Strict Standards: Non-static method FeedWordPress::needs_upgrade() should not be called statically in /home/hsufehmi/islam.sufehmi.com/wp-content/plugins/feedwordpress/feedwordpress.php on line 113

Strict Standards: Non-static method FeedWordPress::stale() should not be called statically in /home/hsufehmi/islam.sufehmi.com/wp-content/plugins/feedwordpress/feedwordpress.php on line 179

Strict Standards: Non-static method FeedWordPress::update_requested() should not be called statically in /home/hsufehmi/islam.sufehmi.com/wp-content/plugins/feedwordpress/feedwordpress.php on line 184
Islam @ Sufehmi.com » 2008 » January

Archive for January, 2008

Aa Gym Menjawab

Thursday, January 31st, 2008

Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/hsufehmi/islam.sufehmi.com/wp-includes/functions-formatting.php on line 83

Setelah heboh soal poligaminya, akhirnya Aa Gym kembali mau muncul di media massa untuk pertama kalinya.

Saya sendiri baru tahu ada interview ini. Bagi yang juga melewatkan acara ini, silahkan kita bisa tonton via Internet di website RadioDakwah.

Sepertinya menarik sekali; misalnya mengenai hikmahnya, yaitu beliau jadi bisa lebih banyak berkumpul dengan keluarganya. Mengharukan sekali, saya tahu dulu Aa Gym sering tidak tega menolak undangan sehingga kemudian memaksakan diri, sampai kesehatannya jadi cukup rapuh. Alhamdulillah sekarang jadi bisa lebih banyak berkumpul dengan keluarganya.
Juga saya dulu agak kurang senang dengan beberapa bisnisnya yang terlihat mengkultuskan diri beliau. Alhamdulillah itu juga kini sudah selesai masalahnya.

Mudah-mudahan selanjutnya dakwah beliau di masa depan bisa jadi lebih bermanfaat lagi bagi lebih banyak orang.

Enjoy.

Wudhu : hemat & cepat

Sunday, January 20th, 2008

Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/hsufehmi/islam.sufehmi.com/wp-includes/functions-formatting.php on line 83



03082007(001)

Originally uploaded by hsufehmi

Beberapa waktu yang lalu saya ada meeting di Plaza Senayan, sampai masuk waktu maghrib. Saya minta izin kepada hadirin, dan kemudian pergi menuju ke musholla.

Ternyata mushollanya ramai sekali, baguslah :)
Tetapi, ternyata ada “kemacetan” di ruang wudhu.

Yah, lagi-lagi terjadi seperti yang saya ceritakan disini.
Nyaris semua orang berwudhu dengan sangat lambat, dan dengan membuka keran air yang sebesar-besarnya. Padahal, cara wudhu Nabi saw yang sebetulnya sangat ringkas & hemat air.

Foto pada posting ini memperlihatkan peringatan di musholla di gedung Cyber. Akhirnya, ada juga pengurus musholla yang paham soal ini.
Salut kepada para pengurusnya. Moga-moga semakin banyak yang mengetahuinya.

Pengajian Expat / Muslim expat gathering

Tuesday, January 15th, 2008

Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/hsufehmi/islam.sufehmi.com/wp-includes/functions-formatting.php on line 83

I forgot to mention this before - several weeks ago, me & Helen came to visit friends of ours, mbak Ira and her husband Ian. We knew them back when we were in UK. They held a gathering in their home, and we came there. They specifically asked us to keep in touch when we went back to Indonesia.
Who knew that they actually moved here themselves :) great stuff indeed.

Anyway, we visited their house in Kemang. Turned out that it’s also a “pengajian” / gathering. In the event there most of the guests are expats with their spouse. Most of the time we were speaking English, to honor those who still new and can not speak much Indonesian yet.

After the event mbak Ira spoke to us, telling that she’s planning to do the gathering / pengajian routinely. I asked her if it’s okay to let others know about it, to which she replied an enthusiastic “yes”.
So here you go.

The gatherings will be done in their house in Kemang, which is already a place where most expats are. So it shouldn’t be too hard to visit.
If you’re interested, just let me know, then I’ll confirm you to them first (to protect their privacy before they confirm you as their guest).

Actually there are Indonesians in the gathering as well, us for example. And most of the expats spouses are Indonesian. Also there’s this senior manager of Indomilk (indonesian) that came too.
So they’re not exactly rejecting Indonesian guests.

However, do be informed that the events will be in English, and most wlll focus on expat-related topics (eg: some of us will find the topic rather elementary).
And even though their house is big, the event proved quite popular already. So I think it’s normal to prioritize in this case.

There you go, hope someone will find this info useful.

Software Faroidh

Tuesday, January 15th, 2008

Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/hsufehmi/islam.sufehmi.com/wp-includes/functions-formatting.php on line 83

Faroidh adalah ilmu hukum waris dalam Islam. Tidak banyak yang menguasai topik ini, dan karena itu kadang bagi yang awam mengalami kesulitan untuk mendapatkan kepastiannya.
Padahal biasanya kebutuhan akan hal ini terjadi pada saat yang penting (kematian keluarga) dan jawabannya dibutuhkan dalam waktu cepat.

Alhamdulillah sekitar 10 tahun yang lalu ada kawan saya, Bpk. Agung Yulianto, yang membuatkan software tersebut, dan mewakafkannya kepada publik.
[ Software Faroidh tersebut bisa di download dari halaman ini ]

Namun harap diperhatikan bahwa kemungkinan software tersebut belum sempurna 100%. Tadi pagi saya mendapatkan email terlampir. Jika Anda menggunakan software faroidh yang saya cantumkan diatas, sebaiknya bisa sambil memperhatikan juga isi email tersebut.

Semoga bermanfaat.

assalamualaikum,

Setelah kami download dan pergunakan program Faraidh dari Ust Agung yang disebarkan gratis di internet, kami mendapatkan kerancuan di beberapa masalah utamanya dalam Ijma ttg Ilmu Al-Mawarits, dalam program ini belum benar.

Dan saudari seibu tidak dicantumkan serta sudah jelas dalam surat An-Nisaa: 12, serta beberapa hal yang kami rasa perlu diteliti ulang lagi,

Mohon maaf jika kami salah
Untuk ishlah sesama muslim

Wassalam
Muhammad Jabal A.N, Lc
Majelis Al-Mawarits

Hidup damai bersama Ahmadiyyah

Tuesday, January 8th, 2008

Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/hsufehmi/islam.sufehmi.com/wp-includes/functions-formatting.php on line 83

Pagi ini (9 Januari 2008) saya membaca koran Republika, di halaman pertama ada tulisan bahwa para penganut Ahmadiyyah telah dapat hidup dengan tenang di “kampung halaman”-nya, Pakistan, sejak tahun 1974.

Benar-benar berita yang menyejukkan. Mudah-mudahan di Indonesia juga bisa segera menjadi kenyataan.

Islam & agama lainnya

Islam mengajarkan, langsung di Al-Quran, bahwa para penganutnya wajib bersilaturahmi dengan baik kepada penganut agama lainnya. Dengan konsep kebebasan beragama “lakum dinukum waliyadin”, kewajiban tersebut bisa menjadi kenyataan.

Tidak hanya itu, kemudian Nabi saw juga memberikan contoh dalam kehidupannya sehari-hari. Sampai ke berbagai contoh yang “ekstrim” & rasanya tidak akan bisa kita temukan lagi di zaman ini - seperti pengemis Yahudi buta yang sangat benci & selalu mencaci maki Nabi Muhammad justru tetap disayangi oleh beliau sampai akhir hayatnya.

Jadi sudah terlalu banyak penegasannya bahwa umat Muslim wajib untuk bermuamalah dengan baik kepada umat lainnya.

Solusi Ahmadiyyah di Pakistan

Kembali ke topik awal - bagaimana caranya sampai jamaah Ahmadiyyah bisa hidup dengan damai di Pakistan ? Ternyata sederhana saja - Ahmadiyyah telah diakui sebagai agama yang tersendiri. Dan para jamaahnya juga mengaku sebagai penganut agama Ahmadiyyah.
Mereka tidak mengaku-aku sebagai beragama Islam.

Maka dengan demikian, umat Muslim & umat Ahmadiyyah dapat saling berhubungan dengan baik & damai.

Masalah di Indonesia

Kenapa di Indonesia masih bermasalah ? Ternyata, ini karena organisasi JAI (Jemaat Ahmadiyyah Indonesia) masih ngotot bahwa Ahmadiyyah adalah Islam.

Padahal, dalam pertemuan di Balitbang Depag & Mabes Polri, yang menghasilkan 12 butir pernyataan JAI, mereka jelas menyatakan & mengakui bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah Rasul Allah (sumber: Republika 9 Januari 2008).
Tentu saja ini berbeda 100% dengan dasar kepercayaan Islam, yang meyakini bahwa tidak ada lagi Nabi/Rasul setelah Nabi Muhammad saw.

Solusi di Indonesia

Sebetulnya kita tinggal meniru teladan Pakistan saja - umumkan tentang keberadaan agama Ahmadiyyah.

Maka kemudian para penganutnya jadi bisa bebas melakukan ajaran agamanya. Dan para pelaku anarkis bisa dengan mudah ditangkap & ditindak oleh para penegak hukum.

Fakta di seluruh dunia

Ulama Islam di seluruh dunia telah sepakat menyatakan bahwa Ahmadiyyah adalah agama tersendiri, sejak dahulu kala.

Rabithah Alam Islami telah mengeluarkan pernyataan ini sejak tahun 1981. Malaysia & Brunei juga sudah lama menyatakan hal yang sama.

Dukungan kepada NU & Menag

Pada hari Selasa, 8 Januari 2008, Amir Nasional Jemaat Ahmadiyah Indonesia, Abdul Basyit, menemui Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi, di Kantor PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta. Ia meminta NU bisa mendesak pemerintah agar melindungi jamaahnya sebagaimana warga negara yang lain.

Disini saya sangat salut dengan sikap pak Hasyim yang tetap teguh dalam memegang prinsipnya.
Beliau menyatakan kembali bahwa Ahmadiyyah memang adalah agama tersendiri (”Saya juga bisa setuju ketidaksetujuan mereka (MUI)”).

Namun beliau mengingatkan bahwa tindakan main hakim jelas adalah suatu hal yang sangat salah.

Di akhir dialog, beliau menyatakan bahwa fatwa MUI tidak bisa dituding sebagai penyebab kekerasan terhadap pengikut Ahmadiyyah. “Yang memicu kekerasan adalah demokrasi yang tidak terbatas,” tandasnya.

Menteri Agama, Maftuh Basyuni, juga menunjukkan sikap yang sama. Kalau Ahmadiyyah ingin dianggap sebagai agama Islam,ya tentunya harus sesuai dengan ajaran agama Islam,seperti mengakui Nabi Muhammad saw sebagai Nabi yang terakhir. Kalau tidak ya juga tidak masalah, tinggal mendaftar saja sebagai agama yang baru.

Para pahlawan kesiangan

Pada berbagai kasus, selalu saja ada berbagai pahlawan kesiangan. Tidak terkecuali pula dalam kasus ini. Disini saya mencantumkan beberapa diantara mereka :

[ 1 ] Organisasi JAI & Abdul Basyit : Membelokkan inti masalahnya kemana-mana, termasuk menjadikan ini sebagai komoditas politik. Menyalahkan semua orang lain, kecuali dirinya sendiri.
Memanfaatkan jalur hukum untuk membenarkan kekeliruannya, mirip seperti modus operandi kelompok Scientology.

[ 2 ] Komnas HAM : Biasanya saya simpati & salut dengan kerja keras Komnas HAM melayani masyarakat. Namun dalam kasus ini, ada kemungkinan mereka mendapatkan informasi yang keliru.
Soal Ahmadiyyah bukan pelanggaran HAM (kecuali pada kasus-kasus main hakim sendiri), karena para penganut agama Ahmadiyyah tetap terjamin kebebasan beragamanya di dalam ajaran agama Islam.

[ 3 ] Dawam Rahardjo : menuduh bahwa ada pelanggaran keyakinan beragama dalam kasus Ahmadiyyah di Indonesia.

Kesal karena Menteri Agama menganggapnya keblinger, dia menuduh Menag memiliki pemahaman yang dangkal soal pluralisme.
“Dari semua Menteri Agama, dia yang paling dangkal (pengetahuannya soal pluralisme)”, ketus Dawam. Padahal Tarmizi Taher juga berpendapat sama.

[ 4 ] JIL, P2D, ICRP, P3M, dll : Bukannya membantu menyelesaikan masalah ini, mereka justru membuatnya menjadi semakin keruh dengan turut membelokkan pokok permasalahannya kemana-mana.

Tandas Ulil dengan suara meninggi, “Fatwa haram ini dengan sangat jelas mengancam kebebasan hak beribadah 200 ribu pengikut JAI di seluruh Indonesia dan bukan tidak mungkin fatwa itu akan mengulang peristiwa mihnah (inkuisisi) pada abad XV”.
Keliru mas, pertama MUI bukan mengeluarkan fatwa haram Ahmadiyyah, tapi fatwa bahwa agama Ahmadiyyah bukan agama Islam. Kedua, kebebasan beragama para penganut agama Ahmadiyyah tidak terancam. Ketiga, fatwa MUI akan menyebabkan inkuisisi ? Ini namanya provokasi FUD (fear, uncertainty, doubt).

Kesimpulan

Saran & masukan dari KH Hasyim Muzadi serta Menag saya kira sudah sangat baik,yaitu menganjurkan agar Amir JAI bisa membawa diri dengan baik, dan agar semua pihak bisa saling berdialog.
Mudah-mudahan kedamaian antara para penganut agama Ahmadiyyah & penganut agama Islam bisa segera tercapai di Indonesia, amin.