Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/hsufehmi/islam.sufehmi.com/wp-settings.php on line 204

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/hsufehmi/islam.sufehmi.com/wp-settings.php on line 206

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/hsufehmi/islam.sufehmi.com/wp-settings.php on line 207

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/hsufehmi/islam.sufehmi.com/wp-includes/cache.php on line 35

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/hsufehmi/islam.sufehmi.com/wp-content/plugins/feedwordpress/feedwordpress.php on line 180

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/hsufehmi/islam.sufehmi.com/wp-content/plugins/feedwordpress/feedwordpress.php on line 335

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/hsufehmi/islam.sufehmi.com/wp-content/plugins/feedwordpress/feedwordpress.php on line 398

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/hsufehmi/islam.sufehmi.com/wp-content/plugins/feedwordpress/feedwordpress.php on line 654

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/hsufehmi/islam.sufehmi.com/wp-content/plugins/feedwordpress/feedwordpress.php on line 806

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/hsufehmi/islam.sufehmi.com/wp-content/plugins/feedwordpress/feedwordpress.php on line 953

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/hsufehmi/islam.sufehmi.com/wp-content/plugins/feedwordpress/feedwordpress.php on line 1190

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/hsufehmi/islam.sufehmi.com/wp-content/plugins/feedwordpress/feedwordpress.php on line 1854

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/hsufehmi/islam.sufehmi.com/wp-content/plugins/feedwordpress/feedwordpress.php on line 3372

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/hsufehmi/islam.sufehmi.com/wp-content/plugins/feedwordpress/feedwordpress.php on line 3537

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/hsufehmi/islam.sufehmi.com/wp-content/plugins/feedwordpress/feedwordpress.php on line 3600
Islam @ Sufehmi.com » Islam

Archive for the 'Islam' Category

Jews for Palestine - Pelajaran mengenai “generalisasi”

Wednesday, January 14th, 2009

Luar biasa, sangat mengharukan. Saya menemukan surat pembaca dari berbagai tokoh Yahudi di Inggris, yang menyatakan kecaman mereka terhadap Israel.

Di tengah semua kemarahan, emosi, ketidak adilan, dan kekejaman di sepotong kecil tanah bernama Gaza; alhamdulillah masih ada sekelompok orang-orang yang masih bisa berpikir dengan rasional dan kritis. Dan mengutamakan hati kecil mereka daripada egonya.

Terlampir adalah surat mereka ke koran Guardian di Inggris :

We the undersigned are all of Jewish origin.

When we see the dead and bloodied bodies of young children, the cutting off of water, electricity and food, we are reminded of the siege of the Warsaw Ghetto. When Dov Weisglass, an adviser to the Israeli prime minister, Ehud Olmert, talked of putting Gazans “on a diet” and the deputy defence minister, Matan Vilnai, talked about the Palestinians experiencing “a bigger shoah” (holocaust), this reminds us of Governor General Hans Frank in Nazi-occupied Poland, who spoke of “death by hunger”.

The real reason for the attack on Gaza is that Israel is only willing to deal with Palestinian quislings. The main crime of Hamas is not terrorism but its refusal to accept becoming a pawn in the hands of the Israeli occupation regime in Palestine.

The decision last month by the EU council to upgrade relations with Israel, without any specific conditions on human rights, has encouraged further Israeli aggression. The time for appeasing Israel is long past. As a first step, Britain must withdraw the British ambassador to Israel and, as with apartheid South Africa, embark on a programme of boycott, divestment and sanctions.

Ben Birnberg, Prof Haim Bresheeth, Deborah Fink, Bella Freud, Tony Greenstein, Abe Hayeem, Prof Adah Kay, Yehudit Keshet, Dr Les Levidow, Prof Yosefa Loshitzky, Prof Moshe Machover, Miriam Margolyes, Prof Jonathan Rosenhead, Seymour Alexander, Ben Birnberg, Martin Birnstingl, Prof. Haim Bresheeth, Ruth Clark, Judith Cravitz, Mike Cushman, Angela Dale, Merav Devere, Greg Dropkin, Angela Eden, Sarah Ferner, Alf Filer, Mark Findlay, Sylvia Finzi, Bella Freud, Tessa van Gelderen, Claire Glasman, Ruth Hall, Adrian Hart, Alain Hertzmann, Abe Hayeem, Rosamene Hayeem, Anna Hellmann, Selma James, Riva Joffe, Yael Kahn, Michael Kalmanovitz, Ros Kane, Prof. Adah Kay, Yehudit Keshet, Mark Krantz, Bernice Laschinger, Pam Laurance, Dr Les Levidow, Prof. Yosefa Loshitzky, Prof. Moshe Machover, Beryl Maizels, Miriam Margolyes, Helen Marks, Martine Miel, Diana Neslen, O Neumann, Susan Pashkoff, Hon. Juliet Peston, Renate Prince, Roland Rance, Sheila Robin, Ossi Ron, Manfred Ropschitz, John Rose, Prof. Jonathan Rosenhead, Leon Rosselson, Michael Sackin, Ian Saville, Amanda Sebestyen, Sam Semoff, Prof. Ludi Simpson, Viv Stein, Inbar Tamari, Ruth Tenne, Norman Traub, Eve Turner, Tirza Waisel, Karl Walinets, Renee Walinets, Stanley Walinets, Philip Ward, Naomi Wimborne-Idrissi, Ruth Williams, Jay Woolrich, Ben Young, Myk Zeitlin, Androulla Zucker, John Zucker

Para Yahudi ini justru menyarankan boikot, penarikan investasi, dan hukuman-hukuman bagi Israel. Mudah-mudahan kita bisa menjalankan saran-saran mereka tersebut.

Juga, semoga kita bisa selalu ingat untuk tidak menggeneralisir bahwa “semua Yahudi itu jahat”. Di antara mereka, masih ada segelintir kecil yang hatinya turut menangis untuk rakyat Palestina. Tidak itu saja, mereka juga secara aktif menentang penjajahan & kezaliman Israel terhadap Palestina.

Beberapa bahkan membayar sikap mereka tersebut dengan nyawanya.

Quran tidak mengajarkan kita untuk membenci Yahudi. Namun, untuk waspada terhadap tipu daya dan makar dari sebagian mereka.
Memvonis seluruh Yahudi jahat karena kejahatan sebagian dari mereka adalah generalisasi. Ini termasuk pada ketidak adilan - dan jelas ini tidak dibenarkan oleh Islam. Islam adalah agama yang sangat menitik beratkan fokus pada keadilan. Jangan sampai kita terjerumus kepada menzalimi sebagian pihak, hanya karena kebencian & emosi kita.

Satu contoh lagi adalah Neturei Karta. Slogan mereka adalah “Orthodox Jews United Against Zionism” (*).
Ketika beberapa diantara kita mungkin hanya duduk di belakang meja dan bersimpati tanpa banyak melakukan sesuatu, para anggota Neturei Karta aktif dan gencar turun langsung ke lapangan menentang Zionisme. Luar biasa.

Yahudi juga manusia. Mereka mampu untuk melakukan kebaikan. Namun, sebagian mereka juga mampu melakukan kejahatan, seperti manusia lainnya juga. Kita musti bisa bertindak secara adil terhadap semua ini.

Satu contoh Yahudi yang pantas untuk ditindak adalah Howard Schultz. Chairman, president, dan CEO dari Starbucks, Schultz dengan aktif mendukung negara Israel, dan mengkampanyekan keberadaannya. Tentunya dia bukan tidak tahu mengenai berbagai kejahatan Israel. Namun tetap saja Schultz mendukung Zionisme.

Yah, alhamdulillah menemukan informasi ini. Menuruti himbauan dari rekan-rekan Yahudi di Inggris di atas, sekarang saya jadi sangat malas untuk ngopi di Starbucks.
Yuk kita ramaikan saja Bakoel Koffie, atau warung-warung lainnya.

Hari ini saya mendapat pelajaran yang sangat berharga mengenai kemanusiaan, empati, nurani, keadilan dan logika. Semoga bisa bermanfaat juga untuk Anda.

(*) Zionisme sebetulnya adalah salah satu bentuk ekstrimisme / zealotry dalam beragama. Dalam teks agama Yahudi sendiri sebetulnya tidak ada mengharuskan mereka untuk kembali lagi ke tanah Palestina. Zionists memilih penafsiran yang ekstrim, plus implementasi yang tidak kalah ekstrimnya lagi. Hasilnya, seperti yang sudah dan sedang kita saksikan, adalah derita berkepanjangan dari rakyat Palestina.

Neturei Karta, walaupun beraliran Orthodox, namun bisa memahami teks / ajaran agama mereka dengan baik / tidak ekstrim. Karena itu mereka bisa menyadari kekeliruan Zionists, dan tidak turut terjerumus kesitu.

Mudah-mudahan kita bisa meniru teladan mereka ini - terhindar dari berlebih-lebihan / ekstrimisme dalam beragama.

Fear-mongering dan Kekerasan dari kubu Penolak RUU Pornografi

Thursday, October 16th, 2008

Anda pikir kekerasan itu cuma bisa dilakukan oleh FPI dan kawan-kawannya ? Coba dipikir lagi. Ternyata, kubu penolak RUU Pornografi pun tega melakukannya. Email terlampir dari Ade Armando, dikirim ke milis Jurnalisme.

Yang lebih parah lagi - penolakan terhadap RUU Pornografi ini adalah berdasarkan alasan-alasan yang ternyata tidak benar.

Selama ini ada kampanye misinformasi / FUD / fear-mongering dari kubu kontra RUU-P; seperti tuduhan bahwa RUU-P akan mematikan pariwisata, memberangus kebudayaan lokal, meng arab kan Indonesia, dst.

Bahkan mereka sampai berani meng klaim bahwa RUU-P akan memecah belah NKRI (WTF).
Ketika dipanas-panasi dengan berbagai fitnah seperti itu, tentu emosi masyarakat menjadi naik. Dan bisa saja terjadi yang mereka ancamkan itu (terpecah belahnya NKRI).

Padahal semua itu sudah dijelaskan dan dikecualikan di RUU-P. Tapi sayang sepertinya sedikit yang mau repot memeriksa isi RUU-P tersebut yang sebenarnya, sehingga jadi mudah ditipu oleh para penghasut.

Mudah-mudahan saya ada waktu untuk membahas semua tipuan para penghasut ini di sebuah posting khusus.

Email dari Ade Armando di milis Jurnalisme :

Awal pekan ini sejumlah anggota DPR berjalan ketiga daerah yang selama ini dianggap sebagai basis penolakan RUU Pornografi untuk melakukan acara Rapat Dengar Pendapat Umum dengan para wakil masyarakat di tiga provinsi: Bali, Sulawesi Utara dan Jogja.

Acara ini diadakan terutama untuk menjawab permintaan agar RUU ini disosialisasikan dan didiskusikan kembali.
Saya hadir di RDPU soal RUU Pornografi di Bali.

Keadaannya sungguh buruk:

1. Suasana sungguh tak terkendali, bahkan oleh Gubernur. Walau ada sejumlah tokoh masyarakat Bali berbicara dengan tenang, puluhan undangan datang bukan untuk berdiskusi tapi untuk marah dan memaki- maki. Tujuh anggota DPR yang mendukung RUU Pornografi dan berusaha menjelaskan argumen mengapa RUU ini penting diteriaki, dimaki-maki, disuruh turun dan pulang ke Jakarta. Tak ada dialog.

Mengingatkan saya pada gaya FPI. Bahkan memang salah satu pembicara menyatakan dirinya mewakili kaum preman.

2. Gubernur Bali menyatakan: “Kami bukan saja menolak RUU Pornografi tapi juga menolak membahasnya!”

3. Pasal-pasal RUU yang dipersoalkan sama sekali tak dibicarakan.
Sebagian peserta masih berbicara bahwa kalau disahkan, RUU ini akan mengkriminalkan para turis berbikini di pantai-pantai Bali, mengkriminalkan arca-arca dan patung-patung Bali dan akan mengkriminalkan adat istiadat Bali. Nyata sekali para pembicara ini termakan propaganda dan disinformasi yang menyesatkan tentang isi RUU.

4. Kelompok Islam tidak diundang dalam acara ini. Wakil MUI Bali akhirnya bisa hadir setelah bergerilya mencari cara untuk bisa masuk ke ruangan. Sepanjang acara, mereka, tentu saja, tidak punya kesempatan untuk berkomentar (walau kemudian, saya katakan pada mereka: tak perlulah MUI bicara dalam suasana panas begini.

5. Wakil PDS di DPR jelas-jelas berusaha memanfaatkan acara ini.
Tanpa bicara isi RUU, ia memanfaatkan waktu untuk bicara dengan satu pernyataan singkat: “Sejak awal PDS menolak RUU Pornografi ini.”
Tepuk tangan pun bergemuruh.

6. Kampanye negatif dengan sangat kasar sangat terasa. Ketua MUI Bali menunjukkan pada saya berita Media Indonesia yang memuat informasi bohong dengan seolah-olah mengutip pernyataan Ketua MUI Bali bahwa dia mendukung penolakan atas RUU Pornografi.

Saya sarankan pada dia, kirimkan surat ke Media Indonesia dan Dewan Pers dan koran-koran besar lain bahwa Ketua MUI Bali tidak pernah menyatakan hal itu. Saya katakan, kalau Bapak tidak membantah, orang akan menyangka bahwa MUI Bali memang mendukung penolakan.

7. Bagaimanapun kondisi Bali lebih baik daripada Rapat Dengar Pendapat Sulawesi Utara. Di Sulut, seorang pendukung RUU Pornografi dipukul tatkala menyatakan dukungannya atas RUU Pornografi.

8. Sepanjang acara, ancaman bahwa Bali akan memisahkan diri dari NKRI kalau RUU ini disahkan berulang-ulang disampaikan.

Di Bali, saya belajar, perjalanan kita menuju masyarakat demokratis yang beradab memang masih jauh dari kenyataan. FPI cuma salah satu contoh. Contoh-contoh lainnya tersebar di mana-mana. Tapi, memang, kata siapa hidup ini mudah?

ade armando

Happy Eid - Eid Mubarak - Selamat Hari Raya Idul Fitri 1429H

Tuesday, September 30th, 2008

This year I sent an Eid Greetings via SMS to some of my friends. That’s it - I F you can read it :)

I suspect it’d be rather easy to some of you, however please feel free to ask here if you have no idea what to do with that SMS. I’ll be happy to help.

Anyway, for the visitors of this blog - Let’s go retro this time, shall we ?

Eid Mubarak, may we all succeed in our struggle & quest to become a better & successful person, Amin !

Credits to http://www.ascii-art.de for the great ASCII Art.

Freedom of speech -vs- Hate speech

Saturday, September 27th, 2008

Saya selama ini selalu berusaha memperjuangkan kebebasan berbicara (freedom of speech) di blog. Alhamdulillah ada banyak kawan-kawan lainnya yang sepemikiran dan bahkan ikut terlibat secara aktif dalam topik ini. Berbagai hasilnya sudah mulai kita dapatkan; misalnya jaminan dari Menkominfo pada Pestablogger 2007 akan hak kebebasan berbicara para blogger.

Namun, freedom of speech bukannya berarti kebebasan tanpa tanggung jawab dan tanpa batas. Tetap ada batasan-batasan yang harus diperhatikan. Secara logis saja, hal-hal seperti fitnah tentu sebaiknya tidak kita lakukan. Atau, hal-hal yang melanggar hukum. Di negara kita, ada istilah SARA - suku, ras, agama, antar golongan. Speech / tulisan yang bersifat SARA adalah hal yang terlarang. Di luar negeri ini dikenal dengan istilah hate speech. Dan ini juga dilarang di banyak negara.

Sayangnya, hate speech masih banyak terjadi dimana-mana. Termasuk di blogosphere Indonesia.
Salah satunya pernah saya bahas disini. Hate speech, seperti namanya, sulit untuk bisa menghasilkan sesuatu yang positif. Lebih sering hasilnya adalah reaksi yang negatif juga. Karena itu sampai dilarang secara hukum di berbagai negara.

Sayangnya ini terulang terus. Setiap kali ada yang saya temukan, saya coba beri masukan baik-baik. Alhamdulillah kadang ada yang cuma karena tidak tahu saja, dan kemudian bisa menerima, jika kita juga menyampaikannya dengan cara yang baik.

Namun, ada saja yang semakin lama malah semakin kurang bagus kecenderungannya. Saya sebetulnya malas membahas hal ini karena berpotensi menyebabkan konflik. Dan di tengah kesibukan saya (libur Lebaran ini pun saya tetap beraktivitas), jelas konflik adalah sesuatu yang tidak saya inginkan. Namun di lain pihak, perlu ada edukasi juga untuk soal ini.

Salah satu blog yang pro hate speech adalah blog milik Wiryanto Dewobroto. Ini amat mengejutkan, juga bagi saya. Karena selama ini saya tahu bahwa blog tersebut banyak fokus ke soal engineering. Dan tulisannya juga bagus-bagus, terutama bagi para mahasiswa dan engineers, saya lihat banyak yang menarik manfaat dari situ.

Namun ketika dilihat lagi, ternyata ada beberapa artikelnya yang membahas Islam dan cenderung menyudutkan. Tendensius. Ini salah satu jenis tulisan yang saya paling tidak suka, karena secara sekilas terlihat netral; namun sebetulnya tetap menggiring opini kita.

Tetapi ini sulit untuk dibuktikan. Beberapa kali saya menemukan tulisan yang mengangkat kebencian, namun setelah diklarifikasi lagi dengan ybs, ternyata sebetulnya hanya salah paham saja.
Maka terhadap blog Wiryanto ini pun saya juga awali dengan prasangka baik dulu.

Setelah berpartisipasi di diskusi tentang Ahmadiyyah di artikel ini, saya mulai merasa adanya itikad tidak baik. Ada pencampur adukkan antara kebebasan beragama (antar) dengan pembajakan agama (internal).
Dan saya merasa sedih, apakah akan ada satu lagi intelektual Indonesia yang terjerumus kedalam kebencian?

Ini bisa dilihat lebih lanjut misalnya pada posting soal senjata. Saya cukup tercengang melihat komentar dari deteksi dipelintir oleh Wiryanto, sampai terkesan ybs sepemikiran dengan ekstrimis seperti Abu Dujana. Sangat emosional.
Padahal sudah jelas komentar ybs adalah untuk kasus militer & pertahanan (defensif) negara. Tapi malah dibelokkan ke pribadi & ofensif oleh Wiryanto. Juga dituduh melakukan generalisir, ketika ybs sebetulnya berusaha untuk tidak sok tahu. Lalu dicap dengan tudingan “Picik”.
Mungkin menulis artikel tersebut sedang dalam kondisi emosi, tetapi tetap saja memelintir seperti ini bukan etika blogging yang baik.

Masih ada beberapa artikel lainnya yang juga tendensius, tapi saya tidak akan bahas disini. Silahkan Anda bisa lihat sendiri.
Yang akan saya bahas adalah artikel terbarunya yang berkaitan dengan Islam, berjudul Bom di Hotel Marriott Islamabad.

Sebetulnya artikel ini menurut saya masih termasuk netral. Namun bisa juga dianggap tendensius, tergantung dari cara pandang ybs. Tetapi, yang mencolok adalah komentar-komentar pada artikel tersebut.

Kalau kita lihat komentar-komentar misalnya dari daud, jelas ini adalah hate speech.

Pada blog yang membuka fasilitas komentar, maka lolosnya komentar seperti ini bisa dimaklumi. Di blog saya sendiri juga terjadi, walaupun saya berusaha untuk memblokir sebisa saya. Karena komentarnya sudah muncul terlebih dahulu secara otomatis, sedangkan saya tidak bisa setiap saat memeriksa komentar-komentar yang masuk. Jika ada yang ketahuan, atau diberitahu oleh komentator lainnya, maka akan langsung saya berangus.

Namun pada blog dimana komentar yang masuk harus di approve terlebih dahulu oleh pemilik blog (di moderasi), seperti pada blog Wiryanto ini, maka jika ada komentar hate speech yang muncul, tentu berarti bahwa ini sudah disetujui secara eksplisit oleh pemilik blog ybs. :(

Masih berusaha berprasangka baik, maka kemudian saya mencoba meng klarifikasi sebuah statement dari Wiryanto melalui fasilitas komentar di blog tsb. Pesan saya adalah sebagai berikut :


Untuk bisa tahu hal yang baik, maka perlu juga mengetahui hal yang tidak baik (buruk).
.
Apakah maksud Anda berarti bahwa hate speech akan ditolerir di blog ini ?
.
Trims.


Apa yang terjadi?
Ternyata request klarifikasi tersebut tidak di approve oleh moderator.

Pada titik ini sudah sulit bagi saya untuk berprasangka baik lagi. Karena ketika saya masih berprasangka baik dan berusaha untuk sekedar klarifikasi saja ternyata malah di blokir. Sedangkan statement-statement yang menebar fitnah & kebencian malah di approve oleh Wiryanto.

Dan blog Wiryanto ini tidak sendirian. Masih ada lagi blog-blog lainnya yang serupa. Dengan berbagai dalih, mereka terus memupuk kebencian kepada pihak lainnya melalui tulisan-tulisan mereka.
Ini adalah perkembangan yang sangat menyedihkan di blogosphere Indonesia :(

Bersama dengan tulisan ini saya menghimbau agar kita semua berusaha untuk menebar kebaikan melalui blog kita. Manfaatkan kebebasan, freedom of speech, yang telah kita perjuangkan bersama-sama ini untuk hal-hal yang bermanfaat : berbagi ilmu, memotivasi, mendorong ke hal-hal yang positif, dst.

Jangan kita malah terjerumus ke hate speech. Ini tidak ada manfaatnya. Kebencian hanya akan membakar diri kita sendiri dari dalam.
Dan kebencian yang dibungkus / disembunyikan cenderung akan membakar dan menghancurkan kita sendiri dengan lebih cepat.

Sebagai blogger, kita mempunyai kekuatan untuk mengubah dunia sekitar kita. Terserah kepada kita apakah akan kita manfaatkan untuk kebaikan, ataukah keburukan. Saya sangat berharap bahwa kita semua akan memilih yang pertama.

Seperti teladan yang sangat baik yang telah ditunjukkan oleh para blogger Mesir. Dikutip :

Frustrated by the official posture of denial, a small group of Egyptian bloggers decided in January 2007 to try to bring Muslims and Christians together to talk. The group, which calls itself Together Before God, began with about 20 members of both faiths.

Sangat luar biasa ! Walaupun pemerintah mereka jelas tidak peduli soal toleransi beragama, namun para blogger Mesir tidak menyerah. Mereka justru saling bekerja sama, berusaha secara aktif untuk menciptakan masyarakat yang lebih baik, melalui dialog yang jujur dan terbuka.

Dikutip :

The survey showed profound misunderstanding on both sides, said Sherif Abdel Aziz, 36, a co-founder of the group. Some Muslims declared that Coptic priests wore black to mourn the Arab invasion of Egypt in the seventh century. Some Christians believed that the Koran ordered Muslims to kill all Christians.

Dari pengalaman saya sendiri, miskomunikasi seperti ini juga SANGAT banyak terjadi di Indonesia. Umat Islam memiliki prasangka buruk terhadap umat Nasrani, dan demikian juga sebaliknya. Malah di level ustadz & pastor pun masih ada sangat banyak kekeliruan & prasangka. Apalagi pada level umatnya.

Pada kasus Mesir, blogger ternyata bisa berbuat sesuatu untuk memperbaiki situasi ini. Tentunya kita juga bisa. Misalnya, pada Pestablogger 2008, salah satu hasilnya adalah forum diskusi antar-agama. Dimana disitu kita bisa menyampaikan berbagai prasangka kita, untuk kemudian diklarifikasi oleh pihak lainnya.

Pertanyaan saya; apakah kita sudah siap untuk berdiskusi & berkomunikasi secara jujur ?

Yaitu jujur berusaha untuk menyelesaikan salah paham dan bersilaturahmi.
Bukan pura-pura berbuat baik, namun sebetulnya bertujuan untuk mengalahkan / menjatuhkan “musuh” nya.

Ini sangat sulit dilakukan oleh para bigot. Bigot adalah orang-orang yang tidak bisa mentolerir perbedaan pendapat dan orang-orang yang berbeda pendapat dengan mereka.
Kadang mereka berpura-pura mentolerir, namun kemudian memelintir diskusi sehingga akhirnya tetap terjadi konflik.

Bigot ini bisa ada di berbagai komunitas. Di komunitas muslim jelas ada banyak, saya adalah saksinya. Di komunitas non-muslim juga banyak. Yang membuat saya terkejut beberapa tahun yang lalu, ternyata di komunitas atheis pun ada banyak bigot. Mungkin karena kita sama-sama manusia, sehingga sama-sama bisa terjerumus di lubang yang sama.

Diskusi antar agama ini tidak akan bisa terjadi jika tidak ada ketulusan dan kejujuran dari semua pihak. Ini adalah syarat mutlak yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Dan ini berarti bahwa para bigot dan tindakan bigotry tidak bisa ditolerir (paradoks? ha ha, tapi ini adalah intolerance yang bisa ditolerir menurut saya) pada forum tersebut.

Saya mengucapkan banyak terimakasih dan salut pada para blogger Mesir tersebut. Dan harapan saya bahwa kita bisa segera mengikuti teladan mereka. Semoga !

Civilized discussions most welcome.

Arsip : 1 - 2 - 3

Para Kiai incar nomor hoky - malah dapat nomor sial

Sunday, July 13th, 2008

Ketika beberapa hari yang lalu saya membaca berita di detik.com, saya cuma bisa geleng-geleng kepala sambil merasa sedih. Betapa tidak, para kiai, orang-orang yang semustinya mencerahkan umat Islam kita ini, ternyata percaya kepada numerologi. Mereka berdoa agar PKB mendapatkan nomor urut 9, karena sesuai dengan jumlah bintang di logo PKB.  

Gak penting banget :) 
Lagipula level kiai, kok masih mengurus yang seperti beginian. Kalau orang-orang awam mungkin iya, masih banyak sekali yang “berburu angka” supaya bisa menang togel dan judi-judi lainnya. Tapi kiai ?

Anyway, beberapa  hari yang lalu saya membaca koran dan tercengang membacanya. PKB mendapat nomor urut 13 ! Angka sial …

Saya ketawa terpingkal-pingkal membaca beritanya :D

Pacar saya sampai bengong, kenapa ini orang ketawa sampai tergelak-gelak sendiri? Setelah mengetahui berita tersebut, dia juga ikut ketularan tawanya saya. Oh, ironi …. (oh, perut saya… mulessss)

Takdir memang kadang suka bercanda menggoda kita semua, dengan cara-cara yang sangat lucu dan menggelitik. Mudah-mudahan PKB sukses, bisa membawa Indonesia ke gerbang keadilan & kemakmuran, dan membuktikan bahwa angka 13 itu bukan berarti sial. 

Maju terus PKB ! :D

Misinformation on / Propaganda against Islam

Thursday, July 3rd, 2008

The most formidable weapon against errors of every kind is reason.
– Thomas Paine

As a man with belief (Islam), I fully agree on that statement. God has bestowed us with a superior brain, therefore we should really try to fully utilize it. This is one way to say “thank you” for the gift.

A bit about a belief system, like Islam - there are parts of it that can be made into (you can probably describe as) dogma. Therefore, you just believe, no need to ask questions. This can save a lot of hassle of thinking about so many things. You just do. However, of course, this makes us susceptible to liars & soothsayers.

Islam, although can be viewed as a literal “Human’s Guide to Life”, it prefers us to use our brain. The first phrase ever revealed was “iqra” - meaning: “read”. And there are also numerous commands in Quran telling us to think about things - “afala ta’qilun”.

Yet, not many are doing this. Many of our current problems may very well caused by us being led ashtray by our “leaders”. They took advantage of our inability to think critically, and lied to us for their own gain.

This has caused many to defect from Islam.

I have friends who became agnostic, because she/he really hates how our Muslim “leaders” have prohibited us from thinking. Some have become atheists. Some have changed religion. My own experience have been written partially here. Many have suffered from the dogmas.

Naturally, I’d assume that they, these intelligent defectors, will be more able to think more intellectually. Most are. But some are actually actively misleading others. This is worse - they act as the superior intelectual beings, but in reality they’re acting like those they hate most. These are the Islamophobics.

Their intelligence has been consumed by their hate. Still pretending to be rational, but most of the time it’s their ego talking. It is really sad to see these people, consumed alive by the fire within themselves. But more dangerous is that they’re trying to bring down others with them as well.

An example can be found here.

The level of misinformation on that single-post is truly astounding.
They’re easy to debunk if we care to spend a bit of time and think. Let’s see what we can find :

1. Islam means peace

As any translator can tell you, translating is not always an exact science for many reasons. For example, I was not able to find an equivalent of “pseudoscience” in Indonesian.

A rich language such as Arabic will have words which may have no parallels in other languages. In this case, sometimes we’ll  have to settle with words which are closer to its actual meaning.

And in the case of “islam”, it is indeed can be translated as “peace”. Permutations of the word can also be translated as different meanings.

So indeed Islam means peace, and saying not so is either ignorance or a lie in itself.

2. Christ is a prophet of Islam

Jesus Christ, or known as Isa, is indeed a prophet in Islam. The author complained about why we don’t care about his teachings then ? Well, the problem is that his original teachings has been altered. This is quite well documented & researched. Also try searching for “council of nicea” for a bit more details on the subject. However, the original alterations were already made by Paul even before that, so if you’re interested on this subject, then you need to focus your research on the person.

Anyway, all prophets are teaching about monotheism, a single God. In this case, both Isa & Muhammad are exactly the same.

3. Allah means God

I really don’t understand why he’s complaining that the word Allah was originated from Aramaic language. It even strengthens our link with other Abrahamic faith, effectively annuling his #2 complain even.

4. Islam allows free thinking

This is a fact, even encouraged in Islam. There are numerous advantages to those who would think. It is even declared that those who also think are siginificantly better off in God’s view than those who just pray.

5. Islam is Universal

Indeed it is. It’s being taught and practiced all over the world.

It’s even already practiced out of this Earth :)
Recently one of the shuttle’s astronaut is a Muslim, and he continued to be able to practice Islam on the space.

6. Islam is pro-equality

SirArthur claimed that : “Islam is based and supports many kinds of hierarchies with high levels of discrimination and enslavement.”

No idea why, how, where did he got such ideas. If he’s willing to spend even a bit of time looking at the original sources, he would have a different ideas.

For example; he complained about “hierarchies”. I was confused, what hierarchies? Even Muhammad himself was not happy if he arrived and people stood up to respect him. He declared that everyone is equal in front of God. He didn’t even prescribed any power/control system for us (democracy, monarchy, etc) until his death, leaving that up to us.

7. Islam isn’t racist

SirArthur said that “he (Muhammad) compared the black people’s head with raisins” as the base of his argument that Islam is racist.

When I looked for the source, here’s what I found :

Narrated Anas bin Malik:
Allah’s Apostle said, “You should listen to and obey, your ruler even if he was an Ethiopian (black) slave whose head looks like a raisin.” (Sahih Bukhari Volume 9, Book 89, Number 256)

Well, it suddenly become totally different isn’t it. You thought an agnostic would know better than quoting something out of context / cherry-picking verses like this… anyway, SirArthur could be an agnostic in disguise.

The source even strengthen our #6 argument that Islam indeed is pro-equality. Where else a black slave could become ruler for others ? This is completely unthinkable in even America up to the 60’s, and it still never happened that a black man become a president there. While Islam has preached about this since 14 centuries ago.

8. You can try Islam and if you don’t like you can quit

SirArthur claimed that “The penalty for leaving Islam is death.”

In Quran itself it’s claimed that “there is no compulsion in religion”. Muhammad himself has pardoned apostate, not execute him. And there’s is simply no historical record that indicates Muhammad or any of his companions ever sentenced anyone to death for apostasy.

A more detailed discussion on the subject can be read here.

9. Islam allows Christians and Jews to live free within Muslim controlled countries

It is. At one point of time, some Christians even preferred to live under the rule of Muslims, since they will receive better treatment.

SirArthur complained that “They do under a tax and several cut off of citizenship rights“. I was laughing reading it, as if he’s not paying any tax ? :) Come on.

Anyway, the so-called “evil” jizyah is to be paid by non-muslim, because they’re exempt from Zakat. So, muslim pay Zakat, and non-Muslim pay Jizyah. Equality again here. So what’s the problem?
The mind boggles.

And lack of certain “citizenship rights”, I was suffering under the same term when I lived in UK. It is very well expected that non-citizens are not to have the full rights of a citizen. For example, I paid the full tax, but I didn’t get any benefit (example: children welfare support, etc).

In reverse, there was no such discrimination in Islam. Non-muslims who are on good terms with Muslims are expected to be treated equally. Even at war, muslims will prefer to die protecting them, rather than letting them be slaughtered by the attacking army.

10. Taxes may be lower with Islam

SirArthur claimed that “tax is addressed to religion, not to the public benefice or infrastructures“.

Um… no. Tax (Zakat) is supposed to be first addressed to the poor ones. More details here.

Other uses of Zakat follows after that one.

11. Islam is about charity

SirArthur claimed “but Muslim charity can only be addressed to other Muslims. In order to a Muslim to aid a non-Muslim this last one has to convert first (or die starve)“. This is simply a lie.

Muhammad was very well known for his generosity to all living being. Including non-muslim.

In one case, there was once a blind Jewish beggar who kept cursing Muhammad in Medina and say bad things about him. What he did in return was he make sure the beggar is well fed, he will even fed the beggar himself. All without revealing his identity at all to him.

When Muhammad died, Abu Bakr decided to try to continue his habits, including feeding this beggar. The beggar however instantly noticed, he screamed that Abu Bakr is not the usual person, that the previous one was treating him with more care & gentleness.
This made Abu Bakr to cry, and he revealed that it was Muhammad who was giving the charity to him. It’s easy to predict that the beggar was deeply touched by all this, and at the end he converted to Islam.

These are what Muhammad has been teaching to all of us. Compassion to others. Excellent manners.

It’s a pity that many Muslims missed it, and therefore causing others to hate us. We need to sort out our act, and the sooner the better indeed.

Re: Misinformation against Islam — there are so many others out there. It’s so easy to create a lie, there’d be no way I’d be able to counter all of them.

But the point of this post is to implore you, dear readers, to not blindly belief everything. God has given us brain for us to use. Not to be disused. To those who doesn’t belief in God, then please examine the quote from Thomas Paine which I’ve mentioned at the beginning in this post.
It will help ensure our, your, own well-being.

Hope you have found this post useful.

Islam Betawi

Friday, June 20th, 2008

Satu lagi dari kawan saya, pak Geis Chalifah, via milis ISNET. Menarik sekali mengetahui perspektif dari, istilah beliau, Islam Kampung.

Selamat membaca.

Ahmadiyyah, Habib, Betawi, KH Abdullah Syafii etc etc

Allah hu Akbar Allah hu Akbar Allah Allah hu Akbar…
Kalam suci menentukan ku tuk berjuang..
hidup serentak untuk membela kebenaran..
untuk negara bangsa dan kemakmuran.. hukum Allah tegakkan..
Allah Hu Akbar Allah Hu Akbar Allah Allah Hu Akbar..

putera puteri islam harapan agama…
majulah serentak gemgamkan persatuan… kalam Tuhan..
mari kita memuji mari kita memuja..
peganglah persatuan..kalam Tuhan..

Pemuda pemudi islam bangunlah panggilan jihad rampungkan..
wasiat Muhammad peganglah… harta dan jiwa serahkan…
binalah persatuan.. sirnakan perpecahan.. .persatuan ..kalam tuhan
pertikaian menguntungkan musuh tuhan ..
hanya iman tauhid dapat menyatukan.. .
panggilan jihad tirukan …

ulama pemimpin islam dengarlah… demi agama sadarlah..
hentikan pertikaian.. ciptakan perdamaian.. .
tuntutan agama menjadi tujuan….
panggilan jihad tirukan… panggilan jihad tirukan…

– Panggilan Jihad, Radio Assyafiiyah

Asww. Pertama tama saya mohon maaf bila terlambat menanggapi dikarenakan waktu yang tak memungkinkan untuk berkomunikasi melalui milis. Namun Doa saya untuk teman teman semua selama di tanah suci tak pernah putus, baik yang saya kenal wajah dan namanya, maupun yang hanya namanya saja.

Dua minggu kemarin hp saya kebanjiran sms mengenai situasi Jakarta dan ada banyak email melalui Japri tentang Habib Rizieq Shihab dan FPI, Achmadiyah dan banyak hal lainnya. Jangankan untuk menjawab satu persatu, bahkan untuk membacanya saja saya lumayan gagap.

Namun demikian saya ingin menanggapi posting Elza, Tulus, dll dimilis kahmi dan teman teman lainnya yang dikirim melalui japri. Salah satunya yang berjudul Apel Akbar Bubar Setelah Diserbu. yang seolah olah dikesankan saya menyetujui tindakan kekerasan oleh FPI.

Jawaban saya mengenai insiden Monas itu singkat saja. Satu satunya kekerasan yang saya sukai adalah; Bila rudal rudal buatan Rakyat Palestina mengenai tentara Israel yang menindas bangsa Palestina. “Kekerasan” semacam itulah yang saya sukai selebihnya saya tidak suka.

Elza, Mas Tulus dan teman lainnya, dari pertama saudara Saidiman memposting ajakan apel akbar memperingati Hari Lahir Pancasila bersama AKKBB. Saya sudah merasakan ada yang tak beres dengan kegiatan itu, bahkan pada hari H nya saya mendapat sms untuk mengikuti kegiatan tersebut dari nomor yang tidak saya kenali, namun dibawahnya tertulis nama Nong. Ketika saya konfirmasi tak ada jawaban dari sipengirim.

Saya cuma berfikir bahwa mereka para penyelenggara Apel Akbar 1 Juni tidak memiliki sensitifitas terhadap masyarakat Jakarta (”Betawi”), atau jangan jangan tidak mengerti apa dan bagaimana masyarakat Jakarta (”Betawi”) tempat mereka tinggal.

Saya ingin mengurai sedikit saja mengenai masyarakat Jakarta ini. Dulu di Jakarta ada stasiun radio bernama Radio Asyafiiyah di Bali Matraman tepatnya. Setiap pagi menyiarkan da’wah yang di suarakan oleh Almarhum KH Abdullah Syafii, Setiap memulai siaran, radio itu selalu mengumandangkan lagu berjudul Panggilan Jihad yang teksnya saya tuliskan diatas.

Ummi (ibu) saya dan ratusan ribu masyarakat lainnya hafal gelombang radio ini, setiap hari bila ada yang meninggal dunia maka radio ini mengumumkan berita orang yang wafat. Walaupun belum ada hp dimasa itu namun kita dapat dengan cepat mengetahui bila ada kerabat yang meninggal melalui radio Assyafiiyah. Dapat dikatakan sang Kiayi bernama Abdullah Syafii adalah tokoh yang mempersatukan masyarakat Islam di Jakarta melalui radio dan ceramah ceramahnya. (walaupun terkadang saya agak pengeng kuping karena ummi saya selalu menyetelnya keras keras agar anak anaknya bangun untuk sholat subuh :-) ;-) )

KH Abdullah Syafii adalah murid dari Habib Ali Alhabsyi seorang habib yang terkenal dijamannya bertempat di kwitang, sampai saat ini Majelis Ta’limnya masih berjalan diteruskan oleh cucunya bernama Habib Abdurahman Alhabsyi.

Ketika kasus Achmadiyah marak dalam pemberitaan dan pembelaan terhadap mereka pun mengalir dengan deras, sesungguhnya masyarakat berpeci dan berkoko itu sudah sangat muak. Mereka tidak menyukai kekerasan namun juga tak suka Achmadiyah didiamkan. Sesungguhnya warna masyarakat Jakarta aselinya adalah yang turun di hari senin kemarin. Mereka adalah masyarakat diam, masyarakat yang tergabung di ribuan Majelis Ta’lim yang dikelola oleh Habaib maupun Ustadz ustadz “betawi” yang umumnya memiliki kedekatan emosional dengan para Habaib, karena sebagian besar mereka adalah murid muridnya. baik langsung ataupun tidak langsung.

Habib Abdurahman Assegaf adalah salah satu contoh seorang guru yang memiliki ribuan murid dan murid muridnya itu menghasilkan murid lagi, bisa diperkirakan berapakah muridnya dia, bila dari umur sebelas tahun beliau mengajar sampai akhir hayatnya diumur 90 tahun lebih. Para Habib di masa itu kebanyakan adalah habib yang tawadhu, semua langkahnya hanya berurusan dengan Syiar Islam dan tak terkait dengan politik dalam arti kepentingan pribadi, oleh karenanya mereka sangat di hormati oleh masyarakat “betawi” ini.

Masyarakat diam itu secara ekonomi tersingkirkan, yang mereka miliki tinggal satu yaitu keyakinan keagamaan pada Islam, dimana Rasulullah Muhammad SAW adalah pujaan mereka setiap hari yang disenandungkan melalui shalawatan baik beramai ramai maupun ratiban secara personal. Apa yang dilakukan oleh teman teman di Monas itu secara tidak langsuing sebenarnya adalah “menghina” mereka, “menghina” keyakinan mereka pada Rasulnya.

Mereka Islam “kampung” sama seperti saya, kita kita ini cuma lahirnya saja di metropolitan namun pendidikan Islam masyarakat disini adalah Islam tradisional, saya lahir dan besar dalam suasana itu, mohon maaf Lutfi Assauqani yang ” Liberal” itu pada dasarnya sama seperti saya sama seperti kaum berpeci dan berkoko yang turun ke jalan dihari senin itu, yaitu islam “kampung” Islam tradisional yang pada intinya tak pelik pelik dalam menghayati Tuhan dan keberadaannya. Cuma Lutfi lagi ganti kulit dan saya tak mau ganti kulit saya tetap lebih suka menjadi Islam “kampung” ketimbang beraneh aneh dalam beragama. Walaupun HMI sedikit banyak telah merubah pemikiran maupun pola ibadah ritual islam saya setelah mahasiswa, namun saya tetap menghormati para Habaib masa lalu yang sudah Almarhum, KH Abdullah Syafii dan Habib Habib lainnya yang masih tawadhu yang tak terjebak dalam interes pribadi, dan ribuan muridnya yang telah mensyiarkan Islam dengan tulus dan ikhlas. Bahkan setelah menjadi pengurus Alirsyad pun saya tetap hadir dalam undangan Maulid ataupun Khaul yang di gelar oleh para habaib itu. (maaf bagi yang anti bid’ah buat saya hubungan kemanusiaan jauh lebih penting ketimbang berpegang secara kaku pada mazhab). Beberapa efek sosial kegiatan maulid ini sudah saya jelaskan dalam posting terdahulu.

Mayoritas masyarakat “Betawi” di Jakarta berfaham Ahlus Sunnah Waljamaah sama persis dengan fahamnya NU, namun bukan Gusdur yang menjadi panutan disini, panutan masyarakat berpeci dan berkoko di Jakarta adalah KH Abdullah Syafii, Habib Abdurahman Assegaf, Habib Umar bin Hud Al Atas (cipayung) yang semuanya sudah Almarhum.

Itu sebabnya Muhamadiyah, Alirsyad, Persis, tidak laku di masyarakat Jakarta (”Betawi”) ini.

Ketika permintaan membubarkan Achmadiyah telah mulai surut dari pemberitaan, kemudian dari beberapa tokohnya saya mendapat berita bahwa mereka “menyerah” karena tahu persis bahwa pemerintah tak akan membubarkan. Terlebih setelah ada berita tentang empat negara mendatangi DEPAG melalui perwakilannya.

Saya agak aneh melihat undangan apel akbar, untuk apa lagi apel akbar diadakan? untuk apa lagi memberi dukungan pada Achmadiyah dengan membawa massa? yang telah jelas sudah “menang” dari sisi opini, terlebih dengan kegigihan Adnan Buyung Nasution dalam membela Achmadiyah.

Maka ketika FPI melakukan penyerbuan saya tidak merasakan kejanggalan karena provokasi itu sudah dibangun dari sebelum sebelumnya. Bahkan jauh hari sebelumnya saya sudah menulis dimilis kahmi dan lainnya dengan judul “Kampanye Memelorotkan Syariah Islam” yang berisi provokasi pada FPI dan lainnya. Bentrokan itu hanya menunggu waktu saja bahklan kalau bukan dengan FPI akan ada kemungkinan dengan Masyarakat “Betawi” Tanah Abang, atau Condet atau Jatinegara tergantung siapa yang mampu menggerakkannya.

Lebih jauh lagi saya ingin bertanya benarkah kaum liberal pembela pluralisme itu marah dengan sikap FPI ? Saya katakan sama sekali tidak. Karena itulah yang mereka inginkan, bentrokan itu memang sudah ditunggu tunggu agar kampanye anti Islam syariah semakin mudah, terlebih dengan dukungan media masa yang demikian kuat bahkan pemilahan beritapun dibuat sedemikian rupa. Semua hanya skenario dan korban yang jatuh dianggap adalah resiko yang harus di tanggung, kira kira seperti demo Mahasiswa 66 dan 98 berharap ada mahasiswa yang mati agar gerakan lebih dramatis dan mendapat dukungan luas.

Saya tidak membenarkan tindakan FPI namun tolong dilihat juga bagaimana tingkah para pendukung Achmadiyah itu, setidaknya punyakah mereka sedikit EMPATI terhadap para “Islam Kampung” yang tak sehebat mereka dalam berfikir pluralisme dan tetek bengek lainnya. Punyakah mereka rasa toleran terhadap kejumudan berfikir kita kita ini yang masih kampungan, tradisional, perlu pencerahan,dsb dsb. Adakah orang orang hebat yang elitis yang Doktoral summa cumlaude mengerti masyarakatnya sendiri.???

Semakin “tinggi” seseorang terkadang semakin tak menginjak bumi….

Salam
Geis Chalifah

Ahmadiyah vs FPI : Kronologi singkat

Wednesday, June 18th, 2008

Kasus Ahmadiyyah / AKKBB versus FPI sudah amat sangat banyak dibahas oleh berbagai pihak dan berbagai media, dari berbagai sudut. Tapi masih ada satu hal lagi yang sangat menarik - yaitu bagaimana situasi berbalik 180 derajat dengan sangat tidak disangka-sangka.

Seingat saya, pada awal kasus itu situasi benar-benar sangat genting bagi FPI. Ahmadiyyah / AKKBB benar-benar berada di posisi yang sangat di atas angin.
Saya ingat melihat foto Presiden sedang mengadakan rapat koordinasi langsung dengan banyak pejabat & menteri untuk membahas hal ini, dan sekaligus mengecam kekerasan tersebut.

Yang muncul di benak saya ketika itu adalah, habislah FPI kali ini. Sudah tidak nampak lagi cara untuk menyelamatkan diri mereka.

Karena itu saya amat terkejut ketika, terasa sangat tiba-tiba, situasi berbalik dan dengan cepat mengerucut pada keluarnya SKB Ahmadiyyah.
SKB yang telah lama ditunggu-tunggu selama berbulan-bulan itu justru akhirnya muncul ketika Ahmadiyyah sedang berada di posisi di atas angin.

Dan kini posisinya sudah berbalik total - AKKBB tidak terdengar lagi suaranya, JAI tidak berkutik.

Mengapa bisa demikian?
Jangan tanya saya, saya juga cuma bisa tercengang melihatnya :)

Anyway, terlampir adalah email dari pak Geis Chalifah, kawan saya di ISNET. Beliau menyampaikan sekilas kronologi kejadian ini dari perspektif beliau. Disitu bisa kita lihat beberapa situasi di balik layar pada saat kasus ini sedang berjalan.

Mudah-mudahan ada pelajaran & hikmah yang bisa kita dapatkan dari ini semua.

From: Geis Chalifah
To: mus-lim@xxxxxx.isnet.org

Minggu 1 Juni siang hari saya mendapat khabar Apel Akbar AKBB rusuh mereka diserbu oleh massa FPI. Saya langsung terfikir kali ini habislah FPI, Front Pembela Islam itu masuk dalam perangkap, mereka telah di provokasi terus menerus sampai akhirnya terjadi bentrokan dan minggu 1 Juni itu adalah puncak dari berbagai provokasi terhadap mereka.

Malamnya seluruh stasiun berita TV menyiarkan aksi brutal yang dilakukan oleh Massa FPI. Berbagai hujatan bermunculan terutama dari tokoh tokoh pro pluralis, bahkan beberapa sms masuk ke HP saya dengan jelas menuding Habib Rizieq dalang dari semua kejadian itu.

Besoknya saya sudah tak bisa mengikuti berita lagi terkecuali hanya dari sms yang terus menerus memberi khabar, seorang teman saya yang pernah jadi anggota FPI masuk dalam DPO. Agak aneh juga berita itu..? Bang Ical (Faisal Motik) dll juga rajin mengirim berita mengenai kegiatan banser NU dan Garda Bangsa yang membuat latihan perang untuk menyerang markas FPI di Jakarta.

Tokoh tokoh anti kekerasan anti monopoli kebenaran menjunjung tinggi kebebasan, rajin memberi kuliah tentang keberadaban, etika, kebebasan berkeyakinan, toleransi beragama dsbnya. Umat Islam mendapat kuliah gratis setiap hari setiap saat baik melalui media koran maupun media TV tanpa lupa diakhirnya dengan embel embel bubarkan FPI.

Semua sms yang masuk itu terbaca sikap umat islam “tradisional” menjadi ambigu satu sisi tak suka Ahmadiyah satu sisi lainnya kekerasan FPI juga menjadi tamparan tersendiri.

Komunitas Arab ribut terutama karena komentarnya Syafii Maarif yang bernada rasis di koran Sinar Harapan, saya juga gak jelas apa maksud Syafii Maarif itu apa hubungan Arab dengan FPI, termasuk teman saya yang baik hati selalu bertutur lemah lembut dan ahli dalam pemikiran Kunto Widjoyo bernama AE Priyono, juga membawa bawa Arab dalam persoalan FPI itu, Munarman yang jelas terlibat dan ada di Monas apakah ada hubungan dengan asal daerahnya.? Kali ini para orang pintar itu teperosok dalam kemarahan yang tak terkontrol.
Mansyur Alkatiri mengirim sms keluar dari milis akibat postingnya AE Priyono itu.

Semua teman seperjalanan mendapat sms dari keluarga dan teman temannya mengenai situasi Jakarta mengenai kasus insiden Monas. Setiap acara makan bersama setelah selesai sholat dari Masjid, tak lain saling memberi khabar terbaru dan diskusinya adalah situasi terkini dari tanah air..

Berita kemudian datang,markas FPI dikepung sekian ratus polisi untuk menangkap anggota Laskar Pembela Islam yang terlibat insiden Monas.

Kesimpulan kami bersama ketika itu FPI habis sudah dan Ahmadiyah akan menjadi organisasi yang dilindungi memiliki kebebasan yang sama dengan oraginisasi lainnya.

Beberapa hari kemudian muncul sms akan ada demo untuk membubarkan ahmadiyah.

Demo yang tak dirancang dengan baik itu asalnya pun cuma dari segelintir anak anak muda di Pekojan dan Pedati, Saya tak yakin demo itu akan besar karena Partai Islam yang memiliki basis massa dan terbiasa turun kejalan tak memberi respon, terlebih tak lama kemudian dua orang nama Habib yang disebut dalam sms menyatakan tak tahu menahu dengan sms itu.

Situasi mulai berubah

Sabtu pagi seorang teman memberi berita telah ada kesepakatan diantara Kiayi dan Habaib di Jakarta diantarnya Kiayi Abdul Rosyid Abdullah Syafii dll, untuk menggelar Demo di hari Senin, dan sms ajakan demo itupun berseliweran terforward kesekian ribu orang, saya sendiri mendapat sms yang sama sebanyak 10 kali lebih. Anehnya teman teman yang selama ini cenderung “kiri” ikut2an mengirim sms dan mau ikut turun dihari senin itu. Inti demo meminta pemerintah membubarkan Ahmadiyah.

Senin siang sehabis ziarah di maqam Rasul, saya membuka HP langsung ada beberapa sms yang masuk memberitakan Jalan Sudirman Macet total depan Istana dipenuhi oleh masyarakat berpeci dan berkoko.

Tak lama kemudian seorang teman yang sudah berangkat dari Madinah ke Riyadh menelfun sambil berteriak “Allah Hu Akbar Ahmadiyah telah dibubarkan.” Dia mendapat berita dari anggota MER C Jogja. Lalu SMS masuk juga kesaya berisi ketidak puasan atas keputusan SKB baik dari kubu pendukung Ahmadiyah maupun kubu yang anti Ahmadiyah dengan alasan yang berbeda.

Sesampainya di Jakarta saya membuka seluruh halaman koran beberapa hari ke belakang dan berita berita televisi yang telah lewat berhari hari kemarin melalui internet. Luar biasa dasyatnya kampanye anti FPI itu, bahkan program Delik di RCTI tadi malam pun masih memberitakan dengan sangat miring mengenai FPI dan tingkah lakunya yang mencerminkan kekerasan.

Pagi ini saya jalan menuju kantor melewati Matraman, Jatinegara dan condet disepanjang jalan banyak terpampang spanduk berisi meminta Ahmadiyah dibubarkan dan dukungan terhadap FPI. Beberapa anak muda sebelumnya beberapa hari lalu juga menelfun akan mendirikan ranting FPI didaerahnya.

Anehnya lagi semua polling media mengenai pembubaran FPI berakhir dengan hasil terbalik dari yang di kampanyekan, Dukungan untuk FPI tidak dibubarkan jauh lebih tinggi prosentasenya dibanding yang meminta dibubarkan.

Saya tidak mampu menjelaskan para ahli sosiologi lah yang mungkin bisa menjelaskan mengapa kampanye media kali ini gagal dalam membangun opini masyarakat dan membawa kepada apa yang mereka inginkan. Jauh sekali hasilnya dibanding ketika kasus Inul mucul kepermukaan.

Bagi saya pribadi kekerasan LPI adalah satu hal dan pembubaran Ahmadiyah adalah hal lainnya lagi. dan kalau ditanya apa sikap saya pada kekerasan itu Jelas saya tidak menyetujuinya. Namun bila ditanya apakah Ahmadiyah patut dibubarkan maka sikap saya tegas saja. AHMADIYAH HARUS dan WAJIB DIBUBARKAN. Ahmadiyah bukan kasus beda tafsir agama. AHMADIYAH ADALAH PENISTAAN TERHADAP AGAMA.!!!!

Salam,
Geis Chalifah.

Bank Muamalat : masukan untuk tim customer service

Tuesday, June 3rd, 2008

Salah satu account bank untuk bisnis saya menggunakan Bank Muamalat. Saya senang karena sangat praktis — kartu ATM muamalat bisa digunakan di nyaris SEMUA ATM yang ada di Indonesia.

Ini adalah prestasi luar biasa. Rupanya, bank muamalat berhasil menghubungkan sistem mereka dengan jaringan ATM Bersama ***dan*** jaringan ATM Prima.
Maka kartu ATM muamalat bahkan bisa digunakan di berbagai ATM BCA yang ada. Luar biasa. :D

Berbagai rekanan bisnis saya sampai bengong jadinya. Biasanya percakapannya berlangsung seperti ini :

Dia : eh minta nomor rekening BCA nya dong, nanti saya transfer
Saya : ini nomor rekening muamalat saya
Dia : lho, gak ada yang BCA ?
Saya : ini bisa ditransfer dari ATM BCA kok :)
Dia : hah?? wow ….

Sayangnya ada beberapa kekurangan minornya juga, mudah-mudahan bisa segera diperbaiki. Yaitu :

[ 1 ] Internet banking : saya sudah cek, dan ternyata sudah dalam pengerjaan. Target mereka ini akan tersedia tengah tahun 2009. Yes ! :)

[ 2 ] Masalah pada jaringan ATM Bersama : saya sering mengalami masalah pada ATM di jaringan ATM Bersama :(

Sejauh ini saya sudah kehilangan uang sekitar Rp 10 juta. Yang paling besar ketika Idul Fitri tahun lalu - uang dari rekening muamalat saya ditarik lebih dari Rp 5 juta rupiah, namun tidak sampai di tujuannya.
Belakangan saya dapat kabar bahwa jaringan ATM Bersama memang mengalami overload pada saat tersebut. Cukup banyak kasus serupa yang terjadi.

Sialnya proses pengurusannya cukup lama :( dalam kasus diatas, memakan waktu beberapa bulan.

Nah, sayangnya masalah ini kadang menjadi lebih parah dengan beberapa customer service officer di Bank Muamalat. Seperti yang terjadi pada kasus terbaru yang (lagi-lagi) melibatkan jaringan ATM Bersama.

Ceritanya, pada tanggal 31 Mei 2008, istri saya melakukan penarikan cash Rp 500 ribu sebanyak 3 kali. Namun penarikan yang ketiga tidak keluar uangnya, hanya receiptnya.

Karena sedang sibuk, istri saya baru sempat mencetak rekening bank beberapa hari kemudian.
Disitu malah lebih aneh lagi; transaksi tersebut tercatat tanggal; 2 Juni 2008. Untung bukti transaksi terus dipegang oleh istri saya.

Jadi tadi pagi ini istri saya mengkontak SalamMuamalat untuk mengadukan masalah ini. Sayangnya dialog yang terjadi kurang menyenangkan. Kira-kiranya seperti ini:

Istri saya (IS) : halo mbak, saya mau melaporkan masalah, saya menarik uang dari ATM namun uangnya tidak keluar
Salam Muamalat Officer (SMO) : baik ibu, pada tanggal berapa kejadiannya ?
IS: 31 mei, 3 kali penarikan @ Rp 500 ribu, tapi hanya Rp 1 juta / 2 kali penarikan yang keluar uangnya
IS: saya sudah cetak rekening banknya, dan disitu tercantum pada tanggal 2 juni. Tidak ada transaksi yang tercantum pada tanggal 31 mei
SMO: Lho terus bagaimana dong ?
IS: Lho, kok malah nanya ke saya ? Saya menelpon ini justru ingin menanyakan kenapa aneh begini, dan supaya uang saya bisa kembali. Saya ada pegang bukti transaksi dari ATM nya disini yang tertulis 31 mei.
SMO: (defensif) blabla…. saya juga sering kena marah customer karena kasus serupa juga… blabla

IS: (bingung dan mulai kesal) (kok malah defensif, dan bukannya mengusulkan solusi)
IS: (menjelaskan masalahnya lagi dengan panjang lebar)

IS: OK saya tidak tahu kenapa begitu, mustinya Anda yang lebih tahu & menjelaskan kepada saya. Kalau tidak tahu ya sudah, tapi yang penting bagaimana agar uang saya bisa kembali.
SMO: Baik, kami akan proses, nanti akan kami hubungi 14 hari lagi.
IS: Kalau perlu saya yang akan kontak. Tapi tolong semua informasi yang sudah saya sampaikan tadi dicatat di sistemnya ya. Di kejadian2 sebelumnya saya selalu musti mengulang lagi semua informasinya dari awal setiap kali menelpon, dan adu argumentasi yang sama lagi. Padahal di kontak berikutnya mustinya tinggal melanjutkan, ini malah mengulang-ulang terus dari awal lagi.
SMO: (kembail defensif) blabla ….
IS: (memotong pembicaraan) Maaf namanya siapa?
SMO: (menyebutkan namanya)
IS: OK, mbak XXX, saya akan kontak 14 hari lagi. Dan tolong nanti saya tinggal melanjutkan soal ini, dan tidak mengulang lagi dari awal. Terimakasih.

Ini masukan dari kami untuk Bank Muamalat. Mudah-mudahan selanjutnya pelayanannya bisa menjadi lebih baik lagi.
Terimakasih.

Review : Ayat-ayat Cinta

Sunday, March 2nd, 2008

Saya kena batunya :) baru beberapa hari yang lalu saya mengatakan tidak berminat menonton film Ayat-Ayat Cinta (AAC); kemudian saya dapat kabar bahwa keluarga saya: ayah, ibu, adik-adik, sampai adik ipar juga akan menonton semua. Dan saya diundang untuk ikut menonton. Waduh… :D

Ya sudah, akhirnya saya menyerah. Dan hari Jumat kemarin ini kami semua pergi ke Pondok Indah Mall untuk menontonnya. Mumpung adik saya bisa BOGOF (Buy One Get One Free) dengan kartu BCA nya, he he.
Kami sekeluarga nyaris menghabiskan sederet bangku di tengah. Selain itu saya juga bertemu dengan beberapa keluarga lainnya juga. Lucunya hampir semuanya juga dari Bintaro; karena AAC belum ada di Bintaro Plaza ya. Pada eksodus ke PIM deh :)

Film kemudian dimulai. Dan saya langsung bengong.
Fahri, yang di novelnya adalah laki-laki yang mature / dewasa, di filmnya menjadi agak, maaf, culun :) Malah cenderung emo.
Secara jujur, ada juga momen-momennya yang bagus. Mungkin 50-50 lah. Tapi ini karena ekspektasi saya & perbandingan antara Fahri di novel dengan di film ya. Bagi yang belum membaca novelnya sama sekali, mungkin justru tokoh Fahri di film enak dilihat.

Sedikit interupsi; ketika menonton itu, terus terang saya sama sekali tidak simpati dengan tokoh Fahri.
Mas Hanung beralasan bahwa manusia sempurna, ala Fahri di Novel AAC, itu tidak ada. Argumen saya, justru perlu dicontohkan, agar bisa menjadi inspirasi. Tapi saya pahami karena ini film agama pertama dari ybs. Mudah-mudahan di kesempatan berikutnya mas Hanung ada lebih banyak keleluasaan untuk menghasilkan yang lebih baik lagi.
Tentang pemeran Fahri sendiri di film AAC, setelah membaca cerita pembuatan filmnya, saya berbalik menjadi salut dengan Fedi Nuril. Saya setuju dengan alasan penolakan Hanung terhadap calon-calon pemeran Fahri lainnya yang arogan dalam perannya.
Mudah-mudahan Fedi jadi semakin baik setelah berperan di film ini, amin.

Anyway, kembali ke filmnya; kami mungkin merusak suasana menonton orang-orang lainnya ketika itu. Beberapa kali kami justru tertawa ngakak ketika ada adegan sedih yang bergaya sinetron (maklumlah, MD entertainment gitu lho :D ini film layar lebar keduanya)
Belum lagi celetukan-celetukan adik perempuan saya, yang kebetulan memang rada bawel :D. Saya sampai sesak nafas beberapa kali menahan tawa. Selepas dari bioskop baru kami bisa tertawa lepas mengingat kembali momen-momen yang aneh tersebut.

Memang kesimpulannya AAC ini adalah film yang ringan. Tapi saya kira kita tidak bisa menyalahkan sutradara maupun para pemainnya. Kita sendiri yang musti disalahkan, kenapa maunya menonton film yang remeh-remeh ? Jadi mari mulai sekarang kita dukung film-film yang bermanfaat; bukan sekadar cuma film percintaan kota & film horor ala sinetron (ack). Mas Hanung setahu saya akur sekali dengan ajakan ini.

Tapi, sebenarnya kalau dipikir-pikir lagi, tetap banyak yang bagus dari film ini. Sekilas, saya kira pemeran pendukungnya cukup banyak yang spektakuler.
Saya sangat terkesan dengan ibunya Maria (Marini). Adegannya ketika mengekspresikan terimakasihnya kepada Aisha di rumah sakit adalah satu-satunya saat saya meneteskan air mata. Saya ikut merasa bahagia hanya dengan melihatnya.
Lalu juga pemeran Syaikh Utsman, Iqbal, Syaiful, dst. Masing-masing nampak, dan tidak tenggelam oleh pemeran-pemeran utama.

Kami juga terpingkal-pingkal kagum melihat aksi “orang gila” kawan satu sel Fahri di penjara Mesir. Orang gila ini ternyata justru bisa mengajarkan hikmah dengan caranya yang tidak biasa. Pilihan & implementasi karakternya sangat pas (ringan, namun tetap berhasil menyampaikan pesannya) sebagai pengganti karakter Profesor di novel (yang cukup berat dialognya)

Beberapa komentar tambahan :

[ 1 ] Saya pribadi agak cemas dengan beberapa adegan Maria, yang berpotensi menyinggung umat Nasrani.
Tapi kalau membaca kisah pembuatan film ini di blog mas Hanung, mudah-mudahan bisa disadari bahwa tidak ada niat demikian. Malah ada apresiasi sutradara karena beberapa adegan film tersebut mendapat izin untuk dilakukan di gereja.

[ 2 ] Bagi para pelaku poligami, haram hukumnya menyatukan istri-istrinya di satu rumah.
Saya paham sih memang di film AAC itu Maria & Aisha digabungkan di satu rumah agar bisa ada adegan-adegan lucunya :) tapi itu tidak dibolehkan sebetulnya di dalam Islam.
Sekali lagi saya berharap di film berikutnya kekeliruan seperti ini bisa terhindari, mengingat target film ini adalah 1 juta penonton, jadi ada 1 juta penonton yang berpotensi mendapat informasi yang keliru.

Akhirnya, saya ucapkan terimakasih kepada semua pihak yang sudah memungkinkan terwujudnya film ini. Mudah-mudahan makin banyak & semakin bagus film Indonesia; sehingga suatu hari nanti ketika saudara-saudara kita datang ke bioskop, mereka tidak hanya mendapatkan hiburan, namun juga pencerahan.
Maju terus mas Hanung & sutradara Indonesia.

Saran : Kang Abik (Habiburrahman) sebaiknya di masa depan mencari produser yang bisa lebih mau memahami idealisme akang di novel-novelnya. Jangan yang terlalu berorientasi bisnis seperti yang kali ini. Kasihan pihak-pihak terkait, seperti sutradaranya.

Credits : Trims untuk review dari Decon, yang membuat saya menemukan kisah latar belakang pembuatan film ini, langsung dari sutradaranya sendiri.