Strict Standards: Non-static method FeedWordPress::needs_upgrade() should not be called statically in /home/hsufehmi/islam.sufehmi.com/wp-content/plugins/feedwordpress/feedwordpress.php on line 113

Strict Standards: Non-static method FeedWordPress::stale() should not be called statically in /home/hsufehmi/islam.sufehmi.com/wp-content/plugins/feedwordpress/feedwordpress.php on line 179

Strict Standards: Non-static method FeedWordPress::update_requested() should not be called statically in /home/hsufehmi/islam.sufehmi.com/wp-content/plugins/feedwordpress/feedwordpress.php on line 184
Islam @ Sufehmi.com » 2008 » June

Archive for June, 2008

Islam Betawi

Friday, June 20th, 2008

Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/hsufehmi/islam.sufehmi.com/wp-includes/functions-formatting.php on line 83

Satu lagi dari kawan saya, pak Geis Chalifah, via milis ISNET. Menarik sekali mengetahui perspektif dari, istilah beliau, Islam Kampung.

Selamat membaca.

Ahmadiyyah, Habib, Betawi, KH Abdullah Syafii etc etc

Allah hu Akbar Allah hu Akbar Allah Allah hu Akbar…
Kalam suci menentukan ku tuk berjuang..
hidup serentak untuk membela kebenaran..
untuk negara bangsa dan kemakmuran.. hukum Allah tegakkan..
Allah Hu Akbar Allah Hu Akbar Allah Allah Hu Akbar..

putera puteri islam harapan agama…
majulah serentak gemgamkan persatuan… kalam Tuhan..
mari kita memuji mari kita memuja..
peganglah persatuan..kalam Tuhan..

Pemuda pemudi islam bangunlah panggilan jihad rampungkan..
wasiat Muhammad peganglah… harta dan jiwa serahkan…
binalah persatuan.. sirnakan perpecahan.. .persatuan ..kalam tuhan
pertikaian menguntungkan musuh tuhan ..
hanya iman tauhid dapat menyatukan.. .
panggilan jihad tirukan …

ulama pemimpin islam dengarlah… demi agama sadarlah..
hentikan pertikaian.. ciptakan perdamaian.. .
tuntutan agama menjadi tujuan….
panggilan jihad tirukan… panggilan jihad tirukan…

– Panggilan Jihad, Radio Assyafiiyah

Asww. Pertama tama saya mohon maaf bila terlambat menanggapi dikarenakan waktu yang tak memungkinkan untuk berkomunikasi melalui milis. Namun Doa saya untuk teman teman semua selama di tanah suci tak pernah putus, baik yang saya kenal wajah dan namanya, maupun yang hanya namanya saja.

Dua minggu kemarin hp saya kebanjiran sms mengenai situasi Jakarta dan ada banyak email melalui Japri tentang Habib Rizieq Shihab dan FPI, Achmadiyah dan banyak hal lainnya. Jangankan untuk menjawab satu persatu, bahkan untuk membacanya saja saya lumayan gagap.

Namun demikian saya ingin menanggapi posting Elza, Tulus, dll dimilis kahmi dan teman teman lainnya yang dikirim melalui japri. Salah satunya yang berjudul Apel Akbar Bubar Setelah Diserbu. yang seolah olah dikesankan saya menyetujui tindakan kekerasan oleh FPI.

Jawaban saya mengenai insiden Monas itu singkat saja. Satu satunya kekerasan yang saya sukai adalah; Bila rudal rudal buatan Rakyat Palestina mengenai tentara Israel yang menindas bangsa Palestina. “Kekerasan” semacam itulah yang saya sukai selebihnya saya tidak suka.

Elza, Mas Tulus dan teman lainnya, dari pertama saudara Saidiman memposting ajakan apel akbar memperingati Hari Lahir Pancasila bersama AKKBB. Saya sudah merasakan ada yang tak beres dengan kegiatan itu, bahkan pada hari H nya saya mendapat sms untuk mengikuti kegiatan tersebut dari nomor yang tidak saya kenali, namun dibawahnya tertulis nama Nong. Ketika saya konfirmasi tak ada jawaban dari sipengirim.

Saya cuma berfikir bahwa mereka para penyelenggara Apel Akbar 1 Juni tidak memiliki sensitifitas terhadap masyarakat Jakarta (”Betawi”), atau jangan jangan tidak mengerti apa dan bagaimana masyarakat Jakarta (”Betawi”) tempat mereka tinggal.

Saya ingin mengurai sedikit saja mengenai masyarakat Jakarta ini. Dulu di Jakarta ada stasiun radio bernama Radio Asyafiiyah di Bali Matraman tepatnya. Setiap pagi menyiarkan da’wah yang di suarakan oleh Almarhum KH Abdullah Syafii, Setiap memulai siaran, radio itu selalu mengumandangkan lagu berjudul Panggilan Jihad yang teksnya saya tuliskan diatas.

Ummi (ibu) saya dan ratusan ribu masyarakat lainnya hafal gelombang radio ini, setiap hari bila ada yang meninggal dunia maka radio ini mengumumkan berita orang yang wafat. Walaupun belum ada hp dimasa itu namun kita dapat dengan cepat mengetahui bila ada kerabat yang meninggal melalui radio Assyafiiyah. Dapat dikatakan sang Kiayi bernama Abdullah Syafii adalah tokoh yang mempersatukan masyarakat Islam di Jakarta melalui radio dan ceramah ceramahnya. (walaupun terkadang saya agak pengeng kuping karena ummi saya selalu menyetelnya keras keras agar anak anaknya bangun untuk sholat subuh :-) ;-) )

KH Abdullah Syafii adalah murid dari Habib Ali Alhabsyi seorang habib yang terkenal dijamannya bertempat di kwitang, sampai saat ini Majelis Ta’limnya masih berjalan diteruskan oleh cucunya bernama Habib Abdurahman Alhabsyi.

Ketika kasus Achmadiyah marak dalam pemberitaan dan pembelaan terhadap mereka pun mengalir dengan deras, sesungguhnya masyarakat berpeci dan berkoko itu sudah sangat muak. Mereka tidak menyukai kekerasan namun juga tak suka Achmadiyah didiamkan. Sesungguhnya warna masyarakat Jakarta aselinya adalah yang turun di hari senin kemarin. Mereka adalah masyarakat diam, masyarakat yang tergabung di ribuan Majelis Ta’lim yang dikelola oleh Habaib maupun Ustadz ustadz “betawi” yang umumnya memiliki kedekatan emosional dengan para Habaib, karena sebagian besar mereka adalah murid muridnya. baik langsung ataupun tidak langsung.

Habib Abdurahman Assegaf adalah salah satu contoh seorang guru yang memiliki ribuan murid dan murid muridnya itu menghasilkan murid lagi, bisa diperkirakan berapakah muridnya dia, bila dari umur sebelas tahun beliau mengajar sampai akhir hayatnya diumur 90 tahun lebih. Para Habib di masa itu kebanyakan adalah habib yang tawadhu, semua langkahnya hanya berurusan dengan Syiar Islam dan tak terkait dengan politik dalam arti kepentingan pribadi, oleh karenanya mereka sangat di hormati oleh masyarakat “betawi” ini.

Masyarakat diam itu secara ekonomi tersingkirkan, yang mereka miliki tinggal satu yaitu keyakinan keagamaan pada Islam, dimana Rasulullah Muhammad SAW adalah pujaan mereka setiap hari yang disenandungkan melalui shalawatan baik beramai ramai maupun ratiban secara personal. Apa yang dilakukan oleh teman teman di Monas itu secara tidak langsuing sebenarnya adalah “menghina” mereka, “menghina” keyakinan mereka pada Rasulnya.

Mereka Islam “kampung” sama seperti saya, kita kita ini cuma lahirnya saja di metropolitan namun pendidikan Islam masyarakat disini adalah Islam tradisional, saya lahir dan besar dalam suasana itu, mohon maaf Lutfi Assauqani yang ” Liberal” itu pada dasarnya sama seperti saya sama seperti kaum berpeci dan berkoko yang turun ke jalan dihari senin itu, yaitu islam “kampung” Islam tradisional yang pada intinya tak pelik pelik dalam menghayati Tuhan dan keberadaannya. Cuma Lutfi lagi ganti kulit dan saya tak mau ganti kulit saya tetap lebih suka menjadi Islam “kampung” ketimbang beraneh aneh dalam beragama. Walaupun HMI sedikit banyak telah merubah pemikiran maupun pola ibadah ritual islam saya setelah mahasiswa, namun saya tetap menghormati para Habaib masa lalu yang sudah Almarhum, KH Abdullah Syafii dan Habib Habib lainnya yang masih tawadhu yang tak terjebak dalam interes pribadi, dan ribuan muridnya yang telah mensyiarkan Islam dengan tulus dan ikhlas. Bahkan setelah menjadi pengurus Alirsyad pun saya tetap hadir dalam undangan Maulid ataupun Khaul yang di gelar oleh para habaib itu. (maaf bagi yang anti bid’ah buat saya hubungan kemanusiaan jauh lebih penting ketimbang berpegang secara kaku pada mazhab). Beberapa efek sosial kegiatan maulid ini sudah saya jelaskan dalam posting terdahulu.

Mayoritas masyarakat “Betawi” di Jakarta berfaham Ahlus Sunnah Waljamaah sama persis dengan fahamnya NU, namun bukan Gusdur yang menjadi panutan disini, panutan masyarakat berpeci dan berkoko di Jakarta adalah KH Abdullah Syafii, Habib Abdurahman Assegaf, Habib Umar bin Hud Al Atas (cipayung) yang semuanya sudah Almarhum.

Itu sebabnya Muhamadiyah, Alirsyad, Persis, tidak laku di masyarakat Jakarta (”Betawi”) ini.

Ketika permintaan membubarkan Achmadiyah telah mulai surut dari pemberitaan, kemudian dari beberapa tokohnya saya mendapat berita bahwa mereka “menyerah” karena tahu persis bahwa pemerintah tak akan membubarkan. Terlebih setelah ada berita tentang empat negara mendatangi DEPAG melalui perwakilannya.

Saya agak aneh melihat undangan apel akbar, untuk apa lagi apel akbar diadakan? untuk apa lagi memberi dukungan pada Achmadiyah dengan membawa massa? yang telah jelas sudah “menang” dari sisi opini, terlebih dengan kegigihan Adnan Buyung Nasution dalam membela Achmadiyah.

Maka ketika FPI melakukan penyerbuan saya tidak merasakan kejanggalan karena provokasi itu sudah dibangun dari sebelum sebelumnya. Bahkan jauh hari sebelumnya saya sudah menulis dimilis kahmi dan lainnya dengan judul “Kampanye Memelorotkan Syariah Islam” yang berisi provokasi pada FPI dan lainnya. Bentrokan itu hanya menunggu waktu saja bahklan kalau bukan dengan FPI akan ada kemungkinan dengan Masyarakat “Betawi” Tanah Abang, atau Condet atau Jatinegara tergantung siapa yang mampu menggerakkannya.

Lebih jauh lagi saya ingin bertanya benarkah kaum liberal pembela pluralisme itu marah dengan sikap FPI ? Saya katakan sama sekali tidak. Karena itulah yang mereka inginkan, bentrokan itu memang sudah ditunggu tunggu agar kampanye anti Islam syariah semakin mudah, terlebih dengan dukungan media masa yang demikian kuat bahkan pemilahan beritapun dibuat sedemikian rupa. Semua hanya skenario dan korban yang jatuh dianggap adalah resiko yang harus di tanggung, kira kira seperti demo Mahasiswa 66 dan 98 berharap ada mahasiswa yang mati agar gerakan lebih dramatis dan mendapat dukungan luas.

Saya tidak membenarkan tindakan FPI namun tolong dilihat juga bagaimana tingkah para pendukung Achmadiyah itu, setidaknya punyakah mereka sedikit EMPATI terhadap para “Islam Kampung” yang tak sehebat mereka dalam berfikir pluralisme dan tetek bengek lainnya. Punyakah mereka rasa toleran terhadap kejumudan berfikir kita kita ini yang masih kampungan, tradisional, perlu pencerahan,dsb dsb. Adakah orang orang hebat yang elitis yang Doktoral summa cumlaude mengerti masyarakatnya sendiri.???

Semakin “tinggi” seseorang terkadang semakin tak menginjak bumi….

Salam
Geis Chalifah

Ahmadiyah vs FPI : Kronologi singkat

Wednesday, June 18th, 2008

Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/hsufehmi/islam.sufehmi.com/wp-includes/functions-formatting.php on line 83

Kasus Ahmadiyyah / AKKBB versus FPI sudah amat sangat banyak dibahas oleh berbagai pihak dan berbagai media, dari berbagai sudut. Tapi masih ada satu hal lagi yang sangat menarik - yaitu bagaimana situasi berbalik 180 derajat dengan sangat tidak disangka-sangka.

Seingat saya, pada awal kasus itu situasi benar-benar sangat genting bagi FPI. Ahmadiyyah / AKKBB benar-benar berada di posisi yang sangat di atas angin.
Saya ingat melihat foto Presiden sedang mengadakan rapat koordinasi langsung dengan banyak pejabat & menteri untuk membahas hal ini, dan sekaligus mengecam kekerasan tersebut.

Yang muncul di benak saya ketika itu adalah, habislah FPI kali ini. Sudah tidak nampak lagi cara untuk menyelamatkan diri mereka.

Karena itu saya amat terkejut ketika, terasa sangat tiba-tiba, situasi berbalik dan dengan cepat mengerucut pada keluarnya SKB Ahmadiyyah.
SKB yang telah lama ditunggu-tunggu selama berbulan-bulan itu justru akhirnya muncul ketika Ahmadiyyah sedang berada di posisi di atas angin.

Dan kini posisinya sudah berbalik total - AKKBB tidak terdengar lagi suaranya, JAI tidak berkutik.

Mengapa bisa demikian?
Jangan tanya saya, saya juga cuma bisa tercengang melihatnya :)

Anyway, terlampir adalah email dari pak Geis Chalifah, kawan saya di ISNET. Beliau menyampaikan sekilas kronologi kejadian ini dari perspektif beliau. Disitu bisa kita lihat beberapa situasi di balik layar pada saat kasus ini sedang berjalan.

Mudah-mudahan ada pelajaran & hikmah yang bisa kita dapatkan dari ini semua.

From: Geis Chalifah
To: mus-lim@xxxxxx.isnet.org

Minggu 1 Juni siang hari saya mendapat khabar Apel Akbar AKBB rusuh mereka diserbu oleh massa FPI. Saya langsung terfikir kali ini habislah FPI, Front Pembela Islam itu masuk dalam perangkap, mereka telah di provokasi terus menerus sampai akhirnya terjadi bentrokan dan minggu 1 Juni itu adalah puncak dari berbagai provokasi terhadap mereka.

Malamnya seluruh stasiun berita TV menyiarkan aksi brutal yang dilakukan oleh Massa FPI. Berbagai hujatan bermunculan terutama dari tokoh tokoh pro pluralis, bahkan beberapa sms masuk ke HP saya dengan jelas menuding Habib Rizieq dalang dari semua kejadian itu.

Besoknya saya sudah tak bisa mengikuti berita lagi terkecuali hanya dari sms yang terus menerus memberi khabar, seorang teman saya yang pernah jadi anggota FPI masuk dalam DPO. Agak aneh juga berita itu..? Bang Ical (Faisal Motik) dll juga rajin mengirim berita mengenai kegiatan banser NU dan Garda Bangsa yang membuat latihan perang untuk menyerang markas FPI di Jakarta.

Tokoh tokoh anti kekerasan anti monopoli kebenaran menjunjung tinggi kebebasan, rajin memberi kuliah tentang keberadaban, etika, kebebasan berkeyakinan, toleransi beragama dsbnya. Umat Islam mendapat kuliah gratis setiap hari setiap saat baik melalui media koran maupun media TV tanpa lupa diakhirnya dengan embel embel bubarkan FPI.

Semua sms yang masuk itu terbaca sikap umat islam “tradisional” menjadi ambigu satu sisi tak suka Ahmadiyah satu sisi lainnya kekerasan FPI juga menjadi tamparan tersendiri.

Komunitas Arab ribut terutama karena komentarnya Syafii Maarif yang bernada rasis di koran Sinar Harapan, saya juga gak jelas apa maksud Syafii Maarif itu apa hubungan Arab dengan FPI, termasuk teman saya yang baik hati selalu bertutur lemah lembut dan ahli dalam pemikiran Kunto Widjoyo bernama AE Priyono, juga membawa bawa Arab dalam persoalan FPI itu, Munarman yang jelas terlibat dan ada di Monas apakah ada hubungan dengan asal daerahnya.? Kali ini para orang pintar itu teperosok dalam kemarahan yang tak terkontrol.
Mansyur Alkatiri mengirim sms keluar dari milis akibat postingnya AE Priyono itu.

Semua teman seperjalanan mendapat sms dari keluarga dan teman temannya mengenai situasi Jakarta mengenai kasus insiden Monas. Setiap acara makan bersama setelah selesai sholat dari Masjid, tak lain saling memberi khabar terbaru dan diskusinya adalah situasi terkini dari tanah air..

Berita kemudian datang,markas FPI dikepung sekian ratus polisi untuk menangkap anggota Laskar Pembela Islam yang terlibat insiden Monas.

Kesimpulan kami bersama ketika itu FPI habis sudah dan Ahmadiyah akan menjadi organisasi yang dilindungi memiliki kebebasan yang sama dengan oraginisasi lainnya.

Beberapa hari kemudian muncul sms akan ada demo untuk membubarkan ahmadiyah.

Demo yang tak dirancang dengan baik itu asalnya pun cuma dari segelintir anak anak muda di Pekojan dan Pedati, Saya tak yakin demo itu akan besar karena Partai Islam yang memiliki basis massa dan terbiasa turun kejalan tak memberi respon, terlebih tak lama kemudian dua orang nama Habib yang disebut dalam sms menyatakan tak tahu menahu dengan sms itu.

Situasi mulai berubah

Sabtu pagi seorang teman memberi berita telah ada kesepakatan diantara Kiayi dan Habaib di Jakarta diantarnya Kiayi Abdul Rosyid Abdullah Syafii dll, untuk menggelar Demo di hari Senin, dan sms ajakan demo itupun berseliweran terforward kesekian ribu orang, saya sendiri mendapat sms yang sama sebanyak 10 kali lebih. Anehnya teman teman yang selama ini cenderung “kiri” ikut2an mengirim sms dan mau ikut turun dihari senin itu. Inti demo meminta pemerintah membubarkan Ahmadiyah.

Senin siang sehabis ziarah di maqam Rasul, saya membuka HP langsung ada beberapa sms yang masuk memberitakan Jalan Sudirman Macet total depan Istana dipenuhi oleh masyarakat berpeci dan berkoko.

Tak lama kemudian seorang teman yang sudah berangkat dari Madinah ke Riyadh menelfun sambil berteriak “Allah Hu Akbar Ahmadiyah telah dibubarkan.” Dia mendapat berita dari anggota MER C Jogja. Lalu SMS masuk juga kesaya berisi ketidak puasan atas keputusan SKB baik dari kubu pendukung Ahmadiyah maupun kubu yang anti Ahmadiyah dengan alasan yang berbeda.

Sesampainya di Jakarta saya membuka seluruh halaman koran beberapa hari ke belakang dan berita berita televisi yang telah lewat berhari hari kemarin melalui internet. Luar biasa dasyatnya kampanye anti FPI itu, bahkan program Delik di RCTI tadi malam pun masih memberitakan dengan sangat miring mengenai FPI dan tingkah lakunya yang mencerminkan kekerasan.

Pagi ini saya jalan menuju kantor melewati Matraman, Jatinegara dan condet disepanjang jalan banyak terpampang spanduk berisi meminta Ahmadiyah dibubarkan dan dukungan terhadap FPI. Beberapa anak muda sebelumnya beberapa hari lalu juga menelfun akan mendirikan ranting FPI didaerahnya.

Anehnya lagi semua polling media mengenai pembubaran FPI berakhir dengan hasil terbalik dari yang di kampanyekan, Dukungan untuk FPI tidak dibubarkan jauh lebih tinggi prosentasenya dibanding yang meminta dibubarkan.

Saya tidak mampu menjelaskan para ahli sosiologi lah yang mungkin bisa menjelaskan mengapa kampanye media kali ini gagal dalam membangun opini masyarakat dan membawa kepada apa yang mereka inginkan. Jauh sekali hasilnya dibanding ketika kasus Inul mucul kepermukaan.

Bagi saya pribadi kekerasan LPI adalah satu hal dan pembubaran Ahmadiyah adalah hal lainnya lagi. dan kalau ditanya apa sikap saya pada kekerasan itu Jelas saya tidak menyetujuinya. Namun bila ditanya apakah Ahmadiyah patut dibubarkan maka sikap saya tegas saja. AHMADIYAH HARUS dan WAJIB DIBUBARKAN. Ahmadiyah bukan kasus beda tafsir agama. AHMADIYAH ADALAH PENISTAAN TERHADAP AGAMA.!!!!

Salam,
Geis Chalifah.

Bank Muamalat : masukan untuk tim customer service

Tuesday, June 3rd, 2008

Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/hsufehmi/islam.sufehmi.com/wp-includes/functions-formatting.php on line 83

Salah satu account bank untuk bisnis saya menggunakan Bank Muamalat. Saya senang karena sangat praktis — kartu ATM muamalat bisa digunakan di nyaris SEMUA ATM yang ada di Indonesia.

Ini adalah prestasi luar biasa. Rupanya, bank muamalat berhasil menghubungkan sistem mereka dengan jaringan ATM Bersama ***dan*** jaringan ATM Prima.
Maka kartu ATM muamalat bahkan bisa digunakan di berbagai ATM BCA yang ada. Luar biasa. :D

Berbagai rekanan bisnis saya sampai bengong jadinya. Biasanya percakapannya berlangsung seperti ini :

Dia : eh minta nomor rekening BCA nya dong, nanti saya transfer
Saya : ini nomor rekening muamalat saya
Dia : lho, gak ada yang BCA ?
Saya : ini bisa ditransfer dari ATM BCA kok :)
Dia : hah?? wow ….

Sayangnya ada beberapa kekurangan minornya juga, mudah-mudahan bisa segera diperbaiki. Yaitu :

[ 1 ] Internet banking : saya sudah cek, dan ternyata sudah dalam pengerjaan. Target mereka ini akan tersedia tengah tahun 2009. Yes ! :)

[ 2 ] Masalah pada jaringan ATM Bersama : saya sering mengalami masalah pada ATM di jaringan ATM Bersama :(

Sejauh ini saya sudah kehilangan uang sekitar Rp 10 juta. Yang paling besar ketika Idul Fitri tahun lalu - uang dari rekening muamalat saya ditarik lebih dari Rp 5 juta rupiah, namun tidak sampai di tujuannya.
Belakangan saya dapat kabar bahwa jaringan ATM Bersama memang mengalami overload pada saat tersebut. Cukup banyak kasus serupa yang terjadi.

Sialnya proses pengurusannya cukup lama :( dalam kasus diatas, memakan waktu beberapa bulan.

Nah, sayangnya masalah ini kadang menjadi lebih parah dengan beberapa customer service officer di Bank Muamalat. Seperti yang terjadi pada kasus terbaru yang (lagi-lagi) melibatkan jaringan ATM Bersama.

Ceritanya, pada tanggal 31 Mei 2008, istri saya melakukan penarikan cash Rp 500 ribu sebanyak 3 kali. Namun penarikan yang ketiga tidak keluar uangnya, hanya receiptnya.

Karena sedang sibuk, istri saya baru sempat mencetak rekening bank beberapa hari kemudian.
Disitu malah lebih aneh lagi; transaksi tersebut tercatat tanggal; 2 Juni 2008. Untung bukti transaksi terus dipegang oleh istri saya.

Jadi tadi pagi ini istri saya mengkontak SalamMuamalat untuk mengadukan masalah ini. Sayangnya dialog yang terjadi kurang menyenangkan. Kira-kiranya seperti ini:

Istri saya (IS) : halo mbak, saya mau melaporkan masalah, saya menarik uang dari ATM namun uangnya tidak keluar
Salam Muamalat Officer (SMO) : baik ibu, pada tanggal berapa kejadiannya ?
IS: 31 mei, 3 kali penarikan @ Rp 500 ribu, tapi hanya Rp 1 juta / 2 kali penarikan yang keluar uangnya
IS: saya sudah cetak rekening banknya, dan disitu tercantum pada tanggal 2 juni. Tidak ada transaksi yang tercantum pada tanggal 31 mei
SMO: Lho terus bagaimana dong ?
IS: Lho, kok malah nanya ke saya ? Saya menelpon ini justru ingin menanyakan kenapa aneh begini, dan supaya uang saya bisa kembali. Saya ada pegang bukti transaksi dari ATM nya disini yang tertulis 31 mei.
SMO: (defensif) blabla…. saya juga sering kena marah customer karena kasus serupa juga… blabla

IS: (bingung dan mulai kesal) (kok malah defensif, dan bukannya mengusulkan solusi)
IS: (menjelaskan masalahnya lagi dengan panjang lebar)

IS: OK saya tidak tahu kenapa begitu, mustinya Anda yang lebih tahu & menjelaskan kepada saya. Kalau tidak tahu ya sudah, tapi yang penting bagaimana agar uang saya bisa kembali.
SMO: Baik, kami akan proses, nanti akan kami hubungi 14 hari lagi.
IS: Kalau perlu saya yang akan kontak. Tapi tolong semua informasi yang sudah saya sampaikan tadi dicatat di sistemnya ya. Di kejadian2 sebelumnya saya selalu musti mengulang lagi semua informasinya dari awal setiap kali menelpon, dan adu argumentasi yang sama lagi. Padahal di kontak berikutnya mustinya tinggal melanjutkan, ini malah mengulang-ulang terus dari awal lagi.
SMO: (kembail defensif) blabla ….
IS: (memotong pembicaraan) Maaf namanya siapa?
SMO: (menyebutkan namanya)
IS: OK, mbak XXX, saya akan kontak 14 hari lagi. Dan tolong nanti saya tinggal melanjutkan soal ini, dan tidak mengulang lagi dari awal. Terimakasih.

Ini masukan dari kami untuk Bank Muamalat. Mudah-mudahan selanjutnya pelayanannya bisa menjadi lebih baik lagi.
Terimakasih.