Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/hsufehmi/islam.sufehmi.com/wp-includes/cache.php on line 35

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/hsufehmi/islam.sufehmi.com/wp-content/plugins/feedwordpress/feedwordpress.php on line 180

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/hsufehmi/islam.sufehmi.com/wp-content/plugins/feedwordpress/feedwordpress.php on line 335

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/hsufehmi/islam.sufehmi.com/wp-content/plugins/feedwordpress/feedwordpress.php on line 398

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/hsufehmi/islam.sufehmi.com/wp-content/plugins/feedwordpress/feedwordpress.php on line 654

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/hsufehmi/islam.sufehmi.com/wp-content/plugins/feedwordpress/feedwordpress.php on line 806

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/hsufehmi/islam.sufehmi.com/wp-content/plugins/feedwordpress/feedwordpress.php on line 953

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/hsufehmi/islam.sufehmi.com/wp-content/plugins/feedwordpress/feedwordpress.php on line 1190

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/hsufehmi/islam.sufehmi.com/wp-content/plugins/feedwordpress/feedwordpress.php on line 1854

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/hsufehmi/islam.sufehmi.com/wp-content/plugins/feedwordpress/feedwordpress.php on line 3372

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/hsufehmi/islam.sufehmi.com/wp-content/plugins/feedwordpress/feedwordpress.php on line 3537

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/hsufehmi/islam.sufehmi.com/wp-content/plugins/feedwordpress/feedwordpress.php on line 3600
Islam @ Sufehmi.com

Agamaku Kesaksianku : Serangan Terselubung Ke Islam

February 23rd, 2008

Selama ini saya cukup respek dengan mas Emanuel Setio Dewo, sebagai salah satu developer open source di Indonesia.
Kemudian saya menemukan salah satu blognya lagi, yang diberi judul Agamaku Kesaksianku.

Pada awalnya saya dengan tertarik membaca blog tersebut, karena sepertinya mempromosikan kerjasama & perdamaian dengan umat lainnya, terutama antara umat Nasrani & umat Islam.
Saya senang sekali kalau ada yang mau dengan tulus mengusahakan ini, karena sudah terlalu banyak permusuhan yang tidak perlu selama ini (dimana saya juga pernah melakukan kesalahan tersebut sebelumnya).

Namun setelah membaca lebih mendetail, kini saya jadi kecewa.
Banyak komentatornya yang memfitnah Islam (1), lalu kemudian di approve oleh Dewo.
Malah sebuah postingnya adalah mentah-mentah dari salah satu komentator, yang isinya adalah tafsir Quran yang ngawur, dan kemudian di approve lagi oleh Dewo.

Dan masih banyak lagi yang lainnya.
Seperti link ke artikel Ali Sina, dengan sebelumnya memvonis bahwa tulisan tersebut hanya diperuntukkan bagi yang pikirannya terbuka. Seperti saya sendiri, yang sudah pernah berdiskusi dengan para atheis langsung di “rumah” mereka sendiri selama berbulan-bulan (dengan cara yang baik, namun tetap diserang dan menjadi bulan-bulanan mereka), memilih tidak membaca artikel sampah tersebut, dan karenanya maka (terimplikasi) saya adalah orang yang pikirannya tidak terbuka menurut mas Dewo.

Jadi pada saat ini, blog tersebut saya anggap hanyalah satu lagi propaganda kepercayaannya sendiri, dibalut dengan berbagai jargon seperti kasih sayang, dst.
Itu memang hak ybs sebagai pemilik blog, namun saya terus terang kecewa dengan serangan-serangan kepada umat lainnya di blog tersebut, terutama umat Islam, dengan cara-cara yang sangat tidak baik.

Kepada rekan-rekan muslim lainnya, saya menghimbau agar kita tidak terpancing membalas dengan kata-kata yang tidak baik (seperti beberapa komentator yang sudah terlanjur terpancing emosinya disitu).
Kita balas saja dengan baik, atau tidak usah dibaca saja sama sekali.

Kepada mas Dewo; di Islam ada prinsip “bagimu agamamu, bagiku agamaku”, dan ketika dipraktekkan, ini telah memungkinkan agama Islam mengayomi agama-agama lainnya.
Mudah-mudahan prinsip serupa juga ada di agama Anda, dan bisa Anda praktekkan juga dengan baik.

Saya sama sekali tidak keberatan jika Anda (Dewo) mempromosikan agama Anda sendiri. You’re most welcome.
Namun ketika dalam mempromosikan tersebut Anda jadi menyerang agama orang lain, di ranah publik, maka persoalannya menjadi berbeda.

OK, kalau ada yang tahu blog yang mempromosikan kerjasama & perdamaian antar umat, do please let me know. Terimakasih sebelumnya.

(1) Dikutip dari komentar ybs :
Dulu Muhammad menyebarkan Islam dengan cara memaksa “orang kafir” untuk memeluk agama Islam, kalo ndak mau maka dibunuh dengan berteriak Allahu Akbar

Aa Gym Menjawab

January 31st, 2008

Setelah heboh soal poligaminya, akhirnya Aa Gym kembali mau muncul di media massa untuk pertama kalinya.

Saya sendiri baru tahu ada interview ini. Bagi yang juga melewatkan acara ini, silahkan kita bisa tonton via Internet di website RadioDakwah.

Sepertinya menarik sekali; misalnya mengenai hikmahnya, yaitu beliau jadi bisa lebih banyak berkumpul dengan keluarganya. Mengharukan sekali, saya tahu dulu Aa Gym sering tidak tega menolak undangan sehingga kemudian memaksakan diri, sampai kesehatannya jadi cukup rapuh. Alhamdulillah sekarang jadi bisa lebih banyak berkumpul dengan keluarganya.
Juga saya dulu agak kurang senang dengan beberapa bisnisnya yang terlihat mengkultuskan diri beliau. Alhamdulillah itu juga kini sudah selesai masalahnya.

Mudah-mudahan selanjutnya dakwah beliau di masa depan bisa jadi lebih bermanfaat lagi bagi lebih banyak orang.

Enjoy.

Wudhu : hemat & cepat

January 20th, 2008



03082007(001)

Originally uploaded by hsufehmi

Beberapa waktu yang lalu saya ada meeting di Plaza Senayan, sampai masuk waktu maghrib. Saya minta izin kepada hadirin, dan kemudian pergi menuju ke musholla.

Ternyata mushollanya ramai sekali, baguslah :)
Tetapi, ternyata ada “kemacetan” di ruang wudhu.

Yah, lagi-lagi terjadi seperti yang saya ceritakan disini.
Nyaris semua orang berwudhu dengan sangat lambat, dan dengan membuka keran air yang sebesar-besarnya. Padahal, cara wudhu Nabi saw yang sebetulnya sangat ringkas & hemat air.

Foto pada posting ini memperlihatkan peringatan di musholla di gedung Cyber. Akhirnya, ada juga pengurus musholla yang paham soal ini.
Salut kepada para pengurusnya. Moga-moga semakin banyak yang mengetahuinya.

Pengajian Expat / Muslim expat gathering

January 15th, 2008

I forgot to mention this before - several weeks ago, me & Helen came to visit friends of ours, mbak Ira and her husband Ian. We knew them back when we were in UK. They held a gathering in their home, and we came there. They specifically asked us to keep in touch when we went back to Indonesia.
Who knew that they actually moved here themselves :) great stuff indeed.

Anyway, we visited their house in Kemang. Turned out that it’s also a “pengajian” / gathering. In the event there most of the guests are expats with their spouse. Most of the time we were speaking English, to honor those who still new and can not speak much Indonesian yet.

After the event mbak Ira spoke to us, telling that she’s planning to do the gathering / pengajian routinely. I asked her if it’s okay to let others know about it, to which she replied an enthusiastic “yes”.
So here you go.

The gatherings will be done in their house in Kemang, which is already a place where most expats are. So it shouldn’t be too hard to visit.
If you’re interested, just let me know, then I’ll confirm you to them first (to protect their privacy before they confirm you as their guest).

Actually there are Indonesians in the gathering as well, us for example. And most of the expats spouses are Indonesian. Also there’s this senior manager of Indomilk (indonesian) that came too.
So they’re not exactly rejecting Indonesian guests.

However, do be informed that the events will be in English, and most wlll focus on expat-related topics (eg: some of us will find the topic rather elementary).
And even though their house is big, the event proved quite popular already. So I think it’s normal to prioritize in this case.

There you go, hope someone will find this info useful.

Software Faroidh

January 15th, 2008

Faroidh adalah ilmu hukum waris dalam Islam. Tidak banyak yang menguasai topik ini, dan karena itu kadang bagi yang awam mengalami kesulitan untuk mendapatkan kepastiannya.
Padahal biasanya kebutuhan akan hal ini terjadi pada saat yang penting (kematian keluarga) dan jawabannya dibutuhkan dalam waktu cepat.

Alhamdulillah sekitar 10 tahun yang lalu ada kawan saya, Bpk. Agung Yulianto, yang membuatkan software tersebut, dan mewakafkannya kepada publik.
[ Software Faroidh tersebut bisa di download dari halaman ini ]

Namun harap diperhatikan bahwa kemungkinan software tersebut belum sempurna 100%. Tadi pagi saya mendapatkan email terlampir. Jika Anda menggunakan software faroidh yang saya cantumkan diatas, sebaiknya bisa sambil memperhatikan juga isi email tersebut.

Semoga bermanfaat.

assalamualaikum,

Setelah kami download dan pergunakan program Faraidh dari Ust Agung yang disebarkan gratis di internet, kami mendapatkan kerancuan di beberapa masalah utamanya dalam Ijma ttg Ilmu Al-Mawarits, dalam program ini belum benar.

Dan saudari seibu tidak dicantumkan serta sudah jelas dalam surat An-Nisaa: 12, serta beberapa hal yang kami rasa perlu diteliti ulang lagi,

Mohon maaf jika kami salah
Untuk ishlah sesama muslim

Wassalam
Muhammad Jabal A.N, Lc
Majelis Al-Mawarits

Hidup damai bersama Ahmadiyyah

January 8th, 2008

Pagi ini (9 Januari 2008) saya membaca koran Republika, di halaman pertama ada tulisan bahwa para penganut Ahmadiyyah telah dapat hidup dengan tenang di “kampung halaman”-nya, Pakistan, sejak tahun 1974.

Benar-benar berita yang menyejukkan. Mudah-mudahan di Indonesia juga bisa segera menjadi kenyataan.

Islam & agama lainnya

Islam mengajarkan, langsung di Al-Quran, bahwa para penganutnya wajib bersilaturahmi dengan baik kepada penganut agama lainnya. Dengan konsep kebebasan beragama “lakum dinukum waliyadin”, kewajiban tersebut bisa menjadi kenyataan.

Tidak hanya itu, kemudian Nabi saw juga memberikan contoh dalam kehidupannya sehari-hari. Sampai ke berbagai contoh yang “ekstrim” & rasanya tidak akan bisa kita temukan lagi di zaman ini - seperti pengemis Yahudi buta yang sangat benci & selalu mencaci maki Nabi Muhammad justru tetap disayangi oleh beliau sampai akhir hayatnya.

Jadi sudah terlalu banyak penegasannya bahwa umat Muslim wajib untuk bermuamalah dengan baik kepada umat lainnya.

Solusi Ahmadiyyah di Pakistan

Kembali ke topik awal - bagaimana caranya sampai jamaah Ahmadiyyah bisa hidup dengan damai di Pakistan ? Ternyata sederhana saja - Ahmadiyyah telah diakui sebagai agama yang tersendiri. Dan para jamaahnya juga mengaku sebagai penganut agama Ahmadiyyah.
Mereka tidak mengaku-aku sebagai beragama Islam.

Maka dengan demikian, umat Muslim & umat Ahmadiyyah dapat saling berhubungan dengan baik & damai.

Masalah di Indonesia

Kenapa di Indonesia masih bermasalah ? Ternyata, ini karena organisasi JAI (Jemaat Ahmadiyyah Indonesia) masih ngotot bahwa Ahmadiyyah adalah Islam.

Padahal, dalam pertemuan di Balitbang Depag & Mabes Polri, yang menghasilkan 12 butir pernyataan JAI, mereka jelas menyatakan & mengakui bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah Rasul Allah (sumber: Republika 9 Januari 2008).
Tentu saja ini berbeda 100% dengan dasar kepercayaan Islam, yang meyakini bahwa tidak ada lagi Nabi/Rasul setelah Nabi Muhammad saw.

Solusi di Indonesia

Sebetulnya kita tinggal meniru teladan Pakistan saja - umumkan tentang keberadaan agama Ahmadiyyah.

Maka kemudian para penganutnya jadi bisa bebas melakukan ajaran agamanya. Dan para pelaku anarkis bisa dengan mudah ditangkap & ditindak oleh para penegak hukum.

Fakta di seluruh dunia

Ulama Islam di seluruh dunia telah sepakat menyatakan bahwa Ahmadiyyah adalah agama tersendiri, sejak dahulu kala.

Rabithah Alam Islami telah mengeluarkan pernyataan ini sejak tahun 1981. Malaysia & Brunei juga sudah lama menyatakan hal yang sama.

Dukungan kepada NU & Menag

Pada hari Selasa, 8 Januari 2008, Amir Nasional Jemaat Ahmadiyah Indonesia, Abdul Basyit, menemui Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi, di Kantor PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta. Ia meminta NU bisa mendesak pemerintah agar melindungi jamaahnya sebagaimana warga negara yang lain.

Disini saya sangat salut dengan sikap pak Hasyim yang tetap teguh dalam memegang prinsipnya.
Beliau menyatakan kembali bahwa Ahmadiyyah memang adalah agama tersendiri (”Saya juga bisa setuju ketidaksetujuan mereka (MUI)”).

Namun beliau mengingatkan bahwa tindakan main hakim jelas adalah suatu hal yang sangat salah.

Di akhir dialog, beliau menyatakan bahwa fatwa MUI tidak bisa dituding sebagai penyebab kekerasan terhadap pengikut Ahmadiyyah. “Yang memicu kekerasan adalah demokrasi yang tidak terbatas,” tandasnya.

Menteri Agama, Maftuh Basyuni, juga menunjukkan sikap yang sama. Kalau Ahmadiyyah ingin dianggap sebagai agama Islam,ya tentunya harus sesuai dengan ajaran agama Islam,seperti mengakui Nabi Muhammad saw sebagai Nabi yang terakhir. Kalau tidak ya juga tidak masalah, tinggal mendaftar saja sebagai agama yang baru.

Para pahlawan kesiangan

Pada berbagai kasus, selalu saja ada berbagai pahlawan kesiangan. Tidak terkecuali pula dalam kasus ini. Disini saya mencantumkan beberapa diantara mereka :

[ 1 ] Organisasi JAI & Abdul Basyit : Membelokkan inti masalahnya kemana-mana, termasuk menjadikan ini sebagai komoditas politik. Menyalahkan semua orang lain, kecuali dirinya sendiri.
Memanfaatkan jalur hukum untuk membenarkan kekeliruannya, mirip seperti modus operandi kelompok Scientology.

[ 2 ] Komnas HAM : Biasanya saya simpati & salut dengan kerja keras Komnas HAM melayani masyarakat. Namun dalam kasus ini, ada kemungkinan mereka mendapatkan informasi yang keliru.
Soal Ahmadiyyah bukan pelanggaran HAM (kecuali pada kasus-kasus main hakim sendiri), karena para penganut agama Ahmadiyyah tetap terjamin kebebasan beragamanya di dalam ajaran agama Islam.

[ 3 ] Dawam Rahardjo : menuduh bahwa ada pelanggaran keyakinan beragama dalam kasus Ahmadiyyah di Indonesia.

Kesal karena Menteri Agama menganggapnya keblinger, dia menuduh Menag memiliki pemahaman yang dangkal soal pluralisme.
“Dari semua Menteri Agama, dia yang paling dangkal (pengetahuannya soal pluralisme)”, ketus Dawam. Padahal Tarmizi Taher juga berpendapat sama.

[ 4 ] JIL, P2D, ICRP, P3M, dll : Bukannya membantu menyelesaikan masalah ini, mereka justru membuatnya menjadi semakin keruh dengan turut membelokkan pokok permasalahannya kemana-mana.

Tandas Ulil dengan suara meninggi, “Fatwa haram ini dengan sangat jelas mengancam kebebasan hak beribadah 200 ribu pengikut JAI di seluruh Indonesia dan bukan tidak mungkin fatwa itu akan mengulang peristiwa mihnah (inkuisisi) pada abad XV”.
Keliru mas, pertama MUI bukan mengeluarkan fatwa haram Ahmadiyyah, tapi fatwa bahwa agama Ahmadiyyah bukan agama Islam. Kedua, kebebasan beragama para penganut agama Ahmadiyyah tidak terancam. Ketiga, fatwa MUI akan menyebabkan inkuisisi ? Ini namanya provokasi FUD (fear, uncertainty, doubt).

Kesimpulan

Saran & masukan dari KH Hasyim Muzadi serta Menag saya kira sudah sangat baik,yaitu menganjurkan agar Amir JAI bisa membawa diri dengan baik, dan agar semua pihak bisa saling berdialog.
Mudah-mudahan kedamaian antara para penganut agama Ahmadiyyah & penganut agama Islam bisa segera tercapai di Indonesia, amin.

JIL, Ulil, dan Intelektualitas

December 6th, 2007

Bicara soal JIL bukanlah bicara soal intelektualitas. JIL belum sampai ke level tersebut.
Baru pada level fakta saja JIL sudah bermasalah.

Artikel berikut ini mengilustrasikannya dengan sangat gamblang.

Selamat membaca.

Yang Sembrono dari Ulil Abshar

Rabu, 05 Desember 2007

Tulisan saya di hidayatullah.com ditanggapi Ulil dengan judul “Amran
dan Beberapa Kekeliruan”. “Ayolah Ulil, tunjukkan di mana kebebasan
dan toleransi Barat?”

Oleh: Amran Nasution *

Ketika masih wartawan, saya menulis sebuah laporan utama sepulang
melakukan liputan di Filipina Selatan. Pak Amir Daud, Redaktur
Pelaksana waktu itu, 1981, memanggil saya ke mejanya. “Berapa usia
Anda?”, katanya. Tentu saya kaget. Untuk apa usia ditanya kalau
masalahnya ada pada tulisan. Tapi saya jawab melihat ia sangat serius.

“Kalau begitu Anda masih bisa berubah. Mulai sekarang, berubahlah,”
ujarnya. Lalu ia menunjuk kesalahan itu. Ternyata, saya sembarangan
meletakkan titik dan koma. Di mata Pak Amir, saya sembrono.

Ya, sembrono. Itulah yang saya lihat setelah membaca tulisan Ulil
Abshar-Abdalla dari Departmen of Near Eastern Languages and
Civilizations, Harvard University, yang dimuat di Milist ICRP juga
dimuat dalam kolomnya di situs Jaringan Islam Liberal (JIL), tanggal
30 November 2007. Ia menanggapi artikel saya, Dari Moshaddeg Sampai
Mount Carmel (www.hidayatullah.com, 23 dan 24 November 2007).

Ia mengabaikan begitu saja pendapat bahwa sanksi penistaan agama yang
terjadi di Eropa dan Amerika jauh lebih kejam dan lebih sektarian.
Tapi kesemboronon Ulil tak terbatas titik, koma. Ia malah berbuat
seenaknya dengan fakta, sesuatu yang di kalangan wartawan ditempatkan
pada posisi amat tinggi. Tentu juga mestinya di kalangan intelektual
semacam Ulil. Bagaimana mungkin dia membuat analisa yang benar, kalau
faktanya salah. Garbage in, garbage out. Yang masuk sampah, pasti
keluarnya sampah.

Berikut saya tunjukkan sampah itu.

Dia menyebut semua sekte, aliran, mazhab, dan keyakinan bisa
berkembang bebas di negeri Barat. Sebagai contoh ia tunjuk Mormon
yang salah satu pengikutnya, Mitt Romney, pernah menjadi gubernur dua
priode di negara bagian Massachusetts. Romney sekarang menjadi bakal
calon presiden dari Partai Republik.

Saya mulai dari garbage kecil ini. Adalah bohong kalau dikatakan
Romney (nama lengkapnya Willard Mitt Romney, 60 tahun) menjabat
gubernur dalam dua priode. Ia cuma satu priode Gubernur
Massachusetts, 2002 – 2006. Pada 1994, eksekutif sukses ini pernah
mencalonkan diri menjadi anggota Senat mewakili Partai Republik, tapi
dikalahkan Edward M.Kennedy (Partai Demokrat). Penyebab terpenting
kekalahannya, ya soal agama Mormonnya itu (lihat artikel Michael
Paulson, the Boston Globe, 9 November 2002).

Dalam pemilihan gubernur 2002 yang dimenangkannya, Romney menghadapi
Shannon O’Brien, seorang Katolik. Untuk diketahui Massachusetts cukup
heterogen, banyak etnik dan agama. Tapi mayoritas penduduknya Katolik
(44%), lalu Kristen 22%, sisanya Atheis, Yahudi, Buddha, Hindu,
Islam, dan Mormon.

Pada masa kampanye kali ini soal Mormonnya tak ditembaki lawan.
Masalahnya, lawan juga sedang grogi bila agama dibawa-bawa. Isu
penyelewengan seksual oknum pastor dengan anak altar sedang
menghangat waktu itu. Kemudian nama Romney lagi berkibar sebagai
penyelanggara Olimpiade Musim Dingin di Salt Lake City. Perhelatan
akbar itu nyaris gagal karena panitia dilanda berbagai skandal.
Romney muncul sebagai penyelamat.

Bagaimana peluangnya kini sebagai bakal calon Presiden Partai
Republik? Tipis sekali. Penyebabnya agamanya itu. Itulah sekarang
yang menjadi isu hangat di sekitar pencalonan Romney. Survei the Wall
Street Journal/NBC, awal November lalu, menunjukkan mayoritas
responden tak bisa menerima seorang Mormon menjadi Presiden Amerika
Serikat. Yang menyatakan bisa hanya 38% (the Washington Post, 28
November 2007). Nah, benar kan? Kalau masukan salah analisa salah
pula.

Sekarang mengancik ke soal sampah yang lebih serius. Kata Ulil,
Mormon bebas berkembang di Amerika. Dari mana cerita itu didapatnya?
Sejarah menunjukkan banyak darah berceceran di sekitar eksistensi
sekte yang resminya disebut the Church of Jesus Christ of Latter-Day
Saints.

Pencetus dan pemimpin pertama Mormon adalah Joseph Smith, lahir di
Vermont pada 1805. Smith mengaku bertemu langsung dengan Tuhan dan
Malaikat lalu mendapat petunjuk untuk menyebarkan ajarannya yang ia
peroleh dari tulisan di piring emas di pegunungan New York. Tulisan
ia terjemahkan selama berbulan-bulan dan menjadi kitab suci orang
Mormon, the Book of Mormon. Jadi Mormon agama yang lahir di Amerika.
Ajarannya mirip Kristen tapi mengharamkan arak, menghalalkan
poligami.

Tentu Joseph Smith dan pengikutnya tak bisa diterima masyarakat. Ia
dianggap menyebarkan ajaran aneh yang bid’ah. Konflik sering terjadi.
Mereka terlibat beberapa perkelahian dengan penduduk Missouri.
Akhirnya, pada 27 Oktober 1838, Gubernur Missouri, Lilburn Boggs,
mengeluarkan perintah memburu kaum Mormon yang disebut extermination
order (perintah pembasmian). Sekitar 2500 tentara menyerbu
perkampungan Mormon. Sejumlah pengikut Smith terbunuh, banyak wanita
diperkosa. Smith dan beberapa pendetanya ditangkap. Untuk diketahui,
extermination order itu berlaku 100 tahun lebih sampai dicabut oleh
Gubernur Missouri Christopher Bond di tahun 1976.

Sekian lama ditahan, akhirnya Smith dan kawan-kawan dibebaskan.
Mereka membangun perkampungan di tepi Sungai Missouri. Lama kelamaan
banyak orang baru bergabung sehingga jumlah jemaah bertambah besar.
Mereka kembali bentrok dengan masyarakat. Joseph Smith, adiknya Hyrum
Smith, dan dua pembantunya ditangkap. Pada pagi 27 Juni 1844, sekitar
200 massa mengepung penjara. Mereka bunuh Smith, adik, dan
pembantunya (lihat artikel Jay Lindsay di Associated Press, 28
Januari 2006).

Sejak itu pengikut Smith kocar-kacir sampai belakangan datang
pemimpin baru, Brigham Young, yang mengkonsolidasikan mereka. Dan itu
tak gampang. Hanya berkat kegigihan dan keuletan saja mereka bisa
bertahan. Di Massachusetts, misalnya, seperti ditulis Jay Lindsay,
baru di tahun 1960-an, Mormon bisa datang kembali.

Dengan kisah berdarah-darah ini –sudah ditulis di banyak buku–
bagaimana Ulil berani mengatakan semua sekte, aliran, mazhab, dan
keyakinan bisa berkembang bebas di negara Barat?

Apalagi, dengan gagah berani ia menulis: “Saat ini, di seluruh negeri
Eropa dan Amerika (juga Kanada dan Australia) nyaris `’mustahil”,
sekali lagi nyaris mustahil, kita jumpai kasus sebuah sekte
diberangus atau dirusak propertinya karena membawa ajaran yang
menyimpang.”

Rupanya, peristiwa 19 April 1993, ketika FBI meledakkan dan membakar
habis perkampungan Sekte Cabang David, mengakibatkan kematian David
Koresh dan 80-an pengikutnya di Mount Carmel, Waco, Texas, tak
dilihat Ulil sebagai perusakan properti sebuah sekte, aliran, atau
ajaran.

Ilmu sihir apa yang telah menutup mata Ulil sehingga tak mampu
melihat fakta itu? Guna melengkapinya di sini saya cuplikkan beberapa
peristiwa yang relevan, yang sempat saya kumpulkan:

The New York Times, 7 Maret 2004, menulis, pada hari Jumat, dua
masjid dibakar di Annecy dan Seynod (Francis). Tak ada korban jiwa.
Tapi peristiwa itu membuat marah kalangan Islam setempat karena tak
ada respons dari pemerintah. Itu sangat kontras dengan pembakaran
sebuah sekolah Yahudi, November sebelumnya. Ketika itu, hanya
beberapa jam kemudian, Menteri Dalam Negeri Nicolas Sarkozy, langsung
meninjau ke lapangan dan mengomentari peristiwa itu sebagai tindakan
rasis.

Esoknya, baru Kantor Presiden mengeluarkan siaran pers menanggapi
pembakaran masjid, mengatakan bahwa Presiden Chirac sangat terkejut
atas serangan dan dengan keras mengecam aksi yang menjijikkan itu.
The New York Times, 24 Desember 2004, memuat berita sebuah masjid
yang baru selesai dibangun di kota kecil Usingen, di barat laut
Frankfurt (Jerman), telah terbakar. Menurut polisi, pembakaran
dilakukan seseorang dengan sengaja. Pada bulan lalu, setelah terjadi
pembakaran masjid di Belanda, sebuah botol berisi minyak tanah
dilemparkan seseorang ke sebuah masjid di dekat Kota Sinsheim,
Jerman.

Fakta di atas, sekali lagi, terbatas yang sempat saya kumpulkan. Saya
tak tahu persis sudah berapa banyak Sinagog – belakangan Masjid –
yang dirusak selama ini di Eropa atau Amerika.

Di dalam buku A Brief History of Blaspemy (The Orwel Press, 1990),
Richard Webster menulis, kebencian orang Eropa kepada Yahudi yang
dikenal sebagai anti-semit, sesungguhnya punya akar yang dalam.
Sekadar contoh, tulis Webster, di dalam risalahnya, Of the Jews and
Their Lies, pelopor reformasi gereja Martin Luther menyatakan seluruh
orang Yahudi sebagai tamak dan rakus.

Tapi terutama setelah pembunuhan orang Yahudi oleh Nazi Jerman selama
Perang Dunia II, perlahan-lahan prasangka dan kebencian terhadap
orang Yahudi berpindah kepada orang Arab dan Islam. Jadi tak usah
heran kalau aksi perusakan Sinagog di Eropa kini pindah ke Masjid.

Karena itu pula orang Islam di Jerman, Inggris, Francis, Belanda, dan
sejumlah negara Eropa lainnya, bukan main sulit membangun masjid.
Saya punya segepok kliping koran yang menulis berita itu. Banyak
rencana membangun masjid sampai bertahun-tahun tak bisa terlaksana.
The New York Times, 6 Juli 2007, sampai menuliskannya di dalam
editorial soal sulitnya pembangunan masjid di Cologne, Jerman, dengan
judul, ”Celebrating, Not Hiding”.

Di Amerika juga sama. Kelompok Ahmadiyah berencana membangun masjid
dan pusat kebudayaan di atas tanah seluas 90 ha di kawasan terpencil
di Walkersville, Maryland, sampai sekarang tak kunjung berhasil.
Masyarakat setempat keberatan (The Washington Post, 23 Oktober 2007).
Ayolah Ulil, tunjukkan di mana kebebasan dan toleransi Barat yang
Anda cekokkan kepada teman-teman Anda selama ini? Mereka itu rasis
Ulil. Terlalu banyak fakta sejarah yang tak bisa dihapus: mulai
pemusnahan Indian, perbudakan orang hitam, pembunuhan dan pengusiran
orang China, sampai sekarang giliran orang Arab dan Islam.

Seolah terlihat hijau

Akhirnya, saya khawatir Ulil melihat Barat seperti melihat hutan dari
jauh: semua terlihat hijau royo-royo. Padahal bila didekati kelihatan
pohon yang sudah gundul terbakar, tebing yang longsor, pohon-pohon
tumbang ditebang penduduk untuk kayu bakar, atau sungai yang dicemari
bungkus plastik supermie dan puntung rokok.

Tapi yang paling mengagetkan saya pernyataan Ulil berikut.
Katanya, “Eropa belajar dari sejarah kelam itu hingga sekarang.
Hasilnya tentu bukan main: lahirnya negara sekuler yang melindungi
kebebasan beragama. Atau tepatnya melindungi agama dari intervensi
negara (versi Roger William), dan melindungi negara dari intervensi
agama (versi Thomas Jefferson). Kedua intervensi itu sangat buruk
akibatnya baik bagi agama atau negara sendiri.”

Padahal sudah beberapa tahun ini, setidaknya sejak peristiwa serangan
teroris terhadap menara kembar WTC di New York, 2001, tak sedikit
buku yang terbit, tak terhitung artikel ditulis, yang menyoroti
bagaimana Amerika Serikat tak lagi membatasi hubungan agama dengan
negara seperti yang digembar-gemborkan Ulil itu.

Saya tak ingin memperdebatkan baik-buruk, manfaat-mudharat, dari
terbaurnya hubungan itu. Seperti saya juga tak mau memperdebatkan di
sini konsistensi sikap Thomas Jefferson, nama yang dikutip Ulil. Ia
merancang Declaration of Independence yang begitu muluk bicara
tentang kebebasan, sementara ia sendiri memiliki ratusan budak. Malah
sampai meninggal dunia ia meninggalkan budak-budak yang diburu dari
Afrika sebagai harta warisan.

Jefferson rupanya gambaran dari negara yang diwariskannya: mengekspor
demokrasi ke mana-mana sembari membunuhi jutaan rakyat tak berdosa di
mana-mana. Mulai Vietnam, Laos, Korea, Iraq, Lebanon, Nikaragua,
Guatemala, Panama, dan banyak lagi. Inilah satu-satunya negara di
dunia yang tega membunuh lebih 200 ribu rakyat tak berdosa dengan bom
atom uranium di Nagasaki dan Hirosima. Picing mata pada pembangunan
arsenal nuklir Israel di Dimona, tapi mencak-mencak kepada nuklir
Iran.

Amerika kini merupakan satu-satunya negara besar di dunia yang
menolak meratifikasi Protokol Kyoto, karena para tokoh Kristen
Evangelical yang sangat berpengaruh di Partai Republik dan Gedung
Putih menganggap bukan karbon dioksida yang menyebabkan perubahan
iklim. Semua ditentukan oleh Yang Mahakuasa (Almighty).

Iraq diserang, Saddam Hussein ditumbangkan, karena ia dianggap
pengganti Nebuchadnezzar, Raja Babylonia yang memerangi Israel dan
merusak Jerusalem pada tahun 586 sebelum Masehi. Jadi senjata
pemusnah massal atau upaya demokratisasi hanyalah dalih.

Selanjutnya setahun setelah Baghdad dikuasai, koran the Los Angeles
Times melakukan survei dan menemukan 30 misionaris Evangelical di
kota itu yang menempel (embeded) pada tentara pendudukan Amerika.
Kyle Fisk, Kepala Administrasi the National Association of
Evangelicals, mengatakan kepada wartawan koran itu, ”Iraq akan
menjadi pusat penyebaran ajaran Jesus Kristus ke Iran, Libya, dan ke
seluruh Timur Tengah.” (the Los Angeles Times, 18 Maret 2004).

Pemberantasan penyakit Aids dengan cara pantang berhubungan seks
sembarang (abstinence), abortus diharamkan, begitu pula riset sel
tunas (stem-cell research), dan banyak lagi nilai-nilai Gereja
lainnya. Meski akhir tahun lalu, Partai Republik kalah dalam Pemilu
sela dan kehilangan suara mayoritas di Senat dan DPR, ternyata
Oktober lalu, DPR tetap menyetujui menaikkan anggaran program
abtinence dari 28 juta menjadi 200 juta dollar setahun. Kenapa?
Karena para tokoh Partai Demokrat pun keder pada kelompok Evangelical
yang diduga punya pengaruh atas sekitar 30% pemilih.

Pantaslah Bill Moyers, bekas wartawan televisi yang kini menjadi
aktivis Gereja Evangelical, ketika berbicara di Harvard Medical
School, 4 Desember 2004, berkata, “Untuk pertama kali dalam sejarah
kita, ideologi dan theologi memonopoli kekuasaan di Washington.”

Dimulai sejak zaman Presiden Reagan, tapi terutama pada dua priode
kepemimpinan Bush, pelan-pelan Amerika sudah mendekati negara
theokrasi dan Partai Republik merupakan partai Kristen pertama dalam
sejarah Amerika. Bacalah American Theocracy (Viking Penguin, 2006)
ditulis Kevin Phillips, penasehat politik utama Partai Republik di
zaman Nixon.

Fenomena itu cukup jelas diterangkan Profesor Samuel P.Huntington di
dalam Who Are We? America’s Great Debate (The Free Press, 2005). Saya
tak ingin mengulangi lagi cerita itu. Sudah saya tulis di
www.hdayatullah.com: An-Naim dan “Perang” Presiden Bush, 15 Agustus
2007, dan Hizbut Tahrir, Sekularisme dan Fenomena Global, 27 Agustus
2007. Cerita ini saja sudah terlalu panjang. [www.hidayatullah.com]

* Penulis adalah mantan Redaktur GATRA dan TEMPO. Kini, bergabung
dengan IPS (Institute for Policy Studies) Jakarta

Ref: http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&task=view&id=5919&Itemid=1

Ngadino, Pembersih Jamban yang Mampu Pergi Haji

November 29th, 2007

Saya telah ditampar, secara virtual, pada hari ini. Setelah membaca berita yang terlampir dibawah. Menentang semua logika & perkiraan, seorang pegawai negeri bagian kebersihan bisa pergi berangkat menunaikan ibadah haji.
Walaupun saya sudah naik haji, namun istri saya belum. Jadi masih ada “hutang” juga sebetulnya.

Mudah-mudahan saya bisa meniru teladan Pak Ngadiono ini dengan baik. Amin.

Republika - Kamis, 22 Nopember 2007
Ngadino, Pembersih Jamban yang Mampu Pergi Haji

Pekanbaru-RoL–Ngadiono (47) hanyalah seorang penjaga sekolah dasar yang menyambil sebagai pembersih jamban di sebuah pasar tradisional di Ujungbatu Kabupaten Rokan Hulu (Rohul), Riau. Tapi siapa yang menyangka petugas kebersihan ini mampu pergi haji? Sebab gaji sebagai penjaga sekolah dan upah membersihkan kakus tidaklah seberapa.

“Dia mampu karena niat dan keinginannya yang kuat,” ujar Kepala Dinas Pendidikan Rokan Hulu Hj Efie di Ujungbatu seperti dilaporkan Antara, Kamis. Saat melepas jamaah calon haji (JCH) di lingkungan Dinas Pendidikan Rokan Hulu, Efie tidak mampu membendung air matanya, ikut menangis bersama Ngadiono, ayah tiga anak itu. Ngadiono akan berangkat ke embarkasi Batam melalui lapangan udara Pasir Pengaraiyan pada 25 November bersama 346 JCH asal Rohul.

Warga transmigran yang gigih itu merupakan pegawai negeri sipil golongan 1C sebagai penjaga SDN 002 Kecamatan Ujungbatu sejak 1993. Gaji yang kecil dan tidak cukup untuk menghidupi keluarganya tidak mematahkan semangatnya untuk pergi ke Tanah Suci Mekkah untuk menunaikan ibadah haji, keinginan yang telah lama tertera di hatinya.

“Saban siang, sepulang dari sekolah saya membersihkan jamban di Pasar Ujungbatu. Bertahun-tahun pekerjaan ini saya jalani dan uangnya saya kumpulkan untuk haji. Insya Allah lusa saya berangkat,” katanya dengan mata berkaca-kaca. (pur)

ISNET, Starbucks, dan Kekuatan Brand

October 31st, 2007

Tadi malam saya meeting dengan beberapa kawan-kawan ISNET seputar revitalisasi organisasi yang termasuk paling senior di Internet ini (ISNET sudah exist di Internet sejak tahun 1989). Kami berkumpul di The Financial Club (Graha Niaga), setelah pak Budi Rahardjo selesai memberikan presentasi di acara BoykeMinarno.com.

Ada beberapa kawan-kawan ISNET lainnya seperti pak Laurel, mas Pungkas, mas Sindhu, dan mas Deden. Diskusi berlangsung cukup panjang, dan kami cukup sepakat bahwa pondasi Isnet ada pada infrastruktur IT nya, jadi ini yang musti dibenahi terlebih dahulu. Berikut juga perlu dibuat proposal untuk sustainability & pengembangannya di masa depan. Kemudian saya kebagian tugas untuk memformulasikan draft proposal tersebut, untuk kemudian dikirim ke para hadirin meeting & di matangkan lebih lanjut.
Acara berlangsung sampai sekitar pukul 23:30, sebelum kemudian kami pamit ke rumah masing-masing.

Sekitar pukul 01:00 saya iseng-iseng membuka Planet Terasi, lha ternyata pak Budi sudah nge-blog duluan soal pertemuan tersebut :) bapak yang satu ini memang luar biasa semangat bloggingnya. Salut !

Saya tidur sekitar pukul 02:00, bangun sekitar pukul 04:00, lalu setelah selesai berbenah kemudian berangkat ke lokasi client di Cikini. Meetingnya pukul 10:00, tapi saya sengaja berangkat lebih awal, supaya bisa bekerja dulu di lokasi; di parkir mobil dengan memanfaatkan adaptor universal yang ditancapkan ke colokan pemantik rokok di mobil.
Di perjalanan saya baru sadar, lho kok adaptornya tidak ada di mobil ? Ternyata, adaptor tersebut ditaruh di rumah oleh istri. Maka kemudian saya membelokkan arah mobil ke Starbucks (summoning spell : Koen.co.ro) 24 jam di Sarinah, dan mulai membuka laptop saya disitu.

Saya jadi teringat pertanyaan retorik pak Laurel pada pertemuan Isnet tadi malam.
Kok Starbucks bisa charge kopinya, yang made in Indonesia, seharga Rp 50.000; sedangkan warung kopi ibu beliau, yang sama-sama di Indonesia, cuma mengenakan Rp 5000 untuk beberapa orang ?

Ada beberapa faktor yang saling berkaitan dalam hal ini.

Pertama, lokasi.
Hampir bisa dipastikan bahwa semua outlet Starbucks berada di lokasi yang strategis & mudah dijangkau. Lokasi adalah salah satu faktor paling penting dalam bisnis.

Kedua, visibility.
Ketika banyak warung kopi lainnya menampilkan papan nama yang kecil & tersembunyi, Starbucks (dan brand-brand lainnya) menampilkan logonya dengan ukuran raksasa & sevulgar mungkin.
Jika kebanyakan customer anda adalah pengendara / mobile, yang akan melintas dengan kecepatan sekitar 10 meter per detik, hanya ada waktu sepersekian detik bagi ybs untuk melihat papan nama usaha Anda. Make that count.
The big brands ini selalu berani menginvestasikan banyak uang agar menjadi visible, dengan hasil yang juga sudah bisa kita tebak.
Brand yang visible juga jadi memperbesar kemungkinan mereka untuk diingat customer ketika customer sedang memikirkan layanan yang mereka butuhkan tsb.

Dari 2 ini saja, seringkali sudah cukup untuk menjamin kesuksesan bisnis.
Sebagai contoh, saya pribadi lebih senang makan klenger / blenger burger daripada McDonald / KFC / dll. Burger McDonald terus terang tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan blenger burger.
Namun, karena mereka sering bermasalah pada 2 poin di atas, sehingga akhirnya seringkali lagi-lagi kami sekeluarga nyangkut lagi di big brands tsb.

Tapi, big brands tidak berhenti disitu saja. Ada segudang lagi trik di kantung mereka.

Seperti uniformity. Jika seseorang menyebutkan / saya memikirkan brand Starbucks, maka saya tahu bahwa saya akan menemukan :

1. Lokasi yang nyaman & representatif untuk meeting dengan client
2. Bebas asap rokok
3. Staf yang ramah
4. Kopi yang mahal (ha ha)
5. Colokan listrik untuk laptop & HP saya.
6. Air conditioned
7. Dll

Kepastian pada gilirannya memberikan kenyamanan. Bahkan kalaupun produk yang ditawarkan sebenarnya inferior dari kompetitornya - karena kita sudah tahu akan menemukan produk yang inferior tersebut, maka jadinya sudah menurunkan ekspektasi kita sendiri sebelum tiba di lokasi ;)

Jadi, kapan kiranya saya bisa mulai meeting di salah satu franchise Setarbak Kopi, dan tidak lagi di Starbucks ?
Hayo, jangan mau kalah dengan para big brands ini. Mari …

JIL tertangkap basah (lagi)

October 31st, 2007

Satu lagi aktivis JIL (Jaringan Islam Liberal) yang tertangkap basah menjalankan modus operandi kelompok ini :
taqlid buta terhadap sumber-sumber yang sejalan dengan nafsu mereka, dan serang yang bertentangan.

Mohamad Guntur Romli pada tanggal 1 September 2007 menulis sebuah artikel di Kompas, yang secara ringkas mengesankan bahwa Nabi Muhammad saw sangat banyak dipengaruhi oleh komunitas Kristen di Arab pada saat itu.

Ini sangat berbeda dengan berbagai sirah yang masyhur dan jelas periwayatannya, dan dengan implikasi yang juga bisa fatal; seperti memperkuat klaim para orientalis & umat nasrani tertentu bahwa Islam hanyalah sebuah aliran “sesat” / sempalan / sekte dari agama Kristen.

Pada klarifikasinya mengenai artikel tersebut, Guntur juga menafikan adanya mukjizat Nabi. (Bagi saya kisah-kisah mukjizat Nabi yang misalnya dadanya dibelah tidak bisa dipahami secara harfiyah, namun secara majaziyah (metaforis)).

Inilah salah satu lagi contoh bahaya dari su’ul ulama (ulama / orang berilmu yang jahat), yang telah diperingatkan oleh Nabi Muhammad saw sendiri.

Artikel tersebut kemudian dibedah dengan baik oleh Qosim Nursheha Dzulhadi.
Terlihat jelas bagaimana gigihnya Guntur menjalankan modus operandi JIL tersebut, sampai mau menggunakan referensi-referensi yang meragukan kebenarannya sekalipun.

Terlampir adalah artikel selengkapnya sebagai referensi.

“Muhammad SAW, Guntur Romli dan Pembajakan Sirah Nabi”
oleh: Qosim Nursheha Dzulhadi

Tulisan Mohammad Guntur Romli (Kompas, 1 September 2007) menarik untuk dicermati. Setelah membaca tulisannya yang lumayan panjang itu, penulis berkesimpulan bahwa Guntur ingin menyatakan bahwa Nabi Muhammad tumbuh dan ‘dibesarkan’ oleh milieu Kristen. Artinya, lingkungan dan kaum cerdik pandai Kristen punya andil yang cukup vital terhadap pribadi dan nubuwwah (kenabian) Nabi Muhammad SAW. Tentu saja tulisan tersebut ‘menarik’: perlu dicermati dan dikritisi.

Tentang Arca Maryam (Maria) dan Yesus di Ka‘bah

Mengutip Muhammad bin Abdillah al-Azraqi – dalam Akhbar Makkah – Guntur menyatakan bahwa terdapat “gambar dan arca Isa (Yesus) dan ibunya, Maryam (Maria) di Ka‘bah”. Benarkah demikian?

Sejarawan Muslim terkemuka, Ibnu Katsir (w. 774 H) membeberkan – dengan panjang lebar – situasi dan kondisi ketika Fathu Makkah dalam bukunya yang terkenal, al-Bidayah wa al-Nihayah. Beliau menyebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW memang melihat patung nabi Ibrahim as. dan Maryam (Maria) di Ka‘bah. Tapi, dia tidak menyebutkan adanya arca Isa (Yesus) di sana. Ketika melihat gambar keduanya, beliau berkata, “Dan mereka sudah mendengar bahwa malaikat tidak akan masuk ke dalam rumah (bait) yang di dalamnya terdapat gambar Ibrahim. Lalu bagaimana pula seandainya gambar ini memanah – mengundi nasib dengan anak panah.” (Ibnu Katsir, al-Bidayah wa al-Nihayah, 1998, 4: 698). Justru di sini Nabi SAW tidak setuju adanya patung kedua orang yang dimuliakan itu.

Kenapa saya mengutip Ibnu Katsir? Karena beberapa buku yang dikutip oleh Guntur masih diragukan validitasnya, seperti al-Halabi dan Ibnu Jarir al-Thabari. Buku sirah Ibnu Hisyam (w. 218 H) yang paling otentik pun tidak ada menyebutkan patung Maryam dan Isa (Yesus). Yang disebutkan hanya gambar para malaikat, nabi Ibrahim as. dan yang lainnya. Nabi SAW akhirnya marah dan mengatakan, “Mereka telah menjadikan ‘syaikh’ kita mengundi nasib dengan anak panah. Ibrahim tidak ada kaitannya dengan pengundian nasib seperti itu.” Lalu beliau membaca ayat, “Ibrahim itu bukan seorang Yahudi tidak pula Kristen, melainkan orang yang hanif (lurus) dan menyerahkan diri (muslim), tidak pula seorang yang musyrik (Ali Imran: 67).” Lalu beliau menyuruh agar seluruh gambar-gambar itu diubah (dihapus). (Ibnu Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyyah, tahqiq dan syarh: Musthafa al-Saqa, Ibrahim al-Abyari dan Abd al-Hafizh Syalabi, 1997, 4: 61).

Pendapat Ibnu Hisyam ini mengandung dua kemungkinan. Pertama, kata “yang lainnya” (ghairuhum), menunjukkan adanya ‘lukisan/gambar’ Maryam dan Isa (Yesus), bukan “arca” Maryam dan Yesus seperti pendapat yang di‘comot’ Guntur. Kedua, Nabi SAW tidak membiarkan gambar-gambar tersebut (para malaikat, nabi Ibrahim dan yang lainnya) menghiasi dinding Ka‘bah). Maka, gambar-gambar itu pun dihilangkan. Jadi, tidak benar jika arca – pendapat yang dikutip Guntur – tersebut baru hancur pada masa Yazid bin Muawiyah. Hal ini dikuatkan dengan fakta historis, bahwa pada masa Yazid ibn Muawiyah tidak pernah dibicarakan masalah penghancuran gambar-gambar (arca) tersebut.

Afirmasi Al-Qur’an

Al-Qur’an (Qs. Al-Ma’idah: 82), menurut Guntur, mengakui kedekatan orang Kristen dengan Muhammad. Tentu kita tidak menyangkal fakta historis ini, tapi ini perlu dilihat secara jeli dan ‘jurdil’, tidak asal afirmasi. Benar sekali bahwa Waraqah bin Naufal, kakak sepupu Khadijah sebagai orang Kristen, namun Kristen yang masih mengikuti millah Ibrahim yang hanif. Tapi, pengakuan Waraqah tentang kenabian Nabi SAW perlu dilihat dengan kritis. Setelah berbicara tentang sosok Jibril yang datang kepada Nabi SAW di Gua Hira’, Waraqah menyatakan: “Jika itu benar wahai Khadijah, berarti Muhammad adalah “Nabi umat ini”. Dan aku sudah tahu bahwa dia adalah seorang nabi yang ditunggu-tunggu (nabiyyun yuntazhar) oleh umat ini. Ini adalah masanya.” (Ibnu Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyyah, 1988, 1: 228).

Peristiwa “Gua Hira” itulah yang disebut oleh Waraqah sebagai “Namus” alias “rahasia” yang pernah turun kepada Musa. Lalu Waraqah berikrar: “Amboi, seandainya aku ketika itu – ketika Nabi SAW dimusuhi oleh kaumnya dan dikeluarkan dari Mekah – kuat (kokoh) dan hidup ketika kaummu mengeluarkanmu.” “Apakah mereka akan mengeluarkanku?” tanya Nabi SAW. “Ya, tidak ada seorang pun yang datang membawa seperti apa yang engkau bawa kecuali dimusuhi. Seandainya umurku sampai pada masamu itu, niscaya aku akan menolongmu sekuat tenagaku.” (Wa in yudrikuni yaumuka, anshuruka nashran mu’azzaran). (Ibnu Katsir, al-Bidayah wa al-Nihayah, 1998, 3: 6).

Di sini, Waraqah mengakui bahwa Nabi SAW adalah “nabi akhir zaman”: nabi umat ini. Jika Waraqah hidup pada masa risalah dan kenabian beliau, kemungkinan besar akan memeluk Islam.

Juga tidak benar jika Nabi SAW berjalan-jalan di pasar tujuannya adalah menyimak dan mengamati seluruh kegiatan pasar yang berfungsi pula sebagai “festival kebudayaan” (Qs. Al-Furqan: 7). Ini adalah pemahaman salah Guntur terhadap ayat. Padahal maksud ayat di atas adalah penjelasan tentang sifat kemanusiaan (basyariyyah) Rasul SAW. Karena orang-orang kafir menolak bahwa “seorang nabi” tidak selayaknya melakukan hal-hal seperti manusia biasa: mencari rizki di pasar-pasar. Oleh karena itu – dalam ayat tersebut – orang-orang kafir menyangkal: “Wa qalu: ‘Ma lihadza al-rasuli ya’kulu al-tha‘ama wa yamsyi fi al-aswaq…” (Kenapa rasul ini makan makanan dan berjalan-jalan di pasar (mengais rizki) di pasar-pasar….?) Apa yang dilakukan Guntur adalah “pembajakan makna dan subtansi ayat”, dan ini sangat tidak ilmiah dan tidak sepatutnya terjadi.

Guntur kemudian menyebutkan dua pusat kekristenan: Yaman dan Syam; yang menjadi tujuan niaga kafilah Quraisy. Yaman dikuasai oleh dinasti Habsyah (Etiopia) yang mengikuti aliran monopisit-koptik, sedangkan Syam diperintah oleh dinasti Ghassan yang mengikuti aliran monopisit-yakobis. Muhammad telah mengunjungi dua kawasan itu ketika masih remaja bersama kafilah pamannya, dan saat jadi buruh niaga Khadijah, demikian tulis Guntur. Yang ingin disampaikannya adalah: Muhammad telah terpengaruh oleh tradisi Kristen di kedua wilayah itu sejak dini.

Sejatinya, ketika Rasul SAW pergi – ketika berumur 12 tahun – ke Syam bersama pamannya, Abu Thalib, pendeta Buhaira justru menerangkan tentang tanda-tanda kenabian Rasul SAW. (Ibnu Katsir, al-Bidayah wa al-Nihayah, 1998, 2: 630). Buku-buku sirah tidak menyebutkan keterpengaruhan beliau dengan budaya (tradisi) Kristen yang ada di sana. Ibnu Hisyam sendiri menyebutkan Buhaira malah bertanya atas nama Lata dan ‘Uzza kepada Nabi SAW, kemudian beliau menolak kedua nama tuhan orang kafir Quraisy itu. Nabi sejak dini sudah membenci kedua sosok tuhan itu. Akhirnya Buhaira menuruti kata Nabi SAW dan mengganti nama Lata dan ‘Uzza dengan kata “Allah”. Setelah Nabi SAW menjawab pertanyaan Buhaira, terjadilah dialog yang cukup panjang antara dia dengan Abu Thalib: “Apa posisi anak ini bagimu?” “Dia anakku”, jawab sang paman. “Dia bukan anakmu, sepertinya bapak anak ini sudah tidak ada (wafat).” “Dia adalah anak saudaraku”, jelas Abu Thalib. “Apa yang terjadi atas ayahnya?” tanya Buhaira. Abu Thalib menjawab: “Ayahnya telah meninggal, ketika ibunya mengandung dia.” “Anda benar”, tegas Buhaira. “Bawa pulanglah anak saudaramu ke kampung halamannya. Hati-hatilah terhadap orang Yahudi. Sungguh, jika mereka melihatnya dan mengetahui apa yang aku ketahui, mereka akan bertindak tidak baik kepadanya. Akan terjadi peristiwa besar (sya’nun ‘azhim) kepada anak saudaramu ini. Cepatlah bawa dia pulang ke kampung halamannya”, perintah Buhaira. (Ibnu Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyyah, 1997, 1: 219-220). Jadi, tidak ada interaksi dan proses keterpengaruhan Nabi SAW oleh tradisi Kristen di Syam.

Peristiwa kedua adalah ketika Nabi SAW membawa dagangan Khadijah bersama Maisarah. Sesampainya di sana, beliau kemudian bersandar di bawah sebatang pohon dekat gereja seorang pendeta – namanya Nestor [Nestorius]. Kemudian pendeta itu bertanya kepada Maisarah: “Siapa orang yang berteduh di bawah pohon ini?” “Dia adalah seorang laki-laki dari suku Quraisy, keluarga pengurus ‘al-Haram’ (Ka‘bah)”, jawab Maisarah. “Tidak ada seorang pun yang datang berteduh di bawah pohon ini, kecuali dia (adalah) seorang nabi”, kata Nestorius. (Ibnu Hisyam, ibid: 1: 225). Di sini pun tidak ada proses interaksi yang bisa dijadikan bukti kuat bahwa Nabi SAW terpengaruh oleh tradisi Kristen. Sedangkan ke Yaman, Nabi SAW tidak pernah dikabarkan pergi ke sana. Apalagi dikatakan bahwa beliau terpengaruh oleh tradisi Kristen yang ada di sana.

Beberapa Kritik

Pendapat Khalil Abdul Karim, penulis Marxis Mesir, yang dikutip oleh Guntur perlu dicermati dan dikritisi. Pasalnya, dia mengklaim bahwa Khalil membeberkan pendapatnya berdasarkan sumber-sumber sejarah primer, seperti al-Thabari, sirah Ibnu Ishaq, al-Ya‘qubi dan yang lainnya.

Khalil, kutip Guntur, dalam bukunya Fatrah al-Takwin fi Hayati al-Shadiq al-Amin (Periode Kreatif dalam Kehidupan Muhammad) menyatakan bahwa Khadijah adalah “arsitek” kenabian yang dibantu oleh “komunitas intelegensia Kristen”. Mereka adalah Waraqah bin Naufal, Qatilah, seorang rahibah, serta saudara sepupu mereka, Utsman bin al-Huwairits, yang mengikuti aliran Kekristenan Bizantium (Melkitis) hingga diangkat menjadi kardinal.

Khadijah memiliki dua budak Kristen: Nashih yang jauh-jauh hari meminta tuannya menikah dengan Muhammad, dan Maisarah yang bertugas mengamati Muhammad dalam perniagaan ke Syam. Selain dengan anggota keluarganya, Khadijah juga membangun korespondensi dengan beberapa pendeta: Adas di Thaif, Buhaira di Bushra, Syam, dan Sirgius di Mekkah. Itulah kutipan Guntur dari buku Khalil. Benarkah yang dikatakan oleh Khalil dan Guntur?!

Di sini Guntur tidak kritis dan tidak selektif dalam ‘mencomot’ pendapat Khalil. Waraqah, Utsman ibn al-Huwairits, Abdullah ibn Jahsy, Zaid ibn Amru ibn Nufail ibn Abd al-‘Uzza memprotes kebiasaan orang-orang Quraisy yang setiap tahun merayakan hari raya mereka di depan salah satu patung (berhala) mereka. Sebagian mereka berkata kepada yang lainnya: “Belajarlah, sungguh kaum kalian tidak memiliki pegangan apa-apa! Mereka telah menyalahai agama moyang mereka, Ibrahim! Apa itu batu yang mereka ukir; tidak dapat mendengar dan melihat, tidak mampu mendatangkan bahaya dan memberikan manfaat. Wahai kaum, carilah satu agama untuk kalian. Sungguh, kalian tidak memiliki satu pegangan. Lalu mereka berpencar di kota-kota besar untuk mencari agama yang lurus (al-hanifiyyah), agama Ibrahim. (Ibnu Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyyah, 1997, 1: 259-260). Fakta ini sangat menarik untuk diungkap.

Waraqah sendiri menjadi kuat kedudukannya dalam agama Kristen; Abdullah ibn Jahsy tetap dalam ketidakjelasan hingga masuk Islam dan hijrah bersama kaum Muslimin ke Habasyah beserta istrinya, Habibah binti Abi Sufyan. Ketika sampai di Habasyah, dia masuk Kristen; meninggalkan Islam dan mati dalam keadaan Kristen. Sedangkan Utsman ibn al-Huwairits, pergi mendatangi Kaisar, raja Romawi dan memeluk Kristen, sehingga mendapat kedudukan yang baik di Romawi. Dan Zaid ibn Amru memilih ‘tawaqquf’: tidak memeluk Yahudi juga – tidak memeluk – Kristen. (ibid: 260 & 261). Jadi, orang-orang yang disebutkan oleh Khalil pada awalnya tidak punya agama yang tetap, justru mereka sepakat untuk mencari ‘Hanifiyyah Ibrahim’. Dan tidak pernah disebutkan bahwa mereka mempengaruhi keyakinan (akidah), ritual ibadah dan tradisi agama Nabi SAW. Malah Khadijah akhirnya membenarkan wahyu yang turun kepada beliau, dan memeluk Islam. Lalu mengapa pendapat Khalil harus kontradiktif dengan pendapat Ibnu Hisyam dalam sirah, yang merupakan ‘revisi’ atas karya Ibnu Ishaq ini?!

Perlu dicatat, bahwa Tarikh al-Thabari meskipun merupakan karya yang “sarat nilai” kemungkinan banyak menampilkan riwayat-riwayat yang diragukan dan banyak memuat dokumen-dokumen yang tidak valid (watsa’iq ghair watsiqah) (Muhammad Hamidullah, Majmu‘ah al-Watsa’iq al-Siyasiyyah li al-‘Ahd al-Nabawiy wa al-Khilafah al-Rasyidah, Beirut, cet. VII, 2001: 29).

Hamidullah sendiri mengakui bahwa buku al-“Kharraj” karya Abu Yusuf dan “al-Sirah al-Nabawiyyah” karya Ibnu Hisyam merupakan dua karya yang paling awal, paling hati-hati dan paling otentik. Karena al-Thabari, menurut Prof. Dr. Akram Dhiyauddin Umari, sering menyebut suatu peristiwa yang diriwayatkan oleh perawi yang sangat lemah sekalipun, seperti Hisyam ibn Kalbi, Saif ibn Umar al-Tamimi, Nasr ibn Mazahim, dan lainnya. (Prof. Dr. Akrham Dhiyauddin Umari, Madinan Society at the Time of the Prophet: Its Characteristics and Organization (Masyarakat Madani: Tinjauan Historis Kehidupan Zaman Nabi), Terjemah: Mun’im A. Sirriy, GIP, 1999: 37).

Oleh karena itu, usaha Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wa al-Nihayah merupakan usaha yang sangat selektif dalam mengurai peristiwa sejarah, dibanding al-Thabari. Karya Ibnu Katsir ini, menurut Umari, merupakan satu karya agung dalam bidang sejarah dan memuat bagian tertentu yang secara khusus membahas sirah. Ibnu Katsir merupakan salah seorang imam besar yang dengan cermat meneliti teks-teks. Al-Dzahabi, Ibnu Hajar dan Ibnu Imad al-Hanbali menganggapnya sebagai ulama yang dapat dipercaya. (ibid: 58). Tapi buku ini sama sekali sekali tidak dirujuk oleh Khalil, konon lagi Guntur.

Guntur lebih suka ‘mengekor’ kepada Khalil, yang mencomot riwayat dari al-Sirah al-Halabiyyah karya Burhanuddin al-Halabi (w. 841 H). Padahal buku ini banyak memuat kisah-kisah isra’iliyyat. Burhanuddin al-Halabi tidak menyebut isnad riwayat-riwayat, dan hanya sesekali menyebut perawi akhbar. (Umari, ibid: 58-59). Buku Ansab al-Asyraf karya Ahmad ibn Yahya ibn Jabir al-Baladhuri (w. 279 H), yang dikutip Guntur, dianggap lemah oleh para ulama hadits (dha‘if). Ibnu Hajar (dalam karyanya, Lisan al-Mizan) menulis biografinya dalam bukunya tentang dhu‘afa’ ‘orang-orang lemah’. (Umari, ibid: 57).

Hal penting yang harus digarisbawahi juga adalah masalah “korespondensi” Khadijah dengan para pendeta yang disebutkan oleh Khalil dan di‘taklid’ oleh Guntur. Buku-buku sirah tidak membeberkan masalah ini. Apalagi dikatakan bahwa Khadijah berkorespondensi dengan Adas – menurut Guntur seorang pendeta. Adas adalah seorang Kristen dari Ninawi sekaligus “budak” dua orang anak Rabi‘ah: ‘Utbah dan Syaibah. Ketika Nabi SAW menjelaskan bahwa nabi Yunus adalah saudaranya – dalam kenabian – Adas langsung mencium kepala beliau, kedua tangan dan kakinya. (Lihat lebih detail, Ibnu Katsir, al-Bidayah wa al-Nihayah, op. cit., 3: 147 & 148). Apa yang disebutkan oleh Guntur adalah sebaliknya. Sirgius juga bukan di Mekah tempatnya. Sirgius adalah nama lain dari Buhaira, seorang rahib Yahudi, seperti yang dituturkan oleh al-Suhayli dari al-Zuhri. Dan menurut al-Mas‘udi, dia adalah dari ‘Abd al-Qais. (ibid., 2: 691).

Maka, tidak benar pendapat Guntur bahwa ketika Nabi SAW mendapat wahyu pertama, Khadijah memiliki inisiatif mendatangi anggota kaum cerdik pandai ketika itu satu persatu, dimulai dari Waraqah dan Sirgius di Mekah, Adas di Thaif, hingga Buhaira di Syam. Apa yang disebutkan oleh Guntur adalah pembajakan fakta historis. Apalagi buku al-Halabiyah yang – banyak mengandung isra’iliyyat – dijadikan rujukan bahwa Khadijahlah yang menguji wahyu yang turun kepada Baginda Rasul SAW. Ini bukan saja disebut sebagai “pembodohan umat” tapi “penyelewengan” yang tidak ilmiah, tidak bisa dipertanggung-jawabkan dan tidak dapat dibenarkan.

Wallahu a‘lamu bi al-shawab. (Medan, 6 September 2007).

*) Penulis adalah alumnus Universitas Al-Azhar, Kairo. Penulis juga peminat studi Qur’an-Hadits dan Kristologi. Sekarang menjadi staf pengajar di Pondok Pesantren Ar-Raudhatul Hasanah, Medan-Sumatera Utara.

Artikel pemicu kontroversi :

Muhammad dan Kaum Cerdik Pandai Kristen

MOHAMAD GUNTUR ROMLI

Kepribadian dan pengetahuan Muhammad dibentuk oleh lingkungannya. Leluhurnya dikenal menaati prosedur dan ajaran kenabian. Salah satu lingkungannya adalah kaum cerdik pandai Kristen.

Jauh sebelum kenabian Muhammad telah ada anasir-anasir kenabian dan ketauhidan (monoteisme) yang merujuk pada peran dua komunitas teologis di Mekkah, yang warganya dikenal sebagai penyembah berhala. Yang pertama ialah pengikut al-hanîfiyah yang mendaku sebagai ahli waris ajaran Ibrahim. Abdul Muthalib yang adalah kakek Muhammad dan ketua Bani Hasyim merupakan tokoh terpenting dalam aliran ini. Tercatat pula nama Zaid bin Amru, paman Umar bin Khathab, yang memiliki syair-syair kepasrahan. Salah satu baitnya, aslamtu wajhi liman uslimat, lahu al-ardlu tahmilu shakhran tsiqâla, ’aku pasrahkan diriku pada Dia, seperti kepasrahan bumi yang membawa batu karang yang berat’.

Yang kedua adalah komunitas Ahli Kitab. Ini sebutan bagi pemeluk agama Yahudi dan Kristen. Orang Kristen di kalangan Islam disebut sebagai Nasrani yang dinisbatkan pada al-Nâshirah atau Nazaret, asal Isa al-Masih. Namun, bagi orang Kristen mayoritas, Nasrani di Jazirah Arab adalah sebuah sekte. Berbeda dengan bangsa Arab yang mandul dari kenabian, bangsa Yahudi subur dengan kenabian. Dua komunitas itu punya satu misi. Sama-sama memusuhi kaum pagan. Pada masa itu mereka tersebar luas di Jazirah Arab. Orang Yahudi bermukim di Yastrib (Madinah), orang Kristen menunjukkan pengaruhnya di Mekkah.

Menurut Al-Ya’qubî dalam Tarîkh: orang Quraisy yang memeluk Kristen dari Bani Asad antara lain adalah Utsman bin al-Huwairits dan Waraqah bin Naufal. Khadijah yang istri Muhammad berasal dari bani ini. Informasi yang lebih menarik datang dari Muhammad bin Abdillah al-Azraqi dalam Akhbâr Makkah (Kabar-kabar Mekkah), tentang gambar dan arca Isa (Yesus) bersama ibunya, Maryam (Maria), di Kabah. Ketika berhasil menaklukkan Mekkah dari pemeluk pagan, Muhammad membersihkan Kabah dari segala perupaan, kecuali Isa dan Maryam. Arca tersebut baru hancur bersama puing-puing Kabah akibat perang di era Yazid bin Muawiyah.

Mengakui

Alquran (al-Ma’idah: 82) menegaskan kedekatan orang Kristen dengan Muhammad yang berbeda dari orang Yahudi dan kaum pagan Mekkah yang bersikap memusuhi. Orang Kristen mencintai Muhammad dan pengikutnya “karena di antara mereka ada pendeta-pendeta (qissîsîn) dan rahib-rahib (ruhbân) dan mereka tidak menyombongkan diri”. Maksudnya, mereka mengakui kenabian Muhammad, tetapi tidak mengikutinya.

Yang terkenal adalah Waraqah bin Naufal, kakak sepupu Khadijah. Dia memberi kesaksian terhadap wahyu pertama yang diterima Muhammad dan disebut dalam riwayat al-Bukhari hadis nomor tiga sebagai “seorang yang memeluk Kristen pada zaman Jahiliah, menulis kitab dalam Ibrani, dan mampu menyalin dari Injil Ibrani”.

Kependetaan Waraqah ditegaskan Muhammad dalam Sîrah (biografi Muhammad) karya Ibn Ishaq (1999: 203): “Sungguh aku telah melihat Pendeta (Waraqah) berada di surga dengan memakai pakaian dari sutra.” Dalam versi riwayat lain hadis tadi adalah respons ketika nasib Waraqah di akhirat dipertanyakan karena tetap setia memeluk Kristen sampai akhir hayatnya meski ia menyaksikan kenabian Muhammad.

Para penyair Kristen dan al-hanîfiyah melantunkan syair-syair keagamaan mereka di pasar-pasar Mekkah, khususnya di Ukadz. Alquran (al-Furqan: 7) menyebut kebiasaan Muhammad menjelajahi pasar-pasar bukan bertujuan berbelanja, melainkan menyimak dan mengamati seluruh kegiatan pasar yang berfungsi pula sebagai “festival kebudayaan”.

Dua jilid karya Luis Syaikhu, Târîkh al-Nashrâniyah wa Adâbuhâ Bayna ’Arab al-Jâhiliyah (Sejarah dan Sastra Arab Kristen di Era Arab Jahiliah) terbitan Dar al-Masyriq, Lebanon, tahun 1989, menjelaskan peran nyata kaum cerdik pandai Kristen terhadap kebudayaan Arab. Syaikhu menyebut peran Umayyah bin Abdillah bin Abi Shalat, penyair Kristen era Jahiliah yang memiliki syair-syair keagamaan. Syair-syair Umayyah telah mengenalkan nama-nama lain Allah yang disebut al-asmâ’ al-husnâ (nama-nama terbaik). Demikian juga nama malaikat Jibril, Izrail, dan Israfil; tingkatan surga dan neraka; tujuh lapis langit dan bumi; asal-usul penciptaan alam; kisah Adam-Hawa dan dua anaknya; air bah Nuh; Yunus (Yunan) yang ditelan dan bisa hidup di perut ikan; serta kisah-kisah para nabi lainnya hingga kisah Ashabul Kahfi yang masyhur di kalangan orang suci Kristen sebagai les Sept Dormants (Tujuh Orang yang Tertidur) yang merujuk pada masa pertengahan abad ke-3 Masehi.

Demikian pula dua kawasan yang menjadi tujuan utama kafilah niaga Kabilah Quraisy: Yaman dan Syam. Keduanya merupakan pusat kekristenan. Yaman dikuasai oleh dinasti Kristen Habsyah (Etiopia) yang mengikuti aliran monofisit-koptik, sedangkan Syam diperintah oleh dinasti Ghassan yang mengikuti aliran monofisit-yakobis. Muhammad telah mengunjungi dua kawasan itu ketika masih remaja bersama kafilah pamannya, dan saat jadi buruh niaga Khadijah. Pusat kekristenan lain di al-Hira diperintah oleh dinasti Kristen Lakhm yang mengikuti aliran monofisit-nestorian.

Khadijah

Khadijah menurut informasi sejarah adalah istri Muhammad yang berasal dari keluarga Kristen di Mekkah (Bani Asad). Sumber sejarah Islam tak ada yang secara tegas menyebut agama Khadijah sebelum Islam. Namun, ada fakta menarik mengenai keteguhan Muhammad tetap setia monogami dan tidak menikah lagi, kecuali setelah Khadijah wafat. Monogami dan perceraian atas dasar kematian adalah tradisi kekristenan kuno yang berbeda dari tradisi poligami bangsa Arab.

Khadijah berjuluk al-Thâhirah (Perempuan Suci). Ini simbol teologis. Perempuan terhormat biasanya cukup disebut al-Syarîfah atau al-Karîmah. Perempuan suci dalam Kristen disebut santa. Diakah Santa Khadijah? Julukannya yang lain Sayyidah Nisâ’ Quraisy (Puan dari Seluruh Perempuan Quraish) yang memperlihatkan Khadijah sebagai “perempuan suci dan pilihan”.

Gelar dan pengakuan terhadap Khadijah ini bisa disamakan dengan pengakuan Alquran terhadap Santa Maria, Bunda Yesus, dalam Surat Ali Imran Ayat 42 yang menyatakannya sebagai “perempuan pilihan dan suci”.

Khadijah bisa dibilang “ibu” Muhammad karena perbedaan umur mereka yang terpaut 25 tahun. Dalam Ansâb al-Asyrâf (Nasab-nasab Orang Mulia) karya al-Baradzari, Muhammad menikah pada usia hampir 21 tahun—merujuk pula pada kebiasaan pemuda Arab waktu itu yang menikah pada umur 20 tahun—sedangkan Khadijah berusia 46 tahun. Menurut Bint Syathi’, penulis buku Nisâ’ al-Nabî (Istri-istri Nabi), peran Khadijah sebagai istri sekaligus ibu bagi Muhammad tak hanya bersumber dari perbedaan usia, tetapi juga tersebab Muhammad anak yatim piatu yang kehilangan kasih sayang ibunya.

Bagi Khalil Abdul Karim, penulis Fatrah Takwîn fi Hayâti al-Shâdiq al-Amîn (Periode Kreatif dalam Kehidupan Muhammad) terbitan Dar Mishr al-Mahrusah, Cairo, tahun 2004, Khadijah adalah “arsitek” kenabian yang dibantu oleh “komunitas inteligensia Kristen”. Mereka adalah Waraqah bin Naufal dan adiknya, Qatilah, seorang rahibah, serta saudara sepupu mereka, Ustman bin al-Huwairits, yang mengikuti aliran Kekristenan Bizantium (Melkitis) hingga diangkat menjadi kardinal. Khadijah memiliki dua budak Kristen: Nashih yang jauh- jauh hari meminta tuannya menikah dengan Muhammad, dan Maisarah yang bertugas mengamati Muhammad dalam perniagaan ke Syam. Selain dengan anggota keluarganya, Khadijah juga membangun korespondensi dengan beberapa pendeta: Adas di Taif, Buhaira di Bushra, Syam, dan Sirgius di Mekkah. Buku Khalil tadi merujuk pada sumber-sumber primer Sîrah Muhammad yang jarang disentuh, seperti Sîrah Ibn Ishaq, Ibn Sayyidi al-Nas, al-Halabiyah, al-Syamiyah, Târîkh al-Thabari, dan al-Ya’qubi.

Khadijah dan timnya telah mengamati Muhammad sejak lama. Dalam Sirah Ibn Katsir diriwayatkan Khadijah sudah dikabari oleh Nashih, budaknya, dan Pendeta Buhaira di Syam untuk menikah dengan Muhammad. Dikisahkan juga bahwa Qatilah telah menawarkan diri kepada Abdullah, ayah Muhammad, untuk dijadikan istri karena Abdullah memiliki “cahaya kenabian”. Buhaira telah melihat Muhammad dua kali sebelum penetapan kenabian. Informasi ini menunjukkan bahwa komunitas itu mengamati keluarga Muhammad secara saksama.

Khadijah mengangkat Muhammad sebagai buruhnya saat berusia 18 tahun agar bisa mengamatinya dari dekat. Sebelum menikah, Muhammad telah melakukan dua perjalanan niaga Khadijah ke Habsyah dan ke Syam. Niaga ke Habsyah hampir tidak disebut dalam versi umum biografi Muhammad, tetapi kisah itu dituturkan oleh sejarawan klasik, seperti al-Thabari, al-Suhayli, dan al-Maqrizi.

Sementara dalam perniagaan ke Syam, Khadijah perlu menyertakan seorang hambanya bernama Maisarah yang kenal baik dengan Pendeta Buhaira untuk mengamati gerak-gerik Muhammad, khususnya pertemuannya dengan Buhaira.

Setelah yakin bahwa Muhammad adalah sosok tepat dari beberapa pertimbangan (keluarganya yang menjalankan prosedur kenabian, nasihat-nasihat anggota komunitasnya, serta pengamatannya secara langsung), barulah Khadijah melamar Muhammad tak hanya sebagai suami, tetapi lebih itu dari sebab—dalam kata-kata Khadijah sendiri—”aku sangat ingin agar kamu (Muhammad) menjadi nabi bagi umatmu.”

Dalam proses pernikahan mereka, tampak kegembiraan Abu Thalib dan antusiasme Waraqah dari pembacaan khotbah nikah mewakili pihak keluarga Khadijah. Sedangkan wali Khadijah—bapaknya, al-Khuwailid atau pamannya, Amru—tidak terlalu antusias dengan pernikahan itu. Bagi mereka, Muhammad tetap dipandang sebagai anak yatim yang berasal dari keluarga miskin. Adapun Khadijah dan Waraqah memiliki tujuan lain dengan pernikahan itu.

Nubuat kenabian

Pernikahan Muhammad yang berasal dari keluarga al-hanîfiyah (Bani Hasyim) dengan Khadijah yang berasal dari keluarga Kristen (Bani Asad) adalah koalisi kelompok ketauhidan melawan kelompok pagan.

Dua komunitas tersebut telah membangun suasana-suasana kenabian. Nubuat kenabian dari jalur Abdul Muthalib telah dikabarkan jauh sebelum Muhammad lahir. Abdul Muthalib dengan sadar telah mempraktikkan kembali semacam prosedur-prosedur kenabian. Posisinya seperti Ibrahim yang memusuhi berhala dan menyembelih anaknya sebagai kurban bagi Allah. Abdul Muthalib telah menyerukan ajaran Ibrahim itu dan bernazar menyembelih putranya, Abdullah, ayah Muhammad.

Masa pernikahan hingga pewahyuan yang terentang kira-kira 20 tahun—Muhammad menerima wahyu berumur 40 tahun—adalah “tahun-tahun yang hilang” dari kehidupan Muhammad yang disebut oleh Khalil Abdul Karim sebagai fatrah al-takwîn (periode kreatif). Muhammad adalah seorang ummî (buta huruf), maka di masa-masa itulah Khadijah, Waraqah, dan kaum cerdik pandai Kristen memiliki andil dalam menyiapkan proses kenabian Muhammad. Di siang hari Muhammad menjelajahi pasar-pasar di Mekkah yang membuatnya mengetahui segala kisah dan perkembangan masyarakatnya. Di malam hari Muhammad akan menghabiskan waktu berbincang-bincang dengan Khadijah.

Adalah hal biasa bila Waraqah sering berkunjung untuk menceritakan hal-hal yang ia ketahui dari kitab-kitab yang ia salin. Kita bisa membayangkan betapa marak aktivitas-aktivitas dalam rumah Khadijah yang dipenuhi kaum intelektual yang memiliki ambisi kenabian itu.

Khadijah bersama Waraqah telah membimbing Muhammad menelusuri tangga-tangga spiritualitas hingga mencapai puncak kenabian. Perkembangan Muhammad diamati secara saksama oleh Khadijah, baik dengan mengantarnya ke Gua Hira untuk menyendiri—tradisi yang telah dilaksanakan pengikut al-hanîfiyah termasuk kakeknya, Abdul Muthalib—maupun ketika Muhammad mulai didatangi “suara- suara” yang mengaku sebagai utusan Tuhan. Khadijah-lah yang menguji kualitas “suara” itu apakah berasal dari malaikat atau setan. Menurut Sîrah al- Halabiyah, dalam menguji suara itu Khadijah di bawah bimbingan Waraqah, yang pakar masalah kenabian dan pewahyuan.

Tak hanya itu. Ketika Muhammad memperoleh wahyu pertama, Khadijah yang memiliki inisiatif mendatangi anggota kaum cerdik pandai itu satu per satu, dimulai dari Waraqah dan Sirgius di Mekkah, Adas di Thaif, hingga Buhaira di Syam. Tujuannya tak hanya meminta konfirmasi tentang kebenaran pewahyuan itu, tetapi juga mengumumkan bahwa seorang nabi telah datang.

Jadi, kita bisa melihat bahwa Muhammad bukanlah nabi yang datang dari dunia antah berantah. Kepribadian dan pengetahuannya telah dibentuk oleh lingkungannya. Leluhurnya dikenal menaati prosedur dan ajaran kenabian. Khadijah bersama komunitas memiliki pengaruh yang tak bisa disanggah. Kenabian dan pewahyuan itu adalah hasil dari eksperimentasi kolektif setelah melalui proses kreatif yang sangat panjang.

MOHAMAD GUNTUR ROMLI
Aktivis Jaringan Islam Liberal