declaration of Independence yang begitu muluk bicara
tentang kebebasan, sementara ia sendiri memiliki ratusan budak. Malah
sampai meninggal dunia ia meninggalkan budak-budak yang diburu dari
Afrika sebagai harta warisan.

Jefferson rupanya gambaran dari negara yang diwariskannya: mengekspor
demokrasi ke mana-mana sembari membunuhi jutaan rakyat tak berdosa di
mana-mana. Mulai Vietnam, Laos, Korea, Iraq, Lebanon, Nikaragua,
Guatemala, Panama, dan banyak lagi. Inilah satu-satunya negara di
dunia yang tega membunuh lebih 200 ribu rakyat tak berdosa dengan bom
atom uranium di Nagasaki dan Hirosima. Picing mata pada pembangunan
arsenal nuklir Israel di Dimona, tapi mencak-mencak kepada nuklir
Iran.

Amerika kini merupakan satu-satunya negara besar di dunia yang
menolak meratifikasi Protokol Kyoto, karena para tokoh Kristen
Evangelical yang sangat berpengaruh di Partai Republik dan Gedung
Putih menganggap bukan karbon dioksida yang menyebabkan perubahan
iklim. Semua ditentukan oleh Yang Mahakuasa (Almighty).

Iraq diserang, Saddam Hussein ditumbangkan, karena ia dianggap
pengganti Nebuchadnezzar, Raja Babylonia yang memerangi Israel dan
merusak Jerusalem pada tahun 586 sebelum Masehi. Jadi senjata
pemusnah massal atau upaya demokratisasi hanyalah dalih.

Selanjutnya setahun setelah Baghdad dikuasai, koran the Los Angeles
Times melakukan survei dan menemukan 30 misionaris Evangelical di
kota itu yang menempel (embeded) pada tentara pendudukan Amerika.
Kyle Fisk, Kepala Administrasi the National Association of
Evangelicals, mengatakan kepada wartawan koran itu, ”Iraq akan
menjadi pusat penyebaran ajaran Jesus Kristus ke Iran, Libya, dan ke
seluruh Timur Tengah.” (the Los Angeles Times, 18 Maret 2004).

Pemberantasan penyakit Aids dengan cara pantang berhubungan seks
sembarang (abstinence), abortus diharamkan, begitu pula riset sel
tunas (stem-cell research), dan banyak lagi nilai-nilai Gereja
lainnya. Meski akhir tahun lalu, Partai Republik kalah dalam Pemilu
sela dan kehilangan suara mayoritas di Senat dan DPR, ternyata
Oktober lalu, DPR tetap menyetujui menaikkan anggaran program
abtinence dari 28 juta menjadi 200 juta dollar setahun. Kenapa?
Karena para tokoh Partai Demokrat pun keder pada kelompok Evangelical
yang diduga punya pengaruh atas sekitar 30% pemilih.

Pantaslah Bill Moyers, bekas wartawan televisi yang kini menjadi
aktivis Gereja Evangelical, ketika berbicara di Harvard Medical
School, 4 Desember 2004, berkata, “Untuk pertama kali dalam sejarah
kita, ideologi dan theologi memonopoli kekuasaan di Washington.”

Dimulai sejak zaman Presiden Reagan, tapi terutama pada dua priode
kepemimpinan Bush, pelan-pelan Amerika sudah mendekati negara
theokrasi dan Partai Republik merupakan partai Kristen pertama dalam
sejarah Amerika. Bacalah American Theocracy (Viking Penguin, 2006)
ditulis Kevin Phillips, penasehat politik utama Partai Republik di
zaman Nixon.

Fenomena itu cukup jelas diterangkan Profesor Samuel P.Huntington di
dalam Who Are We? America’s Great Debate (The Free Press, 2005). Saya
tak ingin mengulangi lagi cerita itu. Sudah saya tulis di
www.hdayatullah.com: An-Naim dan “Perang” Presiden Bush, 15 Agustus
2007, dan Hizbut Tahrir, Sekularisme dan Fenomena Global, 27 Agustus
2007. Cerita ini saja sudah terlalu panjang. [www.hidayatullah.com]

* Penulis adalah mantan Redaktur GATRA dan TEMPO. Kini, bergabung
dengan IPS (Institute for Policy Studies) Jakarta

Ref: http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&task=view&id=5919&Itemid=1